tani meneh..

Berbicara pertanian di Indonesia adalah berbicara suatu kerumitan. Rumit dari masalah teknis sampai pada persoalan kebijakan. Namun banyak orang akan berargumen bahwa permasalahan pertanian di Indonesia, momoknya adalah soal kebijakan pemerintah. Pemerintah dianggap tidak kompeten dan berpihak pada pengembangan sektor pertanian. Ini diindikasikan dari banyaknya artikel di media cetak maupun elektronik yang menyerukan hal serupa. Seperti dalam majalah Salam 2005, isu 12 – Kebijakan Pertanian, yang di dalam editorialnya menulis sebagai berikut; “Tidak ada kebijakan yang konsisten, sistematis, dan terencana untuk mengembangkan sektor pertanian, dengan menjadikan pembangunan pertanian sebagai bagian penting dari kebijakan pembangunan ekonomi nasional dan pengurangan kemiskinan secara keseluruhan”.

Betul, sebuah produk hukum diperlukan sebagai regulasi dalam mengembangkan sektor pertanian. Dengan adanya produk hukum seperti dalam kutipan di atas, harapannya sektor pertanian akan mendapat titik terang. Akan tetapi, proses pembuatan produk hukum merupakan hal yang pelik dan karena pemahaman tentang nilai strategis dari sektor pertanian belum dipahami dengan baik.

Sektor pertanian merupakan sektor yang tidak laku di negeri agraris ini. Hal ini telah ditunjukan jauh-jauh hari oleh Egbert de Vries yang memulai penelitiannya di Indonesia (baca: Jawa) pada tahun 1924. Dia menghubungkan perkembangan sektor pertanian dengan kesejahteraan penduduk. Sektor pertanian lebih banyak diisi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan. Sebaliknya, sektor-sektor pegawai pemerintahan dan industri lebih banyak diminati oleh kaum muda yang mulai mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Hal ini juga akibat ketimpangan penghasilan yang diperoleh.

Peneliti fenomenal lainnya yang meneliti tentang pertanian di Indonesia adalah Cliford Geertz dan James C. Scott. Geertz dengan mengemukakan telah terjadi involusi dalam pertanian di Indonesia. Pertanian di Indonesia tidak mengalami kemajuan, bahkan mengalami suatu proses perusakan ke dalam. Luas lahan yang semakin menyempit, tidak adanya teknologi yang mendukung, dan pendidikan yang rendah merupakan beberapa faktor yang mendukung terjadinya involusi. Sedangkan Scott yang meneliti pertanian di kawasan Asia Tenggara mengibaratkan pertanian di Asia Tenggara (Burma Hulu, Tonkin, dan Annam di Indocina, atau Jawa Timur dan Tengah) berada dalam posisi yang rentan, terombang-ambing, atau antara hidup dan mati. Jika ada gelombang sedikit saja yang menerjang, maka pertanian tidak bisa bertahan layaknya sektor ekonomi lain. Dia juga menyebutkan bahwa pola pikir petani juga tidak berani mengambil resiko seperti yang terjadi dalam usaha-usaha ekonomi lainnya. Pertanian hanya dipandang untuk mencukupi kebutuhan pangan, dan bukan sebagai suatu bisnis yang dapat dikembangkan.

Hasil-hasil yang diperoleh dalam penelitian-penelitian tersebut menegaskan bahwa betapa terpuruknya pertanian di Indonesia. Imaginasi tentang keterpurukan ini terus direproduksi dari generasi-generasi sehingga membentuk semacam imaginasi kolektif bahwa yang disebut dengan pertanian adalah suatu usaha yang identik dengan kemiskinan dan tidak dapat berkembang. Imaginasi kolektif inilah yang kemudian menjadi determinan terhadap penciptaan mindset bahwa pertanian merupakan sektor usaha yang tidak strategis dan potensial.

Jika mindset seperti ini ada di kepala masyarakat secara umum, termasuk di jajaran birokrasi pemerintah, alhasil kebijakan yang pro terhadap pertanian sangat sulit dicapai. Kalaupun ada program-program dalam pemerintah tentang pertanian, maka sifatnya sangat parsial, bukan merupakan kebijakan yang konsisten, sistematis, dan terencana seperti yang disebutkan dalam editorial majalah Salam. Sehingga yang harus dilakukan saat ini adalah kampanye-kampanye untuk membongkar pemikiran bahwa pertanian merupakan sesuatu yang tidak strategis dan tidak berpotensi, melainkan pertanian merupakan mutiara hijau yang siap dipanen untuk kesejahteraan Indonesia.

6 thoughts on “tani meneh..

  1. hei gimana pendapatmu soal varietas padi hasil pemuliaan, super toy hl2 ? menurutmu apa yg seharusnya tindak lanjut yg harus dilakukan pemerintah terhadap hal2 seperti ini, dan bagaimana gimana kaitan ke depannya terhadap keseimbangan lingkungan?
    *iso dadi sak tulisan dhewe*

  2. hehehehe… aku gak update dengan urusan supertoy. Alasan tidak ikut update perkembangannya karena aku gak suka namanya. gak ear-catching. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s