dunia datar (part 1)

Dekade ini adalah dekade di mana semua orang di mana pun dia berada, dari para tukang sapu di jalanan sampai pada para profesor di ruang-ruang perkuliahan, tidaka akan pernah melupakan untuk menyebut kata globalisasi. Kata globalisasi seolah menjadi kata sakti yang dapat kurang lebih memberikan gambaran tentang perubahan yang terjadi saat ini. Hal ini sangat berbeda sekali dengan apa yang terjadi pada dekade 1980an. Kata globalisasi pada masa ini masih asing di telingan setiap orang (Giddens, 1999). Namun tidak bisa disangkal bahwa ada sebagian pihak yang menolak kehadiran globalisasi sebagai sebuah gelombang besar yang telah menghempaskan semua orang. Pihak ini biasanya berasal dari golongan politik sayap kiri, khususnya kiri lama, yang mangatakan bahwa globalisasi kurang lebih hanya propaganda untuk melanggenggkan penetrasi kapitalisme internasional.

Selain perseteruan antara penolakan dengan pengakuan terhadap kehadiran globalisasi, namun jika dilihat lebih jauh, perdebatan lebih banyak terletak pada dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi. Banyak pihak yang optimis, khususnya dari golongan politik sayap kanan yang pro pasar, bahwa globalisasi akan membawa perubahan yang baik pada kehidupan ekonomi umat manusia. Mekanisme pasar bebas yang merupakan bagian “inheren” dari globalisasi diyakini sebagai resep mujarab untuk mengobati stagnasi kehidupan ekonomi dunia. Namun di sisi sebaliknya, globalisasi dalam bentuknya sebagai pasar bebas internasional dianggap telah mencelekai dunia dengan menambah jumlah orang miskin, khususnya di negara-negara dunia ketiga. Marginalisasi terhadap orang miskin dan negara miskin semakin menjadi-jadi, sedangkan penambahan kekayaan untuk segelintir orang atau negara maju mencuat begitu drastis.

Bukan omong kosong lagi, jika globalisasi telah membawa banyak perubahan pada kehidupan manusia di penghujung abad 20 dan di awal abad 21. Seperti yang dikatakan oleh Asa Briggs dan Peter Burke (2006) bahwa masa ini akan dikenang di masa depan sebagai tonggak sejarah yang paling penting dalam menentukan masa depan kehidupan umat manusia. Masa ini seperti masa penemuan mesin cetak oleh Johann Gutenberg pada tahun 1450 yang menandai masa ‘modern awal’ di Eropa. Masa ini juga disandingkan sama pentingnya seperti revolusi industri yang pernah terjadi di eropa. Tidak hanya Asa Briggs dan Peter Burke yang mengatakan demikian, tapi Thomas L. Friedman (2006) juga mengatakan demikian. Atau seperti kata Anthony Giddens (2001) yang mengatakan masa ini adalah masa revolusioner.

Perubahan ini dipicu salah satunya oleh perkembangan tekonologi informasi dan komunikasi yang amat pesat. Munculnya teknologi internet seolah membuka pintu dunia menjadi dunia yang datar (Thomas L. Friedman, 2006) atau telah terjadi keterjarakan ruang dan waktu ( Anthony Giddens, 1999) yang semakin menyempit, yang memungkinkan semua orang di mana saja dan kapan saja dapat melakukan interaksi satu sama lain dengan mudah. Akibat perkembangan teknologi ini juga, model perdagangan dunia memiliki wajah yang berbeda dengan abad sebelumnya, yaitu perdagangan dunia saat ini lebih didominasi oleh perputaran uang dalam bentuk digital.

Tidak berhenti di situ saja, perubahan-perubahan lain terjadi pada di segala level. Di dunia jurnalistik misalnya, telah terjadi perubahan arah tren. Jika selama ini informasi didominasi oleh media-media massa mainstream, atau yang dikelola oleh para pemiliki modal atau elit ekonomi politik, maka saat ini telah muncul sebuah tren yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yaitu munculnya citizen journalism atau jurnalisme warga. Hal ini ditandai oleh munculnya para bloger yang saat ini telah berjumlah jutaan sekaligus munculnya web-web yang mengakomodir para pewarta dari masyarakat biasa untuk ikut terlibat melakukan reportase, seperti layaknya para jurnnalis profesional (Aaron Barlow, 2007).

Gelombang semangat jurnalisme warga, yang ingin mengimbangi dominasi-dominasi media mainstream dalam memnompoli informasi-informasi telah terjadi di mana-mana. Gelombang perubahan ini ternyata juga banyak terjadi di Indonesia, bahkan di komunitas-komunitas kecil. Munculnya radio komunitas yang menyuarakan kepentingan-kepentingan masyarakat lokal serta berusaha semaksimal mungkin memenuhi informasi-informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat sebenarnya adalah gerakan jurnalisme warga juga. Terlebih ada radio-radio komunitas yang melakukan konvergensi teknologi dengan teknologi internet menambah peran-peran jurnalisme warganya. (part 1)

2 thoughts on “dunia datar (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s