Beras: Isu Usang yang Berulang

Tahun-tahun ini ternyata kita harus sadar bahwa kita dihantui bencana. Variasi bencana sangatlah beragam, mulai dari tsunami, gempa, banjir, tanah longsor, kecelakaan transportasi, gunung meletus, bom, SARS, flu burung, dan yang terakhir bencana beras. Siapa sangka beras akan menjadi bencana bagi kehidupan manusia (khususnya di Indonesia). Beras tidak lagi benda yang berfungsi untuk dimakan, namun beras juga memiliki “power” yang lebih luas.

Seiring banyak keributan tentang global warming, baik yang terjadi di dunia intelektual, politik, industri, sampai obrolan di warung kopi yang mengeluhkan semakin tingginya suhu udara, maka saat itulah persoalan beras semakin menjerat. Kenapa? Karena permasalahan beras berkaitan dengan perubahan cuaca. Sayangnya, dari tahun ke tahun cuaca semakin memburuk, contoh kecilnya hujan yang turun semakin “tersendat-sendat”. Maka, jutaan kepala petani pun pusing dibuatnya. Tren yang ditunjukan belakangan ini semakin parah. Implikasi yang ditimbulkan akibat perubahan cuaca semakin berdampak pada dimensi yang lebih luas, hampir merambah semua kalangan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Jika sebelumnya, permasalahan defisit stok beras, impor beras, gagal panen, kekeringan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan beras menjadi headline di media-media seputaran bulan oktober sampai desember yang diakibatkan oleh musim kemarau pada bulan-bulan sebelumnya, maka pada tahun ini kemarau yang lebih panjang menyebabkan berita-berita tentang beras masih tetap hot sampai februari, bahkan mungkin lebih.

Selain masalah cuaca, permasalahan stok beras di Indonesia juga dipengaruhi oleh degradasi lahan yang diakibatkan oleh penggunaan bahan-bahan kimia sintetis. Adanya penurunan kualitas lahan mempengaruhi tingkat produktivitas pertanian. “Solusi” yang sering dianjurkan adalah memasok bahan-bahan kimia sintetis lebih banyak lagi untuk menjaga produktivitas. Sedangkan harga-harga bahan kimia sintetis buatan pabrik tersebut harganya sangat mahal, sehingga berimplikasi pada keterjepitan petani karena tidak mampu membeli bahan-bahan kimia yang dibutuhkan dan di sisi lain juga tidak mampu meningkatkan atau mempertahankan produktivitasnya.

Pada tahun 80-an, jika dapat dikatakan angin segar untuk dunia pertanian Indonesia, banyak digembor-gemborkan swasembada pangan oleh pemerintah orba, itu pun hanya “angin lalu” saja karena terjadi dalam tenggang waktu yang sangat singkat. Waktu yang singkat ini ditunjukan setelah tahun-tahun “kejayaan” surplus beras, sedikit demi sedikit mengalami penurunan produktivitas. Dan jika kita perhatikan dengan seksama, bukan dengan tolak ukur jumlah produksi, melainkan dari tolak ukur kesejahteraan petani. Maka dapat dikatakan bahwa jumlah produksi yang naik sesaat itu tidak juga secara signifikan mendongkrak perekonomian para petani yang sebenarnya substansi permasalahan.

Jika ditelisik lebih jauh lagi, permasalahan stok beras juga sangat berkaitan dengan luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, dan modal yang dimiliki. Suatu permasalahan yang kompleks yang sempat memukau ketika dibahas oleh Cliford Geertz lewat bukunya Involusi Pertanian. Geertz mengungkapkan bahwa pertanian di Indonesia telah mengalami fase stagnan, bahkan lebih parah lagi disebut dengan involusi. Istilah tersebut mengindikasikan bahwa luas lahan yang sempit, dengan modal yang rendah, teknologi seadanya, dan dikerjakan oleh banyak tenaga, telah dijadikan gantungan hidup bagi banyak orang dalam satu keluarga. Dari tahun ke tahun, luas lahan tidak pernah bertambah malahan terus menyempit, karena terus dibagi-bagi (sebagai warisan). Produktivitas pun menurun seiring terjadinya degradasi lahan. Gambaran-gambaran pedih tersebut menghantui gelapnya wajah pertanian Indonesia.

Kemudian apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan pangan (baca: stok beras) ini? Pemerintah telah melakukan impor beras jutaan ton untuk menjaga stok beras yang ada. Pemerintah berasumsi bahwa kebutuhan pangan bisa terpenuhi sehingga permasalahan beras, yang sebenarnya permasalahan pertanian, bisa dikatakan selesai. Banyak pihak yang mengatakan manuver ini bisa berbalik arah menikam pertanian Indonesia, karena menghancurkan pasar yang diciptakan oleh produsen lokal. Ada juga yang mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan langkah yang instan karena tidak akan menyelesaikan permasalahan mendasar yaitu perbaikan untuk pertanian Indonesia. Hemat saya, langkah impor beras adalah langkah “tepat”. Defisit stok beras bisa memunculkan deligitimasi pemerintah di mata rakyat.

Di titik inilah beras memiliki “power” yang besar karena mampu mendorong terbentuknya imaji kolektif masyarakat tentang ketidakmampuan pemerintah dalam menangani masalah yang fundamental. Permasalahan beras menyangkut kebutuhan isi perut rakyat banyak. Jika perut kosong, maka otak pun ikut kosong. Kerusuhan sosial sangat mudah meletup. Dan jika terjadi, maka tidak banyak yang bisa dilakukan dan pemerintah pun kehilangan legitimasinya. Sekeras apapun teriakan untuk membendung impor beras, akan sangat sulit sekali hal tersebut diterima oleh pemerintah. Beras menyangkut kehidupan politik suatu negara, dan pada level inilah masalah beras menjadi isu yang sensitif. Beras atau pangan telah menjadi instrumen dalam politik.

Langkah yang lebih subtansial, yaitu perbaikan pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani dan bukan hanya peningkatan produktivitas jumlah panen semata, harus dilakukan untuk memutus rantai setan ini. Jika dipetakan dalam dua kutub yang berlawanan, perbaikan pertanian dapat digolongkan menjadi dua kutub. Kutub pertama, yaitu mengharapkan akan adanya revolusi hijau “kedua”. Seperti apakah? Jika revolusi hijau yang pertama telah berhasil memutus kasus kelaparan jutaan orang di dunia dengan teknologi rekayasa genetika yang menghasilkan bibit-bibit unggul, yang juga ditopang dengan penemuan pupuk dan pestisida kimia sintetis. Banyak pihak yang mulai sangsi dengan revolusi hijau ini, karena ternyata membawa dampak yang serius bagi perusakan lingkungan dan bagi kesehatan manusia. Cara ini ternyata tidak lagi mampu mendongkrak produksi pangan, setidaknya terjadi di Indonesia. Bahwa penurunan kualitas lahan akibat penggunaan bahan kimia berlebih menyebabkan turunnya produksi. Penurunan produksi jika dalam logika revolusi hijau ini harus disiasati dengan menambah lagi pupuk dan bahan-bahan kimia lainnya. Penambahan terus menerus seiring dengan harga bahan-bahan kimia olahan pabrik tersebut malahan mencekik petani. Peningkatan produksi terjadi, tapi apakah peningkatan kesejahteraan petani terjadi?

Pada kutub kedua, kembali pada pola pertanian “tradisional”. Banyak orang menyebut sebagai pertanian organik. Opini yang banyak berkembang di tengah masyarakat bahwa pertanian organik adalah pertanian yang menggunakan pupuk kompos dan pestisida non kimia sintetis. Anggapan seperti ini sebenarnya salah kaprah, karena kompos dan pestisida non kimia sintetis hanyalah merupakan media saja, dan bukan spirit pertanian organik. Spirit pertanian organik adalah melestarikan dan mengoptimalkan siklus alam, tanpa banyak melakukan perusakan. Sebagian petani yang melakukan trobosan dengan mencoba cara ini, menghasilkan produksi yang tidak kalah baiknya dengan cara konvesional, gaya revolusi hijau. Jika ketakutan akan penurunan produksi pada permulaan menanam dengan pola ini, maka bisa dikatakan wajar saja terjadi karena merupakan proses perbaikan kondisi lahan yang rusak akibat penggunaan kimia yang berlebihan sebelumnya. Bila metode ini dikatakan akan merepotkan dan padat karya, maka tidak samasekali. Toh ada mekanisme gotong royong, sehingga tenaga kerja tidak perlu dikonversikan ke nominal uang, dan ada banyak tenaga menganggur di perdesaan. Bahan-bahan untuk pembuatan media seperti kompos dan pestisida tidak perlu membeli. Oleh sebab itu, jika dihitung selisih produksi dengan biaya produksinya maka akan didapatkan angka yang lebih tinggi dibanding dengan pertanian konvesional dengan bahan-bahan kimia yang mahal (biaya produksi tinggi).

Dikaitkan dengan permasalahan stok beras, dalam pertanian dikenal istilah subsistensi pertanian. He..he… saya kehilangan fokus tulisan. Tapi jika ada yang berminat untuk mendiskusikannya, saya akan lanjutkan J.

5 thoughts on “Beras: Isu Usang yang Berulang

  1. “MENATAP MASA DEPAN PERTANIAN INDONESIA DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN SERTA KEMAKMURAN PROFESI PETANI”

    Sejarah pertanian di Indonesia secara intensif telah dimulai kurang lebih semenjak tahun 1969 pada saat dimulainya program intesifikasi massal (INMAS) untuk petani sebagai dampak revolusi hijau di tingkat dunia. Pada saat tahun 1969 para petani mulai diperkenalkan dengan berbagai jenis pupuk buatan yang bersifat kimia disertai dengan obat-obatan pembasmi hama penyakit dan gulma (Pestisida dan Herbisida).
    Dari sektor pemumpukan dari penggunaan pupuk kimia atau yang lebih dikenal dengan anorganik disertai dengan paket-paket lainnya yang dikenal dengan nama Panca Usaha Tani mengakibatkan peningkatan produktivitas tanaman yang cukup tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya sehingga Indonesia dapat mencapaim swasembada pangan pada tahun 1986 dan mendapat penghargaan dari organisasi pangan dunia di PBB yaitu FAO.
    Namun peralihan dalam budaya bertani dari penggunaan pupuk organik (pupuk kandang, kompos, dll) ke penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu yang relatif panjang hingga saat ini telah menimbulkan dampak samping yaitu mengakibatkan tanah-tanah pertanian di Inonesia menjadi semakin keras sehingga menurunkan produktivitasnnya. Hal ini bukan dikarenakan hilangnya tanah lapisan atas (Top Soil) melainkan disebabkan oleh penumpukan sisa atau residu pupuk kumia dalam tanah yang mengakibatkan tanah menjadi sulit terurai. Hal ini disebabkan salah satu sifat bahan kimia adalah relatif sulit terurai atau hancur dibandingkan dengan bahan organik. Jika tanah semakin keras, maka akan mengakibatkan tanaman akan semakin sulit menyerap pupuk/unsur hara tanah dan untuk menghasilkan panen yang sama dengan hasil panen yang sebelumnya diperlukan dosis pupuk lebih tinggi. Hal inilah yang menyebabkan mengapa dosis pupuk semakin lama semakin tinggi. Selain itu dengan semakin kerasnya tanah, maka proses penyebaran akar dan aerasi (pernafasan) akar akan terganggu yang berakibat pertumbuhan dan kemampuan produksi tanaman akan semakin berkurang. Selain masalah pengerasan tanah akibat penggunaan pupuk kimia masalah yang patut di perhatikan di Indonesia adalah adanya indikasi proses pemiskinan atau pengurangan kandungan 10 jenis unsur hara meliputi sebagian unsur hara makro yaitu Ca, S dan Mg (3 unsur) serta unsur hara mikro yaitu Fe, Na, Zn, Cu, Mn, B dan CL (7 jenis unsur hara). Seperti yang diketahzui sazazt ini (Jornal ilmiazh soil science, 1998) dari sekian banyak unsur yang ada di alam, semua jenis tanaman membutuhkan mutlak (harus tersedia/tidak boleh tidak 13 macam unsur hara untuk keperluan proses pertumbuhan dan perkembangannya sering dikenal dengan nama unsur hara essensial. Unsur hara ini diperlukan dalam jumlah yang berbeda satu sama lain yang secara garis besar dibedakan menjadi unsur hara makro (6 jenis) yang dibutuhkan dalam jumlah lebih besar (unsur N,P,K,Ca,S dan Mg) dan unsur hara mikro (7jenis) yang dibutuhkan lebih sedikit (Unsur Fe,Na,Zn,Mn,B,Cu dan Cl). Walaupun berbeda dalam jumlah kebutuhannya namun dalam fungsi pada tanaman masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa mengalahkan atau menggantikan satu sama lainnya. Dalam hal ini masing-masing unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus tersendiri terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga jika terjadi kekurangan satu jenis unsur hara saja akan mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jadi ke 13 unsur hara tresebut jika pada manusia ibarat menu makan 4 sehat 5 sempurna yang masing-masing mempunyai peran sendiri-sendiri.

    Pertanian di Indonesia dewasa ini lebih ditekankan kepada intensifikasi lahan dan diversifikasi komoditas tanaman mengingat ekstensifikasi lahan sudah kecil kemungkinannya. Menyorot program intensifikasi lahan, pemerintah melalui Depatemen Pertanian dan dinas instansi terkait dengan segala daya upaya berusaha meningkatkan kemampuan produksi lahan pertanian melalui banyak cara, antara lain: pengadaan bibit unggul, penyediaan pupuk dan pestisida, pelatihan dan penyuluhan petani, dsb.

    Namun demikian banyak kendala masih kita hadapi diantaranya kecepatan daya adaptasi petani kita terhadap teknologi pertanian terbaru masih lemah. Tidak mudah untuk mengajak, mengarahkan dan meyakinkan mereka untuk menjalankan suatu teknik baru. Hal ini bisa dimaklumi mengingat latar belakang kebanyakan petani kita dan juga petani serba takut cara-cara baru yang dikampanyekan nantinya menemui kegagalan. Mereka tidak sanggup menanggung kerugian yang ditimbulkannya.

    Pandhu Subur Persada hadir untuk menawarkan sebuah solusi bagi para petani dan dunia pertanian secara luas melalui produk pupuk cair lengkap Super Power yang mampu mendongkrak potensi optimal tanaman apapun untuk berproduksi.

    Pandhu Subur Persada dengan bersungguh-sungguh ingin mendedikasikan produk ini bagi para petani di bumi persada Indonesia. Harapan dan semangat kami adalah segera terwujudnya kedaulatan pangan di negara kita tercinta ini sehingga tak banyak lagi rakyat yang kelaparan. Sekaligus mengangkat harkat dan kepercayaan diri para petani kita yang selama ini seakan-akan termarjinalkan secara status sosialnya.
    Pupuk Organik cair lengkap Super Power mengandung 13 macam unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman dan hingga 77 macam unsur lainnya yang tidak terdapat pada pupuk kimia, mengingat pupuk organik Super Power mdiformulasikan dari bahan-bahan dasar alami 100% organik terbaik sehingga aman bagi tanaman, ternak maupun manusia.
    Komposisi unsur-unsurnya diramu begitu cermat dan tepat sehingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan segala jenis tanaman didukung dengan petunjuk pemakaian yang ringkas dan aplikatif.
    Bau khas dari pupuk organik lengkap Super Power yang tiada duanya, kepekatan istimewa sebagai penanda kandungan yang kaya serta daya larut seketika menunjukkan kematangan dan kesempurnaan sebuah formula pupuk cair hasil karya tangan-tangan ahli putra bangsa yang sulit ditemukan bandingannya.

    9 Keunggulan Pupuk Organik Cair Lengkap “Super Power”

    1. Mampu memperbaiki kesuburan fisik tanah serta mampu memacu aktifitas mikroorganisme tanah melalui kandungan mikroba probiotik.
    2. Mampu menghancurkan residu pupuk kimia yang tersisa di dalam tanah karena mengandung asam humat dan asam vulvat dari golongan fulvena.
    3. Mempercepat pertumbuhan generatif tanaman serta mengurangi kerontokan bunga dan buah berkat kandungan hormon auxin, gibreriline dan citocynine.
    4. Mengandung polifenol konsentrasi tinggi sehingga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
    5. Mampu terserap dalam waktu cepat oleh tanaman karena unsur haranya sudah dalam bentuk ion.
    6. Merangsang pertumbuhan akar, memperkuat akar dan bantan serta mempercepat perkecambahan biji.
    7. Menyediakan semua kebutuhan unsur hara makro dan mikro lengkap bagi tanaman.
    8. Mengurangi jumlah penggunaan pupuk NPK kimia (Urea, SP-36, dan KCL) sebesar 25% s/d 50%.
    9. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman antara 15% s/d 100%, kualitas rasa, warna, aroma dan daya penyimpanan sekaligus memperpanjang masa produktif tanaman yang tidak habis satu kali panen.

    Kandungan Unsur Hara
    N ± 5% Zn ± 10,5 ppm
    P2O5 ± 1.4% Cu ± 14,8 ppm
    K2O ± 2.15% Mn ± 22,5 ppm
    Ca ± 0.75% B ± 10,1 ppm Mg ± 0.65% Cl ± 1,2 ppm
    Fe ± 187.6 ppm S ± 8,8 ppm
    Na ± 45.7 ppm

    Petunjuk Penggunaan
    Pupuk Organik Cair Lengkap Super Power

    Jenis Tanaman
    Tanaman pangan
    (padi, jagung, kedelai,dsb) interval waktu 7– 10 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Sayur-sayuran daun
    (sawi, kubis, selada, seledri, bayam, kangkung, kemangi, kailan, bawang pre, asparagus, dsb) interval waktu 5 – 7 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Sayur-sayuran dan buah
    (semangka, melon, cabe, tomat, kacang panjang, bawang, brokoli, ketimun, pare, dsb)interval waktu 7 – 10 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Tanaman perkebunan
    (mangga, jeruk, apel, durian, anggur, kopi, kakao, sawit, kapas, lada, pepaya, dsb) waktu aplikasi 1. Sebelum berbunga, 2. Saat buah muda, 3. Setelah pangkas
    interval waktu Tiap 2 – 3 bulan dengan dosis 5 tutup/tangki semprot

    Tebu 1 bulan
    2 bulan
    3 bulan 4 tutup/tangki semprot

    Tembakau interval waktu 7 – 10 hari sekali dengan dosis 3 tutup/tangki semprot

    Pembenihan/pembibitan 1 – 2 jam1 tutup/liter air rendam

    *Boleh disiramkan pada tanaman yang diperlukan atau tanaman yang tidak memungkinkan untuk disemprot

  2. boleh lah jualan di sini🙂.
    sepanjang masih sesuai dengan visi penulis :p
    *emang visinya apa ya, hehehehehe*

  3. yup, makanya sah-sah saja mempromosikan produk yang sesuai dengan “visi” penulis di blog ini. kgkgkgkgkgkg🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s