telak!

Membaca kembali karya-karya antroplogi tentang Indonesia (baca: jawa), seperti Lombard, Geertz, Hefner, Reid, dll, terkadang gambaran “obyektivitas” tentang jawa terpampang dengan jelas, bahkan vulgar. Seperti Lombard misalnya dalam master pieces-nya, Silang Budaya, yang mampu menggambarkan dengan spektakuler dari jaman kolonialisasi, masuknya islam, sampai kerajaan-kerajaan hindu-budha pra abad 15. Menarik sekali karena membedah dengan habis tentang jawa. Salut!

Tapi ketika ingat kembali substansi kita belajar sejarah (dari sudut antropologinya), maka pesan yang fenomenal dari proklamator kita, Soekarno, akan sedikit menjawab yaitu : “jangan lupakan sejarah!”. Maksudnya adalah berefleksi dari sejarah untuk meneropong masa depan. Pertanyaannya kemudian, apakah ini terjadi di sistem pendidikan di Indonesia? He.. he.. ini tema basi karena jawabannya pasti “Tidak!”. Karena sederetan hal negatif bisa ditemukan dengan mudah di negeri kita tercinta ini. Bahkan kita termasuk dalam kategori negative tersebut. Maka lupakan sejenak tentang ini.

Risalah yang kedua, jika kita coba bandingkan karya-karya antroplogi tersebut (karya orang-orang barat) dengan karya-karya antropologi yang dibuat orang-orang asli jawa yang manifestkan melalui tembang, kidung, folk story (yang kemudian disebut dengan karya sastra), maka hal yang berbeda dapat ditemui. Hal yang menarik dibandingkan adalah antara cara menggambarkan dan logika berpikir yang dibangun.

Tapi yang lebih menarik yang luput direkam oleh karya-karya antropologi barat tersebut adalah “substansi” mitos yang terbangun. Beberapa buku hasil interpretasi dari sastra-sastra jawa kuno ini, maaf saya lupa judul-judulnya dan pengarang-pengarannya, menyebutkan bahwa alam jawa (baca: jagad semesta) akan murka dan akan terjadi sungsang buwana (dunia yang berbalik). Pernyataan akan terjadinya kerusakan alam dimulai dari statement-statement yang mengutuk yang dimulai pada masa runtuhnya pemerintahan prabu brawijaya, raja majapahit terakhir. Pada masa ini terjadi intensitas kutukan yang tertinggi (menurut saya). Disebutkan bahwa 500 tahun lagi, dari masa itu (abad 14 – 15), akan muncul banyak kejadian yang akan menguncang jawa (sekali lagi baca: jagad). Maka jika dikalkulasikan pada abad 20 – 21 inilah yang dimaksud kutukan tersebut.

Dan jika dikait-kaitkan maka, perubahan-perubahan cuaca yang mengacaukan kehidupan manusia saat ini, dan munculnya gejala-gejala alam yang tidak bersahabat ini, maka muncul pertanyaan, Apakah kejadian-kejadian ini yang dimaksud?

Bagi sebagian orang percaya hal ini, dan sebaliknya, sebagian lagi menganggap keterkaitan tersebut hanya mitos. Bagaimana dengan anda?

Tapi yang menarik adalah pernyataan Pramodya Ananta Toer dalam karyanya Arok Dedes, bahwa “sejarah yang terjadi di jawa akan selalu berulang-ulang”. Maka ingat-ingatlah yang pernah terjadi di jawa, mungkin jadi sebuah refleksi yang paling menarik J. Bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s