Si Kancil dan Pak Kancil

Pernahkah anda mendengar cerita Si Kancil? Tentu pernah, cerita rakyat yang telah mengurat akar di kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya. Cerita ini adalah cerita yang sarat pesan moral. Akan tetapi bagaimana jika cerita Si Kancil ini dibalik? Peran antagonis dan protagonis ditukar. Masihkah menyimpan pesan moral? Judulnya menjadi “Pak Kancil”.

Pada suatu pagi yang sejuk, hamparan hasil alam melimpah ruah, menunjukan betapa kayanya alam ini. Terlihat Pak Kancil berteduh di bawah pohon nangka, melepas lelah. Tertidur lelap. Sementara itu, dibalik semak-semak, berpasang-pasang mata sedang mengawasi. Sekawanan manusia sedang merunduk bersembunyi. Sampai saat yang tepat, saat Pak Kancil mulai tertidur pulas, sekawanan manusia itu masuk ke ladang kancil, mencuri ketimun!

Cerita di atas coba kita bandingkan dengan prediksi Robert Malthus. Prediksinya bahwa pertumbuhan jumlah penduduk seperti deret hitung, sedangkan pertumbuhan jumlah produksi makanan seperti deret ukur. Pertumbuhan jumlah manusia yang sangat cepat tidak sebanding dengan produksi makanan. Produksi makanan tidak akan bisa memenuhi kebutuhan dari pertumbuhan jumlah manusia. Namun, prediksi ini ternyata tidak (lebih tepatnya; belum) terbukti. Manusia telah mampu mengembangkan teknologi dan pertambahan produksi pangan di bawah kungkungan kapitalisme. Teknologi yang dikembangkan tidak hanya mampu memecahkan permasalahan pangan, tapi juga dalam hal kesehatan. Kemampuan manusia untuk sementara memecahkan permasalahan-permasalahan ini melahirkan neo-malthusianisme.

Perkembangan teknologi untuk mendobrak kebuntuan produksi pangan yang rendah, ternyata berimplikasi pada banyak hal. Misalnya saja untuk mencapai jumlah produksi pangan, diperlukan perluasan wilayah pertanian (ekstensifikasi), ekplorasi dan ekstraksi sumberdaya alam yang berlebih yaitu hasil hutan, laut, kandungan mineral dalam perut bumi, dst. Setelah kebutuhan-kebutuhan, pangan dan kesehatan, terpenuhi maka jumlah pertumbuhan manusia dapat meningkat dengan pasti. Peningkatan jumlah pertumbuhan manusia ini ternyata menimbulkan kebutuhan baru, yaitu perumahan. Maka dibukalah lahan-lahan yang terus meluas untuk membuat perumahan yang nyaman. Setelah perumahan nyaman terpenuhi, maka muncul lagi kebutuhan-kebutuhan lainnya seiring meningkatanya jumlah manusia. Ini seperti lingkaran setan yang tanpa akhir.

Manusia dalam melakukan pemenuhan terhadap segala kebutuhannya, ternyata harus “mencuri”, seperti dalam cerita Pak Kancil di atas. Coba kita tengok kasus konflik gajah versus manusia yang sering terjadi di Riau, dan daerah Sumatera lainnya. Gajah-gajah—sebenarnya binatang-binatang lain juga berpotensi mengamuk, termasuk kancil, tapi mereka tidak mempunyai kekuatan seperti gajah sehingga hanya menjadi korban tanpa sempat melakukan perlawan— yang mengamuk dikarenakan tempat meraka mencari makan telah dirampas dan dicuri. Para gajah ini dan binatang-binatang yang lain sayangnya tidak punya akal seperti manusia. Sehingga mereka masih terjebak pada ramalan malthus bahwa jumlah populasi mereka akan seimbang dengan jumlah makanan. Dan ketika jumlah makanan mereka mengalami penyusutan akibat ulah manusia, maka lambat laun mereka akan punah. Pada saat semuanya telah dirampas, maka konservasi yang didengung-dengungkan hanya seperti usaha menempatkan ikan dalam aquarium yang sebenarnya rumah para ikan itu di Sungai Berantas yang sempat tersohor.

Cerita-cerita di atas jangan-jangan telah cukup mengabstraksikan kisah kehidupan manusia dalam relasinya dengan lingkungan saat ini. Manusia terus-menerus merambah hutan, untuk membangun perkebunan, membuka ladang pertanian, membangun perumahan, industri-industri, yang akhirnya mencuri “ketimun-ketimun” milik Pak Kancil dan binatang-binatang lainnya. Di dalam cerita Si Kancil, pak tani marah ketika ketimun-ketimunnya dicuri. Maka begitu pula Pak Kancil atau gajah di Sumatera. Gajah yang marah telah membunuh manusia karena merasa ketimun yang jadi milik mereka telah dicuri, dan mau tidak mau mereka terpaksa mencuri kembali dari ladang-ladang pertanian manusia.

Satu yang harus kita catat, bahwa pesan moral pada cerita Si Kancil adalah mencuri merupakan tindakan yang buruk dan selalu ada ganjaran untuk perbuatan buruk. Dan pesan moral untuk cerita Pak Kancil juga sama, akan ada ganjaran untuk perbuatan buruk, terlepas siapa pelakunya, manusia atau kancil, terlepas juga kapan ganjaran itu kita terima, sekarang atau nanti.

3 thoughts on “Si Kancil dan Pak Kancil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s