new 7 wonders?

beberapa hari ini, saya menemukan dua postingan yang hampir sama. salah satunya seperti ini:

AYO DUKUNG UNTUK INDONESIA… ………

NEW 7 WONDERS

Pemilihan 7 keajaiban milik dunia kembali digelar lagi, berbeda dengan kriteria sebelumnya dengan keajaiban yang dibuat secara sengaja oleh manusia dalam bentuk bangunan, kali ini panitia mengajak dunia untuk memilih 7 keajaiban baru milik dunia yang bukan dari buatan manusia.

Sudah terpilih sebanyak 77 tempat diseluruh dunia dari berbagai kategori, dan indonesia mengajukan atau setidaknya sudah terpilih sebanyak 3 tempat eksotik, antara lain:

1. Komodo National Park
2. Krakatau, Volcanic Island
3. Lake Toba

Banyak kontroversi memang tentang acara pemilihan ini, boleh disetarakan seperti pemilihan idol-idolan kalo untuk gaya artis. Pemenangnya di pilih dari berapa banyak sms yang masuk, bedanya untuk 7 wonders ini voting dilakukan melalui internet.

Sangatlah mungkin meski lokasinya tidak menarik, seperti Singapura misalnya yang mengajukan Bukit Timah Nature Reserve, tapi karena masyarakatnya lebih melek internet, Indonesia yang lebih punya potensi bisa kalah.
Di beberapa negara kecil, Brazil misalnya pemerintahnya menyediakan fasilitas gratis untuk masyarakatnya yang tidak punya akses internet agar bisa memilih nominasi untuk negaranya.

Pilih untuk Indonesia di

www.new7wonders. com

Jika saya berkomentar, maka komentar saya seperti ini:

Kalau kita sudah tau bahwa ada penilaian yang tidak “adil”, kenapa repot-repot harus mendukung? Anggap aja salah satu cara untuk melakukan boikot. Selain itu, jika masih bersifat kontroversi kenapa ikut mendukung. Karena jika kita dukung, maka kita sudah mengamini dan percaya bahwa mekanisme voting melalui internet merupakan hal yang terbaik.

Jika kita berpikir dengan gaya konspiratif, salah satu hasil analisis yang mungkin didapat misalnya melihat event ini sebagai cara-cara dari negara-negara yang maju dan kaya modal untuk lebih mengukuhkan industri pariwisatanya. Obyek-obyek di negara mereka jika menang nanti, akan diblow up habis-habisan di media dan menjadi icon dan ujung tombak wisata mereka. Maka, aliran keuntungan pun akan deras masuk ke negara mereka. Nah, ini jika kita berpikir dengan konspiratif bahwa selalu ada konspirasi dari semua hal yang terjadi di dunia ini, terlebih untuk hal-hal yang sifatnya kontroversial. Bukannya saya meyakini bahwa pemikiran konspirasi ini benar adanya, saya hanya mencoba menunjukan bahwa banyak sudaut pandang yang bisa kita gunakan untuk menganalisis sesuatu.

Saya yakin, masih banyak cara, dengan pembuktian ilmiah tentunya, untuk menilai obyek mana saja yang pantas disebut sebagai keajaiban alam.

Saya pikir banyak opini-opini lain yang sependapat atau bertentangan dalam hal ini. tapi bagi saya, hal semacam ini tidak bisa dilimpahkan begitu saja pada mekanisme “publik”, terlebih menggunakan jalur internet. Karena yang akan terjadi adalah munculnya tirani mayoritas dan tirani modal, bukan pada penilaian yang relatif-obyektif. Selain akan munculnya tirani-tirani ini, kemungkinan lainnya adalah bias subyektivitas. Walaupun bias subyektivitas pemilih mungin dijadikan dasar pemilihan, tapi bagi saya ini terkesan konyol. Ini karena tidak semua orang pernah berkunjung di lokasi-lokasi yang dikompetisikan. Pilihan akan selalu jatuh pada tempat-tempat yang telah dikunjungi, atau paling buruknya tempat-tempat yang pernah didengar, dilihat, dan dibaca. Hal ini berkaitan erat dengan manajemen pariwisata di negara-negara tersebut. Dan kita tahu, tidak semua negara memiliki manajemen pariwisata yang baik, Indonesia sebagai contohnya. Selain bias subyektivitas, munculnya nasionalisme untuk memilih obyek wisata yang ada di negara tempat mereka berada juga terkesan ganjil. Munculnya nasionalisme ini dengan mudah diamati dari banyaknya postingan-postingan di berbagai milis yang menyerukan untuk memilih obyek-obyek yang ada di Indonesia. Sehingga, pemilihan tidak diletakkan pada peniliaian yang relatif mendekati kebenaran bahwa obyek wisata tersebut memang eksotis.

Saya sadar bahwa hal ini bersifat debatable, dan mungkin perdebatannya tidak akan pernah berakhir. Banyak pihak akan sangat senang mendukung event ini. Dan jika anda merasa menjadi bagian orang yang merasa senang atas event ini dan menganggapnya sesuatu yang strategis untuk mendongkrak pariwisata Indonesia, silahkan melakukan pemilihan. Tapi bagi saya tidak. Saya tidak memilih karena saya tidak mau ikut mengamini event ini. Bagi saya pemilihan berdasarkan voting terlebih dengan internet samasekali tidak fair. Tidak fair dari berbagai sisi, beberapa telah saya sebut di atas.

Untuk itu, saya mengatakan tidak memilih.

One thought on “new 7 wonders?

  1. aku pun berkomentar seperti ini, seperti yg pernah aku tulis di bbrp milis:

    Mari kita tengok kembali sejarah “Tujuh Keajaiban Dunia”, yaitu bahwa dicetuskan oleh Antiper Sidon sekitar 2000 th yg lalu, jauuuh sebelum kelahiran Borobudur.

    Konsep keajaiban dunia ini pun kemudian terus dilestarikan dari masa ke masa bak pemilihan nominasi Oscar.

    Memang tidak ada salahnya memilah dan memilih mana yang terbaik sebagai hasil dari pencapaian peradaban umat manusia. Puncak-puncak pencapaian itu bisa dijadikan sumber ilmu dan dipelajari untuk kebaikan umat manusia ke depan.

    Namun, penominasian keajaiban dunia ini ternyata memiliki banyak versi. Ternyata subjektivitas sangat berperan di sini. Lihat saja, institusi yg mengeluarkan daftar tsb hampir pasti akan memasukkan pula “Keajaiban Dunia” yg ada di wilayah negaranya atau paling tidak yg ada andil bangsanya di situ. Borobudur dikenal sbg salah satu dr 7 keajaiban dunia pun hanya beredar di Indonesia, berkat kurikulum sekolah yg memasukkannya ke buku-buku sekolah. Di luar itu, hmm… percaya atau tidak.. ternyata sangat banyak lho yang tidak tahu Borobudur.

    Bagi saya, label “Keajaiban Dunia” itu lebih kuat melekat sebagai citra, dagangan yg bisa sangat laris manis di pasaran.
    Di sisi lain, banyak juga bangsa yg sangat getol memakai label citra… yang sebenarnya tak lain karena bangsa itu mengidap mental inferiority. Bukan hal yg aneh ketika bangsa yg karena ketertinggalannya terus mencoba mengungkit-ungkit kembali dengan mengatakan bahwa “”dulu” pernah hebat. Prestasi memang penting, tapi tak perlulah berlomba-lomba merasa ingin lebih unggul daripada umat manusia yg lain.
    Ya ya… hampir senada dengan orang-orang yang meyakini bahwa Benua Atlantis yg hilang itu dulu berada di Indonesia.

    Memang jika Borobudur bs masuk ke daftar itu maka akan terpromosikan scr lbh gencar. Positif memang. Namun, juga belum tentu baik bagi Borobudur. Dampak promosi dan peningkatan kunjungan bisa jadi menjadi sebuah bom waktu kehancuran jika sistem pengelolaan Borobudur masih tetap dengan carut-marutnya, sebagai mesin penghisap uang dr industri wisata, spt saat ini.

    Sudahlah… hal penting sekarang adalah bekerja membangun bangsa tanpa lupa melestarikan hal-hal baik yg kita punya, termasuk Borobudur. Mari kita lestarikan dan perbaiki sistem pengelolaan Borobudur bersama-sama dengan sebaik-baiknya. Perkuat jaringan kemitraan dan komunikasi antar pihak yang berperan. Tidak perlulah mengejar pengakuan demi sebuah label. Pengakuan selalu akan datang dengan sendirinya jika memang kita punya komitmen dan konsistensi.

    Maaf.. jika berbeda pendapat
    bagaimanapun aku tetap cinta ma Borobudur
    dan bagiku, keajaiban dunia itu ya dunia seisinya itu sendiri…

    greenmapper_jogja@yahoogroups.com – Thu, 23 Nov 2006 22:06:28 -0800 (PST)

    ————–

    Tidak ada salahnya turut serta memilih ^ ^
    Namun, maaf jika berbeda data dan pandangan
    – Borobudur tidak pernah masuk sebagai 7 keajaiban dunia, kecuali di buku2 atlas terbitan Indonesia
    – Perlu ada upaya yang lebih konkrit untuk melestarikan pusaka (heritage) daripada sekedar menggalang suara dalam ajang kontes-kontesan. Dampak publisitas tidak selalu berkorelasi positif dengan kelestarian pusaka.
    – Upaya-upaya lokal dalam berbagi info dan pengetahuan secara kontinu dan mendalam lebih efektif dan penting daripada upaya hingar bingar yang mungkin punya cakupan lebih luas, tetapi hanya menyentuh permukaan, tanpa ada solusi thd perbaikan kondisi pusaka itu sendiri.
    Sebagai contoh: Jelajah situs oleh temen2 komunitas Historia yg kontinu jelas lebih berdampak konkrit dan semoga solutif terhadap kelestarian. Tidak pernah ada kejelasan apa upaya tindak lanjut pun ketika situs yang kita pilih berhasil menduduki peringkat atas.
    – Ada daftar yang lebih konrit dan berdasar dalam kaitannya dengan kelestarian pusaka, yakni World Heritage List dan Endangered World Heritage List yang dikeluarkan secara berkala oleh UNESCO.

    masih ada banyak cara lain yang lebih tepat guna

    Salam,

    elanto wijoyono

    komunitashistoria@yahoogroups.com – Wed, 23 Jul 2008 04:29:58 -0700 (PDT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s