Ketika awalan bertemu akhiran

Banyak kalimat klise yang berkata seperti ini: “hidup baru dimulai ketika lulus kuliah”. Ini sih bagi yang kuliah dan akan menghadapi wisuda. Saat selesai pendadaran, seolah masalah klimaks dalam hidup telah selesai. Perasaan lega muncul. Senyum pun merekah ketika mengenakan toga. Tapi setelah toga dilepas, sepatu hitam mengkilat dilepas dan jas digantung, atau kebaya dilepas, maka kalimat “hidup baru dimulai ketika lulus kuliah” terlepas dengan nada mendesah.

Peluh berceceran dan adrenalin meningkat seiring hunting pekerjaan dimulai. Jika nasib mujur, atau dengan sombong mengatakan karena telah memiliki kompetensi yang tinggi sehingga pantas mendapat pekerjaan yang bagus dan cepat, maka di saat itulah hidup berakhir. Bagaimana tidak, setiap hari secara rutin, mandi pagi, siap-siap bahan-bahan yang akan dibawa ke kantor, di kantor setiap hari melakukan aktivitas yang sama. Di akhir atau di awal bulan mendapat gaji. Membeli barang-barang kebutuhan selama sebulan, atau mengambil barang kreditan. Terus-menerus seperti ini, konstan, tanpa perubahan, sampai rambut menjadi putih, tubuh menjadi kendor, dan akhirnya mati.

Seolah baru saja mengatakan bahwa hidup baru dimulai, tapi setelah mencoba memulai saat itu pulalah hidup berakhir. Berakhir dengan kegiatan-kegiatan yang monoton, yang lambat laun membunuh kita.

Setelah bergelut susah payah dengan dunia pendidikan, waktu yang terbuang sangat banyak, kira-kira 17 tahun dari TK sampai S1, energi yang digunakan luar biasa, dan di akhir setelah mendapat gelar sarjana, baru dapat dikatakan hidup baru dimulai. Dalam sekejap mata, hidup juga berakhir ketika memasuki dunia kerja.

Sebenarnya, kapan hidup ini kita mulai dan kapan ini berakhir? Bukan, bukan dimulai saat kita lahir dan berakhir saat kita mati. Namun diantara lahir dan mati, kapan kita bisa disebut hidup?

Mungkin ini alasan saya, kenapa sampai saat ini belum mau mengakhiri status kemahasiswaan, supaya awal hidup tidak dengan mudah bertemu dengan akhir hidup.

Namun apapun itu, sebenarnya saya telah terjebak dalam akhir hidup dengan memilih bekerja di sebuah kantor, tanpa harus mengawali hidup dengan pendadaran.

Apapun itu, ini seperti kata teman saya, hanya hasil obrolan saya dengan tiga ikan di dalam kolam di tengah kantorku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s