Blog, Berbagi Pengetahuan, Jenis Tulisan, dan Cara Penulisan

Aku di situ saat sang maestro, elantowow, berapi-api menjelaskan web blog, bloging, blogger, dan kontennya. di situ, di ruang sempit berukuran 3 x 4 meter, di depan toilet, di pojok rumah keduaku, ruang meeting Combine Resource Institution (CRI). Materi mengalir dengan gaya unik seorang elantowow yaitu tangan-tangan bergerak-gerak aktif kenan-kekiri, kedepan dan tiba-tiba ditarik ke belakang, dan muter-muter, dan tiba menunjuk-nunjuk. iya, kalo ngomong, tangan dan jari selalu aktif menunjuk-nunjuk. Kata beberapa orang sih, kerja otot yang digerakan dengan syaraf motorik mampu lebih memfokuskan konsentrasi pikiran manusia untuk mendukung argumentasi-argumentasi yang diungkapkan. Memperhatikan gerak-gerik tangan dan jari ketika seseorang berbicara sungguh menarik. cobalah😀.

Tibalah saat di mana contoh-contoh blog yang dibuat oleh orang-orang CRI ditunjukan dalam planet.combine.or.id. Muncul tulisan-tulisan dari blog-blog yang melakukan update tulisan terakhir. Di situ ada TembokKuning, blogku. Kemduian masing-masing blogger diminta untuk memberikan testimoni tentang blognya. Di situ ada tulisan yang berjudul “Nulis Blog Lagi ah..”. Cukup menyentil karena sang maestro menambahkan keterangan tanggal update terakhirku, setahun lalu. Mulailah aku melakukan testimoni tentang kenyataan ini, sebuah pledoi.

Aku cerita mengapa aku memutuskan untuk berhenti menulis di blog. Pernah suatu waktu aku main-main di kantor jurusan, dan melihat-lihat tugas dalam bentuk paper yang dibuat adik-adik angkatan. Beberapa paper yang kubaca cukup mengejutkanku! Ada tulisan di cover depan paper tersebut, “tulisan ini hasil plagiat. tulisan asli ada pada http://bla…bla…”. nilai yang didapat adalah E! Ada banyak lagi paper yang ada dikomentari “sumber tulisan dari mana??”. Dan beberapa komen lagi yang gak kuingat dengan jelas, yang pasti menandakan bahwa ada kegiatan plagiasi dalam paper-paper yang dikumpulkan untuk tugas kuliah. Jauh sebelum aku menemukan kenyataan ini, kira-kira 6 bulan sebelumnya, aku menemukan banyak brosur yang isinya tentang kampanye anti plagiasi. Brosur ini dikeluarkan secara resmi oleh UGM dan didistribusikan ke seluruh civitas akademikanya. Saat kubaca, aku geleng-geleng kepala. Tidak menyangka akan ada brosur semacam ini. Brosur ini berisi tentang ajakan untuk tidak melakukan plagiasi, jenis-jenis plagiasi, apa yang disebut dengan plagiat, apa ganjaran yang diperoleh jika melakukan plagiasi, dan penjelasan lainnya. Ada apa gerangan sampai-sampai UGM mengeluarkan brosur semacam ini. Akhirnya aku mendapat jawabannya saat aku menemukan paper-paper itu.

Fakta kedua, saat googling untuk mencari data-data sekunder untuk penulisan skripsi, saya menemukan kenyataan yang kurang mengenakan. Di beberapa blog dan website yang saya kunjungi, ada komentar-komentar yang ditulis di bagian bawah, di kolom komentar. Isinya kurang lebih meminta si penulis untuk menuliskan lebih lengkap agar bisa di-“copy-paste” untuk kepentingan tugas kuliah. Padahal nyata-nyata si penulis menggantungkan isi tulisan untuk memancing diskusi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dari 9 komentar yang ada, 7 meminta terangan-terangan untuk tugas kuliah. Jelas hal ini sah dilakukan dan tidak ada salahnya. Namun yang saya resahkan adalah soal cara-nya. Yang terjadi di sini adalah “meminta” jawaban, bukan “mencari” jawaban. Apa yang dituliskan dalam blog “diminta” begitu saja untuk kepentingan tugas kuliah. Sehingga tugas kuliah menjadi ajang meminta-minta, dan bukan menjadi Proses Mencari jawaban. Dalam konteks ilmu-ilmu sosial saya meresahkan hal ini terjadi. Namun berkebalikan dalam konteks ilmu-ilmu praktis, misalnya tentang keterampilan atau skill, dan teknologi-teknologi terapan.

Dalam konteks ilmu-ilmu praktis kenyataannya berbeda. Contohnya gini, pertengahan tahun 2008, aku banyak sekali mengumpulkan tulisan-tulisan tentang pengembangbiakan lele. Tulisan-tulisan tersebut kemudian aku jiplak 100% dan kuterapkan dalam ujicoba pengembangan perikanan lele bersama teman-teman kampung. Dalam perjalanannya, ilmu-ilmu kesehatan tentang ternak lele juga aku jiplak 100% untuk kuterapkan. Dalam ilmu-ilmu komputer juga banyak kutemukan kenyataan yang sama. Banyak modul-modul yang dibuat untuk diimplementasikan oleh orang lain. Modul untuk membuat website, teknik jaringan, instalasi, dll yang bertujuan agar diadopsi oleh orang lain.

Setalah diadopsi dan diterapkan, akan muncul ilmu-ilmu baru yang kemudian menyumbangkan hal-hal positif untuk revisi-revisi dari ilmu-ilmu praktis yang ada sebelumya. Misalnya, setelah aku menerapkan ilmu-ilmu yang kudapat tentang ternak lele, maka tugasku kemudian, biasanya, melakukan updating dari pengalaman yang kudapatkan–namun belum kulakukan lho, hehehehe, karena belum siap bahan untuk menambahkan pengalaman-pengalaman baru. Begitu pula pada ilmu-ilmu praktis lainnya. Dari siklus ini bisa dilihat dengan jelas tentan perkembangan pengetahuan. Perkembangan pengetahuan ini sangat sulit dilakukan dalam konteks ilmu sosial. Jika dalam ilmu sosial “penjiplakan” secara total dilakukan, maka tidak akan terjadi perkembangan. Dalam ilmu sosial, bagi saya, mengutip harus dilakukan untuk menunjang argumentasi kita. Mengutip berbeda dengan Copy-paste, Meminta, dan Menjiplak.

Nah, untuk mensiasati kenyataan ini, khususnya dalam ilmu-ilmu sosial, maka harus dilakukan terobosan. Saya meyakini terobosan yang sedang saya lakukan, mengurangi tulisan dalam bentuk artikel atau yang berbentuk jurnal, tetapi mengembangkan tulisan-tulisan dengan gaya feature atau cerita-cerita sehari-hari. Tulisan dalam bentuk feature atau catatan harian akan sulit untuk dijiplak atau diplagiat namun BISA dijadikan referensi. Hal ini terjadi karena si pembaca harus membaca keseluruhan isi dari tulisan tersebut untuk mampu menyarikan kembali tentang apa yang dimaksud si penulis. Di sinilah yang saya sebut bagian dari pengutipan dan proses PENCARIAN dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dan bukan secara instan meng-“copy-paste” sebuah tulisan. Tapi bukan berarti semua hal bisa diterapkan secara total, 100%, dengan pendekatan ini. Banyak pengecualian-pengecualian yang akan terjadi. Intinya adalah menghidari penjiplakan yang justru membunuh kreativitas dalam ilmu pengetahuan dengan berbagai cara.

Penulisan dengan gaya catatan sehari-hari ini banyak terinspirasi oleh para antropolog ketika melakukan penelitian dengan metode ‘pencatatan lengkap melalui tulisan harian’. Misalnya dapat dilihat dari buku Doing Java karya Niels Murder, buku Bali 2day karya Jean Ceatou, dan banyak para antropolog besar melakukan kegiatan ini.

Jika membayangkan semakin dibukanya akses terhadap semua informasi, maka plagiasi dapat ditekan, saya pikir tidak se-mekanis itu. Terlalu sederhana jika membayangkan proses dibukanya akses informasi selebar-lebarnya akan membuat semua orang bisa memantau sehingga plagiasi tidak akan terjadi. Belum ada bukti dan contoh yang bisa meyakinkanku bahwa mekanisme ini berjalan, terlebih dalam fenomena banjir informasi yang terjadi saat ini. Susah untuk melakukan kontrol, khususnya dalam contoh 2 contoh kasus yang saya sebutkan di dunia per-kampus-an. Copy-paste sana sini, kemudian dirangkai menjadi sebuah karangan, maka akan sangat sulit dilacak apakah karya tersebut benar hasil karya sendiri di tengah banjir informasi yang ada.

Pendapat ini tentu dapat menjadi perdebatan panjang, tidak berakhir. Namun hal ini menjadi politik keredaksian dari masing-masing blog. Nah, politik redaksi dari blogku ini adalah seperti uraian di atas ini. Kalo ada yang berpendapat berbeda, itu adalah bagian dari politik keredaksian yang berbeda. Dan hal ini adalah proses singkat dari panjanganya proses pencarian jawaban tentang pertanyaan mengenai berbagi pengetahuan, copy right, copy left, HAKI, dan seterusnya.. dan seterusnya..

*dukung copy left! dengan cara masing-masing :)*, tulisan ini juga sebagai salah satu upaya menjawab pertanyaan Mas Nasir yang ‘menuduhku’ memiliki manajemen pengetahuan seperti perpustakaan usang di Indonesia, hehehehehehe🙂

6 thoughts on “Blog, Berbagi Pengetahuan, Jenis Tulisan, dan Cara Penulisan

  1. aduh aduh…. apakah pak ketut bermaksud meng-“copy-paste” gaya penulisan blog saiyah? oh.. tak kusangka :p
    tujuan orang baca blog kan macem2.
    kalo aku sih cari blog yang mendamaikan pikiran dan mencerahkan hari.
    blog yang berisi notulen rapat yang sangat membosankan tentu really kills me. ough.
    *terkapar dengan muka datar*

  2. hahahahahahaha….😀
    *sedang membayangkan menjadi niels mulder dan nulis doing java”.
    cerita-cerita perjalanan, eh.. jadi buku yang melegenda deh😀
    seperti jean couteau juga yang cuma nulis kisah sehari-harinya, eh.. menjadi menarik juga😀.

  3. udah tamat baca jean couteau-nya? sip sip. tumben :p
    doing java kayaknya kmu belum baca deh. ngaku2 ya.. hehehehe
    aku aja belum selesai :p
    *opo to iki, sing komen kok mung kita aja :p*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s