Informasi Akar Rumput, Salah Satu Resepnya!

Mei 2008, tercatat banyak hal penting yang menoreh sejarah panjang bangsa ini. Kekalahan tim badminton Indonesia pada piala Uber dan Thomas, 100 tahun kebangkitan nasional, keputusan naiknya harga BBM, kekalahan tim sepakbola Indonesia melawan Bayern Muenchen, sampai pada momen internasional yaitu pertarungan sengit antara MU dan Chelsea pada Liga Champions. Semuanya terjadi pada bulan Mei, dan semua momen tersebut menyodot energi dan emosi masyarakat luas di Indonesia dengan luar biasa.

Momen-momen tersebut membentang luas, menyangkut berbagai aspek hidup bangsa ini. Kehormatan dan kebanggaan bangsa ini dipertaruhkan di piala Uber dan Thomas. 100 tahun kebangkitan nasonal banyak digunakan untuk kepentingan politik dari berbagai elit untuk menyongsong pemilu 2009 seperti yang banyak kita lihat di media-media massa, walaupun di sisi lainnya banyak digunakan oleh pihak yang “netral” untuk bersuara kembali tentang nasionalisme dan refleksi terhadap arah gerak bangsa ini. Taruhan uang atau bentuk-bentuk material lainnya di ruang-ruang “gelap” dan sudut-sudut masyarakat untuk pertarungan bergengsi memperebutkan di Liga Champions antara dua tim sepakbola raksasa. Sampai pada permasalahan kenaikan harga BBM yang polemiknya menghantui semua orang di bumi tercinta ini.

Semua momen ini terkover dan menjadi soroton oleh setiap media massa di Indonesia, mulai dari media massa cetak sampai elektronik. Momen-momen ini seolah memberikan amunisi dalam jumlah yang besar untuk selalu diekplorasi, diolah, diproduksi, dan kemudian dilemparkan ke khalayak banyak untuk dikonsumsi. Alhasil luapan emosi masyarakat Indonesia semakin bergulir dan menjadi-jadi.

Permasalahan yang kemudian muncul, dan jarang kita sadari, bahwa masyarakat ditempatkan hanya sebagai konsumen yang diserbu oleh berbagai macam dan peliknya produk berita yang bertebaran di mana-mana. Khususnya untuk kasus kenaikan BBM, di satu sisi ada opini dari para ahli dan para pejabat yang menyatakan bahwa kenaikan harga BBM merupakan suatu yang lazim di tengah keterdesakan posisi keuangan negara menghadapi membumbungnya harga minyak dunia. Penggunaan mekanisme BLT (Bantuan Langsung Tunai) dianggap cukup pantas untuk menolong golongan masyarakat miskin untuk bertahan dalam efek berantai yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM.

Tidak kalah kencangnya, para aktivis yang memposisikan dirinya sebagai pro rakyat menentang habis-habisan kenaikan harga BBM ini. Menurut mereka tidak ada alasan logis menaikan harga BBM pada masa sulit ini. Seharusnya kenaikan harga BBM hanya diperuntukan bagi orang kaya saja ditambah dengan beban pajak harus ditinggikan. Hal ini membentuk perang opini dan argumentasi antar para elit, yang pro dan kontra untuk kenaikan harga BBM. Namun tetap saja, pertarungan antara kelompok gajah satu dengan kelompok gajah lainnya yang akan menjadi korban adalah para semut yang terinjak-injak di bawah pertarungan ini. Semut itu adalah masyarakat kebanyakan.

Dua pihak yang sedang bertikai ini tidak ada yang tidak mengatasnamakan kepentingan masyarakat. Pejabat pemerintah mengklaim kenaikan harga BBM dan subsidi silang menggunakan BLT adalah upaya menyelamatkan negara yang juga berarti menyelamatkan masyarakat juga. Sebaliknya para aktivis yang berdemonstrasi juga mengklaim semua yang dilakukannya adalah untuk kepentingan masyarakat. Tapi pada posisi ini masyarakat tidak bisa bicara sendiri tanpa harus diklaim oleh pihak sana-sini. Masyarakat yang berbicara sendiri dan mandiri mengingatkan kita pada sebuah istilah yang cukup genit, citizen journalism atau jurnalisme warga.

Jurnalisme warga sebagai sebuah gerakan muncul dan mencuat pada dekade ini, awal milenium ketiga. Jurnalisme warga ini semakin berkembang dengan hadirnya para blogger, web-web yang khusus ditujukan sebagai tempat bagi semua masyarakat agar bisa menjadi pewarta atau reporter, dan munculnya Wikipedia sebagai kolam pengetahuan raksasa yang memungkinkan semua orang tanpa kecuali menyumbangkan pengetahuannya. Jurnalisme warga memungkinkan semua orang berbicara sendiri dan mandiri, sekaligus dapat diakses oleh semua pihak tanpa ada batas dalam bentuk apapun. Walaupun dalam konteks Indonesia, banyak yang menyangsikan gerakan ini dan membantahnya dengan alasan bahwa koneksi internet tidak dimiliki oleh semua orang, khususnya oleh masyarakat-masyarakat kecil di pedesaan. Namun bukan tidak mungkin fenomena teknologi internet bisa seperti fenomena kehadiran Handphone, di mana satu dekade sebelumnya dinyatakan mustahil dimiliki oleh masyarakat kecil di pedesaan. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, handphone telah dimiliki oleh siapapun. Ini cuma soal waktu.

Selain soal waktu, muncul gerakan-gerakan lain yang mendekatkan jurnalisme warga ini pada masyarakat kecil, khusunya di pedesaan. APIK misalnya, merupakan sebuah perkumpulan dari enam radio komunitas yang saling berjaringan melalui koneksi internet, dan dengan aktif menyuarakan kejadian-kejadian penting di komunitasnya. APIK juga mendorong agar semua lapisan masyarakat ikut berkontribusi atau bersuara melalui fasilitas yang dimiliki ini. Hal ini dimungkinkan karena radio-radio komunitas yang membentuk APIK merupakan radio yang bertujuan untuk, oleh, dari, dan tentang masyarakat atau komunitasnya. APIK singkatan dari Arena Pusat Informasi Komunitas yang websitenya bisa dilihat di http://www.apik.combine.or.id. Kehadiran APIK ini adalah salah satu contoh bahwa ke depan, masyarakat tidak diposisikan sebagai konsumen berita saja, tidak berposisi sebagai semut di dalam pertarungan gajah, dan tidak dengan mudah diklaim oleh pihak manapun.

Menyangkut pemberitaan BBM, dalam website APIK telah beberapa kali diulas tentang pandangan kenaikan dan kelangkaan BBM dari perspektif masyarakat kecil di pedesaan. Dampak yang muncul dan bagaimana masyarakat kecil menyingkapinya adalah pisau jurnalistik untuk terus bersuara mengenai kejadian-kejadian yang trejadi secara riil. Jika berita-berita ini ditulis secara simultan dan berkesinambungan, tidak hanya oleh APIK, namun juga oleh puluhan, ratusan, dan ribuan kelompok-kelompok yang berada di masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia, maka kisah rusuh yang mewarnai kenaikan BBM saat ini dapat dihindari. Ini karena, jika berita-berita yang simultan tersebut diagregasikan menjadi sekumpulan berita yang membahas isu BBM dari perspektif masyarakat kecil, maka hasilnya dapat menyaingi penelitian statistik, yang memakan biaya amat besar, yang hanya untuk mengukur dampak kenaikan harga BBM. Agregrasi dari kumpulan-kumpulan berita ini juga dapat dijadikan referensi nyata oleh pemerintah untuk membuat sebuah kebijakan, dan tidak hanya tergantung pada asumsi-asumsi para konsultan dan penelitian-penelitian yang berbiaya besar. Wajah konflik yang saling klaim untuk kepentingan masyarakat ini akan berubah total.

Ke depan, hal ini tidak hanya menjadi impian saja melainkan dapat menjadi sesuatu yang nyata, misalnya juga telah muncul gerakan serupa seperti Saluran Informasi Akar Rumput (SIAR), Jalin Merapi, dan banyak lagi komunitas-komunitas lainnya. Sehingga Bulan Mei di tahun-tahun ke depan, masyarakat tidak hanya menjadi pelaku pasif dalam hingar bingar momen-momen bersejarah lainnya, tapi menjadi pelaku aktif dalam pertarungan yang terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s