wild valentine di Gunung Miwang

Kalo National Geographic punya program yang namanya ‘wild valentine’, maka kita juga harus punya tuh seri yang yang sama. Di national geographic itu ditampilkan bagaimana kehidupan binatang liar dalam melakukan fungsi reproduksinya. Ditayangkan tepat di hari valentine, hehehehe. Sehingga pas hari valentine, stasiun TV berbayar ini menyiarkan adegan-adegan ‘porno’, hehehehe.

Ceritanya, pas tanggal 13 februari kemaren naik ke Gunung Liwang. Liwang berasal dari bahasa Lampung yang berarti Menangis. Gunung Menangis. Ada cerita mistis di balik nama ini kata penduduk, tapi ada yang logis juga view2dengan nama ini. Di gunung ini banyak sekali mata air, yang mampu memberikan air berlimpah pada pemukiman-pemukiman yang berada di bawahnya. Mata air = Menangis (agak maksa dikit, hehehehe). Gunung miwang terletak 30 menit dari Bandar Lampung. Sebenarnya lebih tepat disebut sebagai bukit karena ketinggiannya kurang lebih 400 mdpl, dan tidak ada aktivitas vulkanonya. Mungkin ini salah satu gunung purba. Gunung ini tepat berada di pucuk bawah pulau Sumatera yang hampir berhadap-hadapan dengan Gunung Krakatau di tengah Selat Sunda sana.

Tujuan naik ke gunung ini adalah untuk bird watching, sehingga kami membawa dua binocular. Kami naik dari ketinggian kurang lebih 10 mdpl. Menyusuri rumah-rumah penduduk, ladang-ladang, dan kemudian sampai di tengah hutang gunung ini. Basecamp-nya di radio komuniitas Gema Lestari, yang sekalian pasang soundcard dan ngecek sinyal internet pake jaringannya GSM di radio ini. Sepanjang jalan melewati ladang yang penuh dengan pohon kakao (bahan dasar coklat). Banyak juga pohon durian dan alpokat, berharap besar dalam perjalanan betemu dengan pohon durian yang berbuah tapi gak ketemu-ketemu juga. Hehehe.


Tiba-tiba saja, si pemandu perjalanan, memotong arah pendakian dengan meyusuri lereng-lereng bukit. Jika pada awalnya kita berjalan di punggung bukit yang ada jalan setapaknya, maka sekarang kita memotong secara horisontal yang tidak mempedulikan jalan setapak lagi. Tidak ada jalan, asal terabas saja. Dengan kemiringan hampir 60 derajat, tentu jamursaja tidak bisa berdiri dan berjalan dengan sempurna. Kami harus berjalan miring, merambat, lebih tepatnya merangkak, karena jika tidak merangkak, bisa dipastikan kita akan tergelincir. Memotong jalan ini kurang lebih memakan waktu 4 jam. Dan ini lah tema perjalanan kami, wild valentine dalam hutan belantara. Sepanjang jalan, kami menemukan banyak sekali jejak babi hutan. dan ketemu jamur juga. lumayan untuk lauk  makan malamnya si roy

Uiihhh.. ketemu babi hutan adalah pengalaman yang tidak mengasikan. Jika babi hutan merasa terganggu, maka dia tidak segan-segan akan mengejar kita. Ada dua tips untuk selamat dari kejaran babi hutan. Pertama, lari lurus kemudian dengan spontan menikung dengan patahan 90 derajat. Babi tidak berleher, sehingga manuver khususnya untuk berbelok-belok agak susah dilakukannya. Dia bisa berbelok tapi tidak tajam sampai 90 derajat. Ingat film-film pesawat tempur yang dikejar peluru kendali? Pesawat tempur akan bergerak lurus, dan tiba-tiba menikung tajam di depan sebuah gedung atau tebing, sehingga peluru kendali akan menabrak gedung atau tebing karena tidak bisa berbelok selincah pesawat tempur. Nah bayangkan seperti itu ketika dikejar babi hutan. Cara kedua adalah naik pohon. Udah, naik pohon aja. Kalo dah naik pohon, babi hutan akan pergi dengan sendirinya sambil misuh-misuh😀. Tapi kalo ketemu beruang, lari sekencang-kencangnya saja. Tips satu dan kedua tidak bermanfaat, hahahahaha😀.

Akhirnya kami sampai di tebing yang sangat ‘kejam’. Tebing ini adalah jalur air jika hujan. Tebing ini dipenuhi dengan batu-batu lepas sebesar buah kelapa. Jika diinjak akan berosot ke bawah. Hampir saja kepalaku dihantam batu tebing-berbatuyang diinjak oleh rifki. Dia berada 3 meter di atasku dan batu yang diinjaknya lepas menggelincir tepat ke arah kepalaku. Untung saja batu itu hanya lewat tepat di depan mukaku, dan tidak mampir. Wuihh.. Untuk itu, kami mengatur jarak lagi agar lebih berjauhan dan mengambil lintasan yang tidak segaris lurus. Di tebing ini banyak ada pohon pulus (bahasa Sunda) yang menyebabkan kulit kita terasa panas dan gatal-gatal kalo terkena daunnya. Sehingga selain hati-hati memilih jalan, juga harus hati-hati untuk menghindari pohon ini. Di tebing ini biasanya ada kawanan beruk dan lutung yang bermain dan mencari makan. Mereka biasanya berkelahi untuk memperebutkan wilayah ini. pernah suatu waktu di tebing ini, si roy pemandu kami dari radio komunitas dilempari batu oleh sekawanan beruk. Diusir. Begitu terhinanya diusir oleh kawanan beruk😀😀.

Sesampainya di ujung bawah tebing kami melewati lagi sungai kecil yang bisa dipastikan murni. Di situ banyak tulang-tulang kecil. Prediksi kami, hewan karnivora membawa mangsanya dan memakannya di sungai itu. Tampaknya banyak binatang yang mencari minum di sungai ini. Dari sungai ini, kami mulai lagi memanjat tebing yang tertutup rapat oleh pohon-pohon besar, ranting-ranting, dan semak-semak. Asal terabas saja. Untuk pake sepatu dan celana outdoor yang tebal,pacet sehingga kaki terlindungi dengan baik (walaupun setelah sampe rumah, dua kakinya banyak bengkak berwarna biru). Di jalan yang tertutup rapat ini, banyak sekali pacetnya. Menempel di dedaunan dan di ranting, siap nemplok di badang kami😀. Tips dan trik satu-satunya adalah lari sekencang-kencangnya. Hahahahaha.. Terpeleset berjuta-juta kali karena kemiringan dan jalan yang licin. Tersangkut sana-sini di akar-akar, ranting, dan daun-daun. Tidak masalah. Tidak rela ditemploki pacet😀. Lari tunggang langgang menanjak di tebing yang sangat curam sampe ketemu dengan batu besar sarang dari landak. Gua landak. Di bawah batu ini banyak lorong-lorong tempat landak bermukim.

Dari gua landak, kami terus naik lagi sampai puncak gunung. Di puncak kedua gunung, sebelum puncak tertinggi, ada sawah! Sawah yang dikelola dengan sistem yang ‘seadanya’. Tidak ada irigasi, sengkedan, dll. Bibit-bibit padi ditanam begitu saja. Menghandalkan hujan yang akan menyiraminya. Dan 4 bulan kemudian, dan siap panen. Cara mudah menanam padi. Dari ketinggian ini, pemandangannya luar biasa. Tepat di depan kami ada selat sunda. Baru sebentar duduk, ada burung kolibri yang terbang dekat di depan kami. Ada sepasang, dan mereka sedang pacaran. Lompat sana-sini dan bercumbu rayu. Ada seekor lagi, tapi Cuma sendirian. Lewat begitu saja. Di sebelah kanan, ada sekelompok beruk bertengger di salah satu pohon besar. Mereka lompat sana-sini dan berteriak-teriak. Weleh..weleh..😀. Tak jauh dari kawanan beruk ini, di arah puncak ada juga kawanan lutung. Hehehehe, mungkin dua kawanan ini yang pernah melempari si roy dengan batu (dia masih sakit hati, karena merasa terlecehkan diusir oleh kawanan ini :D). Sambil menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ada seekor lutung melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Dia tampak sedang bergegas. Lutung ini adalah lutung terbesar yang pernah aku liat. Warnya hitam mengkilat. Setelah puas melihat pemandangan ini, kami jalan lagi. Kali ini melewati sarang-sarang burung elang. Ada satu elang betina yang melintasi kami dan hinggap di sarang. Elang tampaknya betina karena bentuk fisiknya yang lonjong, tidak begitu runcing. Sarangnya berada di pucuk tertinggi dari pohon tertinggi, ciri khas dari sarang elang. Setelah itu, kami melewati pohon-pohon bambu yang ada sarang siamangnya. Tapi gak ketemu siamangnya, Cuma sarangnya aja. Tertata dengan rapi, terlihat nyaman dan hangat.

Kami mencari kodok bertanduk, binatang endemik di sini. Tapi sayangnya tidak ketemu. Sampai akhirnya kami rumahsinggah di pondok yang berada sejajar tepat dengan puncak kedua yang ada tanaman padi itu. Wooww.. mereka turun ke desa sekali atau dua kali dalam seminggu. Tidak listrik dan tidak bertetangga. Mereka memilih tinggal di sini karena ladang mereka berada tepat di arah yang berview-2lawanan dengan hutan yang kami kunjungi. Rumah mereka sih kecil, tapi halamannya luuaasss, sepetak ladang yang tidak habis dikelilingi selama setengah hari dan sebujur hutan yang tidak habis diputari selama dua hari. Hahahahaha😀. Akhirnya kami turun gunung melewati jalur ladang, membelakangi jalur naik tadi. Sampai di pemukiman penduduk jam 7pm, gelap gulita. Mati listrik.

4 thoughts on “wild valentine di Gunung Miwang

  1. apa cerita mistis gunung miwang, apa apa?
    *penasaran tapi batuk. uhuk..uhuk..*
    kalo ketemu beruang praktekkin gaya si bocah dalam novel “tom gordon”-nya stephen king. lempar pake batu dengan gaya pemain softbol. hehehe

  2. apa ya.., emang sengaja gak kuingat. hehehehe menjaga pikiran tetap positif saat berada di atas gunung yang lebat.
    kalo lihat beruang, diam saja, sampai si beruang pergi sendiri dan merasa tidak terganggu. tapi kalo dia dah mendekat dan mendengus2 kencang, lariiiiii😀

  3. hehehehehe… itu biar gak berat, ibu. maklum kemaren koneksinya hanya pake gprs. kalo keberatan, malah gak mau jalan internetnya. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s