Jogja dan Bunga

hari ini, 18 februari 09, aku pulang ke jogja lagi. aku pergi kali ini adalah terlama dalam 2 tahun terakhir. tahun 2007, aku pergi ke mentawai untuk emergency respon selama 3 minggu. sekarang cuma 2 minggu lebih sedikit. kepergiaan selama beberapa minggu ini terasa luaammaaa sekali, yang menyebabkan kangen tak tertahankan pada kota ini. jogja.

untuk itu, setibanya di jogja dengan kereta taksaka II jam 05.00, aku langsung menuju malioboro dari stasiun tugu. puluhan orang menyapaku sepanjang jalan menuju malioboro, mereka bilang “kemana mas? mari saya antar saja”. baik sekali bukan? tapi ada kalimat selanjutnya, mereka bilang gini, “pake argo koq mas”, “becak mas, murah”, “naik ojeg, mas”. hahahahahaha… sapaan yang tendesius😀. namun mereka kulewati begitu saja, karena sudah bulat tekad, menuju malioboro.

tujuanku duduk di ujung malioboro paling utara, depan hotel inna garuda. duduk di kursi, menikmati embun pagi dan abu-abunya warga jogja dalam sepi. yang lalu lalang sebagian besar sepeda dan pedagang kaki lima yang mengangkut barang dagangannya. segarnya pagi ini🙂.

kemudian, jam 6 pun menyapa. kendaraan bermotor mulai ramai yang memaksa untuk beranjak. pulang. naik bis nomer 2 dan ganti nomer 15. wah… masih menyenangkan sekali. mengingat masa-masa hampir 7 tahun lalu saat masih awal kuliah. naik bis di jalan sama yang kulalui pagi ini.

namun, sampai di rumah. perasaanku kandas sekandasnya. tanaman yang paling kusayangi mati dengan mengenaskan. daunnya kering dan batangnya tidak berdaya untuk menyangga. lemas. aku duduk diam selama berpuluh-puluh menit di bawah pohon kanopiku ini. pohon kanopi yang sangat kusayangi karena selalu meneduhiku saat nongkrong dan menjamu teman-teman di ruang tamu ini. pohon yang membuat teduh dan segar di kala matahari menyengat.

penyebab kematiannya misterius.., tidak ada luka atau pun penyakit yang bisa kuidentifikasi dengan mata telanjang. mati. bungakumati begitu saja. setelah kukroscek ke bu-dhe, dia bilang mulai mati sejak 3 hari yang lalu. dan dengan bangga bilang “wis tak sirami terus pendak dino”. sebenarnya gak usah disirami lagi, karena ini musim hujan. hampir setiap hari hujan.

hasil diskusi melalui chating, ada beberapa kesimpulan. pertama, si tia bilang itu disilet oleh orang-orang yang iri karena pohon dan bunga ini emang bagus. kesimpulan ini dia ambil karena punya pengalaman buruk telah menyilet tanaman orang lain yang menyebabkan pohon tersebut mati juga. dia bilang aksi tragis menyilet tanaman orang adalah pengalaman ibunya. tapi aku justru mencurigainya. hehehehe😀. kesimpulan kedua, dari putu, dia bilang mungkin kena herbisida karena daun dan batangnya kering. atau bisa juga kena terasi. bu-dhe sering menyiraminya, jangan-jangan disiram pake air masakan yang ada terasinya. mati deh. namun apapun itu, aku sudah kehilangan pohon dan bunga kesayanganku. selamat tinggal kawan…

5 thoughts on “Jogja dan Bunga

  1. heh. mana tega aku menyilet tanaman orang.
    aku ini kan lembut hatinya.
    yang ada bungamu diam-diam disilet pak yanto ato bu ngatil, biar kamu cepet pulang ke yk. kgkgkg.
    mereka dah kangen tuh.
    batiknya ya bos, mohon segera dikirim.

  2. hehehehehee…. padahal bunganya bagus dan daunnya rindang lho.. tapi harus mati sebelum ditatap. nanti tanam lagi ahh…

  3. mati satu tanem lagi yang banyak….biar yang pny ide ngerusak taneman…mikir 1000x karna terlalu bnyk yg nmau dirusak….wakakakakakakakakkakak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s