he..he.. entahlah, darimana datangnya ide untuk memasukan hasil notulensi dari lokakarya di Bandung kemaren ke dalam blog ini.  mungkin karena tidak ada ide lagi, tidak ada waktu untuk nulis, atau karena kemampuan menulis yang rendah. entahlah, bukan suatu yang penting untuk didiskusikan.

Catatan (di) Pinggir:

“REVITALISASI TRADISI MUSYAWARAH WARGA DALAM MENDORONG USAHA PENANGGULANGAN KEMISKINAN”

Bandung, 21-25 April 2007

         Lokakarya revitalisasi tradisi musyawarah warga dalam mendorong usaha penanggulangan kemiskinan merupakan kelanjutan dari acara kaukus 17++. Kaukus 17++ adalah NGO pendamping untuk mempromosikan partisipasi ditingkat lokal, dengan demokrasi musyawarah. Kegiatan kali ini merupakan program untuk periode 2006 – 2008. Misinya mengembangkan demokrasi deliberatif dengan semboyan demokrasi lain adalah mungkin, another democracy is possible. Bukan ingin menegasikan demokrasi formal, tapi mengisinya. Kegiatan-kegiatan yang sebelumnya sudah dilakukan, yaitu Pelatihan pro poor budget, pelatihan analisa politik lokal, dan pelatihan DF.

         Pada lokakarya ini yang dibahas bukan lagi khusus Forum Warga, melainkan Musyawarah Warga. Yang artinya, bentuk-bentuk forum tidak terbatas pada FW melainkan lebih luas pada semua bentuk musyawarah yang ada di masyarakat. Bentuk-bentuk musyawarah yang ada di masyarakat contohnya banyak. Gagasan memperluas pembahasan yang tidak dibatasi pada FW juga disebabkan karena kenyataan bahwa 75% dari FW mati suri, walaupun beberapa kasus seperti di Jepara mengalami keberhasilan.

         Selama ini kemiskinan menjadi perbincangan semua orang, kecuali si miskin itu sendiri. Selama ini ukuran-ukuran kemisknan hanya ingin mengenyahkan kemiskinan absolut. Kalau kta lihat lebih detail, upaya pengentasan kemsikinan belum sampai pada, apa penyebab kemiskinan, bagaimana cara mengentaskanya. Selama ini pemerintah masih karikatif dalam program2nya: BOS, BLT, dll

         Tradisi musyawarah warga yang genuine merupakan perdebatan yang hangat pada forum. Namun sebagai pembukaan, ada beberapa tradisi genuine yang tercatat dari hasilo assessment yaitu: rapat RT, Toto Menggolo (di Batang), dan Salapanan. Namun hal ini pun maish bisa didiskusikan tentang ke-genuine-nannya. Misalnya apakah RT dianggap genuine mengingat merupakan inisiasi negara. Atau genuine atau tidaknya suatu tradisi berkenaan dengan ada tidaknya intervensi. Atau mungkin tidak relevan lagi mempersoalkan genuine atau tidak. Yang terpenting roda komunitas berjalan, dan ada mekanisme pengambilan keputusan. Dengan kata lain tidak perlu khawatir soal genuine atau tidak, melainkan justru berkenaan bagaimana keputusan itu diambil. Dalam pengambilan keputusan justru rentan dengan adanya aktor-aktor dominan yang menentukan keputusan.

         Belajar tentang Deliberatife Forum (DF) juga bisa melihat dari studi kasus di negara-negara lain. Dalam pelatihan ini didiskusikan tiga negara tetangga sebagai perbandingan, yaitu: Porto Alegre (Brasil), Kerala (India), dan Filipina. Di negara ini ditandai dengan gejala awal yang sama yaitu dilatarbelakangi pemindahan kekeuasaan. Tapi di Porto alegre dan Kerala itu memakai prosedur formal, di Pilipina pakai kekuatan people power (NGO, Gereja, dll). Kalau kita lihat di 3 negara; Ada kekuatan parpol yang menguasai negara, ada NGO yang kuat dan kekuatan masyarakat. Sekarang potret parpol, NGO dan masyarakat di Indonesia seperti apa? Inovasi di India dan Brasil, bedanya dengan Indonesia cuma satu, konsep tentang demokrasinya. Di Brasil dan India, demokrasi partisipatif masuk dalam konstitusi. Tidak ada yang disebut mekanisme negeri dan swasta, tapi integral. Di India, orang nyoblos itu ada 6 kartu, yang 3 kartu untuk partai dan 3 kartu lagi untuk panchayat. Kalau disini, semakin sedikit orang yang terlibat dalam pengambilan kebijakan semakin sakti keputusannya. Kalau di India ada yang disebut ’give power to the people’ artinya kekuasaan itu diberikan kepada rakyat. Intinya adalah, jika indonesia dibandinagan dengan tiga negara tadi notabene juga miskin adalah Kita boleh miskin secara ekonomi tapi tidak boleh terkungkung dalam budaya kemiskinan.

         Berbicara DF harus kita tempatkah dulu dalam konteks apa deliberatif itu muncul. Kalau kita melihat teori sejarah dan politik. Di satu sisi teori liberal yang digagas, jhon locke, kant dll. Di sisi lain ada teori kritis, ada marx dll. Dan kalangan lsm gerakan sosial banyak yg dipengaruhi marxisme. Sementara dalam sejarah pemikiran tidak pemikir yang konsern dan punya pemihakan terhadap orang miskin. Seorang penggagas neo marxis, juergen habermas mengalihkan perhatian dari marx ke kant. Bagi Habermas, kita tidak perlu berutopia karena itu akan berujung pada tragedi keanusiaan.

         Apa yang disebut demokrasi deliberatif berbenturan dengan liberalisme dan komunitarianisme. Dalam komunitarianisme, negara sebagai komunitas dan tindakan negara dianggap sebagai tindakan subjektif. Masyarakat asia sangat komunitarian. Di amerika, liberalisme membawa pada individualisme yang berlebih-lebihan. Kubu-kubu liberal sampai saat ini tidak setuju dengan komunitarianisme. Karena menurutnya komunitarianisme akan membelenggu. Teori diskursus atau demokrasi deliberatif sangat berhati-hati dengan dua isu tersebut. Liberalisme sangat individualistis sedangkan komunitarianisme sangat kolektif.

         Dalam teori filsafat klasik kita jumpai tokoh locke, hobbes, habermas. Kalo kita lihat locke, adanya negara itu sekunder dari individu. Karena adanya negara untuk menjamin hak individu. Jadi negara bersifat subsidier terhadap individu. Amerika termasuk penganut ini. Kalau kita lihat di deklarasi amerika disana disebutkan jika negara bertetangan dengan  invidu-individu, maka negara bisa dibubarkan. Menurut rosseou, negara merupakan pengejawantahan kehendak rakyat/publik (voluntere generale). Bagaimana dengan negara modern yang jumlah penduduknya banyak.

         Tradisi delberatif (de liberacio yang artinya menimbang-nimbang) berasal dari tradisi spiritual. Habermas mengenalkan satu konsep untuk mendekati deliberasi yakni diskursus. diskursus lahir dari komunikasi dalam keseharian. Diskursus terjadi karena seorang yan bekomunikasi mempersoalkan atas klaim-klaim validitas. Ciri diskursif adalah selalu mempersoalkan atas klaim valditas.

         Lewat perkembagan sejarah ada banyak hambatan terhadap komunikasi. Sekarang kalau kita menghadapi masyarakat grassroot yang sederhana kita jangan menambah kerumitan, karena sebenarnnya kerumitan itu ada di level atas, negara. Ruang publik ideal, kita andaikan sebagai ruang yang bebas yang tidak terdirtorsi secara sistematis. Dalam teori, diskursus dibedakan dengan retorika. Retorika itu bisa membalikkan yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Iklan adalah salah satu contohnya yang dicari bukan kebenaran, melainkan efek dari iklan tersebut.

         Sekilas kita mengira forum diskursus akan menghasilkan banyak organisasi. Organisasi kalau tidak menentukan pijakannya sendiri, pasti organisasi tersebut akan terdelegitimasi. Di dalam ruang publik diperlukan observasi dan super observasi (pengamatan atas pengamat). Ciri masyarakat kita, dalam suatu pertarungan antara kebenaran dan survival, mereka pasti akan memilih survival. Ini menjadi tantangan bagi demokrasi deliberatif.

         Komunikasi bebas kepentingan itu komunikasi yang bebas penguasaan. Itu harus diandaikan sebagai agreement bersama. Secara praktik sebenarnya itu sesuatu yang tidak mungkin, tetapi itu harus diandaikan sejak awal. Karena kalau tidak ada pengandaian tersebut, komunikasi akan gagal atau berantakan

         Musyawarah itu sebenarnya bertentangan dengan sistem kita yang feodalistik. Hal ini sebenarnya dimulai dari jaman mataram-baru yang menciptakan hirarki dalam masyarakat. Disamping itu ditegaskan pula bahwa kata-kata raja adalah hukum (sabdo pandito ratu). Tradisi musyarawah sebenarnya tidak ada semenjak jaman mataram-baru ini, sebagai contoh pada tingkat penikel dan penatus, apakah ada musyawarah? Penikel itu, jawara. Tradisi musyawarah kita sebenarnya dipimpin oleh para jawara itu. Yang hanya mengandalkan otot dan senjata. Musuh besar kita adalah feodalisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s