Jalan pesisir barat lampung

Ada dua jalan menuju Krui, pertama dengan mengambil jalan utama yang akan tembus pada ibu kota Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Kedua, dengan menyusuri pesisir barat Lampung. Hampir setengah perjalanan berada di kawasan pantai. Kami memilih jalan yang kedua, dengan asumsi perjalanan lebih dekat dan medan tidak sesulit jalur pertama. Jalur kedua lebih landai dibanding dengan jalur pertama yang penuh dengan tikungan tajam.

Di sepanjang perjalanan pulang dari Krui menuju Bandar Lampung, ada satu hal yang membuat kami berhenti dan mencari tahu. Hal ini adalah kapal barang Full King Panama terdampar di Pantai Melasti. Awalnya sih gak percaya, masa’ sih kapal barang yang guedenya minta ampun bisa terdampar begitu saja. Eh.. ternyata benar. Kapal barang itu sudah teronggok selama 6 bulan lebih. Konon sudah ditarik dengan dua kapal agar kembali ke perairan dalam, namun usaha ini gagal karena rantai-rantai yang menariknya putus. Tidak ada harapan. Kapal Panama ini terdampar pas di bibir pantai. Jika kita berjalan menuju kapal, maka tubuh kita akan terendam sampai pinggang saja. Tapi bisa dipastikan kita tidak akan naik, karena kapal ini begitu tinggi dan besar. Yang bisa kita sentuh cuma bagian dasar dari kapal saja. Perlu tali yang dibentangkan dari bibir pantai menuju dek kapal sebagai jalur transportasi.

Ada dua versi cerita yang menjelaskan kenapa kapal ini bisa terhempas begitu jauhnya sampai ke bibir pantai padahal pantai ini bukan pelabuhan melainkan pantai yang landai. Pertama, kapal ini terhempas karena gelombang yang amat dasyat, menyeretnya saresize1mpai tepat di bibir pantai. Wow…. seberapa besar gelombang ini ya? Tapi jika gelombang besar ini benar adanya, seharusya gelombang juga menghempas rumah-rumah penduduk yang rata-rata terbuat dari kayu yang berada di pinggir pantai pula. Dari pengamatanku, semua rumah baik-baik saja. Atau karena kerusakan teknis sehingga kapal tidak bisa menahan gelombang yang datang. Cerita kedua adalah kapal ini adalah anugerah dari tuhan. Pantai ini bernama Pantai Melasti.

Hehehehehe…, bagiku nama pantai ini aneh, karena Melasti adalah nama upacara pembersihan di umat hindu dengan berdoa dan mengucapkan syukur pada sumber-sumber air. Air dipercaya sebagai simbol yang mampu membersihkan noda-noda dari tindak kejahatan, dan membersihkan jiwa manusia. Nah, di pantai ini dibangun pura untuk kegiatan-kegiatan seperti melasti ini. Mungkin kemudian pantai ini terkenal akibat aktvitas melasti umat hindu, sehingga orang latah menyebutnya sebagai Pantai Melasti. Pura ini tidak terlalu besar, kecil dan sederhana. Umat hindu yang ada di wilayah pantai ini sering berdoa bersama di pura ini. Hingga suatu saat tuhan memberikan anugerah dari doa-doa yang telah dipanjatkan, yaitu sebuah kapal barang raksasa bernama Panama (nama ini juga menunjukan darimana asal kapal ini. Wooww.. jauhnya). Emh… entah siapa yang menghembuskan cerita ini pada awalnya. Yang pasti lokasi terdamparnya kapal tepat berada di depan samping dari pura ini. Hehehehehe… orang-orang sekitar wilayah ini mengatakan, “hebat juga doa orang hindu ya.., bisa mendatangkan kapal. Besok-besok mau mendatangkan apa lagi?”. Hahahahahaha… cerita dan komentarnya sangat aneh.

Di sepanjang jalan yang berhimpitan dengan bibir pantai ini, dipenuhi dengan umat hindu. Aku tau karena di sepanjang jalan terdapat rumah-rumah yang didepannya ada sanggahnya (pura keluarga). Ada yang kaya (rumahnya bagus) dan ada juga yang miskin (rumahnya berdinding kayu berlantai tanah dengan luas rata-rata 5 m x 5 m. kecil). Kalo yang kaya, sanggahnya pun megah, penuh warna, kuning, merah, hitam, kuning emas, dll. Dari jarak 500 meter sudah tampak oleh mata karena saking mencoloknya. Mungkin warna mencolok dipilih agar mudah dipindai dari atas sehingga para dewa yang turun ke bumi bisa langsung mendarat dengan tepat (hehehehehe, saya umat hindu juga, gak pa2 kan saya mengkritik agama sendiri, bukan rasis lho :D).

Yang masuk kategori keluarga miskin juga seperti itu, mereka membangun sanggah dari semen dan tampak rapi. Dibandingkan dengan rumah mereka, lebih rapi dan bersih sanggah mereka. Namun ada pula yang membangun sanggah seadaanya, disesuaikan dengan kemampuannya, yaitu sanggah yang dibuat dari kayu dan bambu seadanya. Asal rapi dan bersih, enak juga untuk dilihat (dan saya pikir juga nyaman untuk sembahyang). Aku secara pribadi lebih respek pada beberapa rumah yang membangun sanggahnya dengan cara seperti ini. Walaupun pasti ada yang mencomooh, buat “seseorang yang dicintai (baca: tuhan) koq cuma dikasi seperti itu? Malu dong”. Hehehehe.. bukannya tuhan telah memiliki rumah yang terindah dari seluruh keindahan dan tuhan berada di hati (dalam wujudnya Jiwatman) bukan di pura, sanggah, atau apapun namanya. Jadi dibuat santai aja deh :).

About these ads

5 thoughts on “Jalan pesisir barat lampung

  1. wah iya, masak manusia mau bikinin rumah buat tuhan, nggak salah tuh?
    lha yg bikin bumi dan segalanya kan sudah dirinya, hehehe
    yah, yang penting ada “rumah” untuknya di hati kita masing2 deh.
    kayaknya itu temoat yg paling layak deh
    *wedew..sok2an*

  2. ya gitu deh… Makanya di semua agama sering ada istilah “rumah tuhan” yang merujuk pada Pura, Masjid, Gereja, dst…

  3. tumben ni skrg tulisannya ttg jalan2
    biasanya muter2 aja di hal2 khayali (opo tho :p)
    sip..sip… jd nggak terlalu imajiner lagi :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s