Memilih Hidup Menjadi Terang :)

Kali ini, ngumpul-ngumpul dengan teman-teman radio komunitas yang tersebar di daerah Cirebon. Tempat ngumpulnya di radio komuitas Caraka (Cara Urang Balaka; Cara Orang Berterusterang). Sebuah radio komunitas yang terletak satu jam dari kota Cirebon ke arah Bandung. Di radio komunitas ini relatif menarik karena terletak diantara dua budaya yang berbeda, antara budaya Sunda dan Jawa. Kadang terdengar orang-orang menggunakan bahasa Jawa khas Cirebon, di lain waktu terdengar orang berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda. Sehingga, di radio ini memiliki program acara yang bilingual, Jawa dan Sunda.

Dalam forum ini, ada yang menarik yang ingin kuceritakan. Salah seorang peserta diskusi menyentil di tengah serunya diskusi. Kita sedang berbicara mengenai identifikasi masalah yang ada di radio komunitas. Peserta tersebut bercerita seperti ini, di Kecamatan Gebang salah satu kecamatan di Kabupaten Cirebon, sebagian besar orang bekerja sebagai buruh migran. Ilegal atau legal. Di kecamatan ini, rata-rata rumah mereka cukup mewah, bertingkat, berlantai keramik, finishing yang mewah, dan berisi barang-barang yang bagus. Mirip seperti perumahan di kota-kota besar.

Di sini, orang-orang, khususnya para perempuan yang pulang dari luar negeri, pulang membawa anak atau pulang dalam keadaan hamil adalah hal yang biasa. Tidak ada yang mempermasalahkan, suatu hal yang lumrah. Anak-anak yang ‘Indo’ tersebut dibesarkan di kecamatan tersebut. Tampang anak-anak tersebut beraneka ragam, ada yang bertampang arab (timur tengah), pakistan, hongkong, dll. Semua ini bukanlah sebuah Masalah! Ini cuma resiko kerja dan hal yang biasa.

Nah, inilah poinnya. Kalau di tempat lain pada umumnya kehamilan di luar nikah dianggap sebuah aib, tapi di kecamatan ini tidak. Aku tidak ingin menunjukan yang mana yang baik atau yang buruk ya…, yang ingin kutunjukan bagaimana kita memandang sebuah hal. Sudut pandang akan menentukan segalannya, apakah sebuah hal disebut sebagai masalah atau tidak.

Aku mencoba melakukan simulasi untuk membuktikan hal ini. Simulasinya seperti ini, taruhlah gelas di tengah jalan. Atau100_1881 seperti yang ada di foto ini. Kemudian tanyalah pendapat setiap orang yang melihat hal ini. Pasti jawaban secara umum seperti ini:

  • Itu bahaya kalo ditabrak orang

  • Bisa membuat macet

  • Gila. Gak punya kerjaan naruh gelas di tengah jalan

  • Apaan sih..

  • hehehehe, keren mungkin

  • Gue sumpahin orang yang naruh gelas itu

  • dll.

Coba kita sekarang berpikir ekstrim. Ekstrim untuk melihat sesuatu bukan selalu sebagai hal negatif, tapi sebagai potensi. Nah, sekarang paksa diri kita untuk memikirkan gelas di tengah jalan tersebut sebagai potensi. Maka, kemungkinan jawaban yang diperoleh seperti berikut;

  • Wah…keren tuh kalo difoto

  • Ide yang spekatakuler untuk lukisan

  • Lho.., itu kan bagus, bisa jadi rambu-rambu. Sehingga orang gak sembarangan ngebut di jalanan

  • Hati-hati dong, jalan kan milik umum. Semua orang bebas berekspresi

  • Ini bisa menjadi potensi wisata.

  • Harusnya ditiru di semua wilayah Indonesia, sebagai simbol bangsa ini perlu pelepas dahaga

  • dll

Hehehehe, satu hal yang sama, namun jika dilihat dengan cara pandang yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang ekstrim berbeda. Dari dua contoh kasus di atas, buruh migran dan gelas di tengah jalan, menurutku bisa ditarik pelajaran. Jika kita selalu melihat semua hal sebagai masalah, maka seumur-umur hidup kita akan penuh dengan masalah. Coba bayangkan saja, ketika kita jalan kaki di sebuah jalan yang panjang, kita akan melihat berbagai macam. Melihat tempat sampah yang berlubang, kemudian kita berpikir “wah negara ini kacau, sampah gak diurus. Mau jadi apa bangsa ini”. Kemudian melihat, orang yang sedang duduk-duduk, “itu pengangguran. Pasti pelaku kriminal”. Terus melihat warung kaki lima kecil, “halah pedagang kaki lima kecil, gak dapat untung. Malah merugi terus”. Dan seterusnya…, dan seterusnya. Jika kita berpikir selalu dari sudut pandang Masalah saja, maka kita tidak akan pernah maju. Selalu terpuruk. Hal-hal kreatif akan menjauh dari kita.

Coba berpikir ekstrim. Namun ekstrim yang positif. Melihat tempat sampah yang rusak, melihat pedangan kaki lima, dan melihat orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan, maka apa jadinya pendapat kita ya..

Coba berpikir positif, maka kreativitas akan mendatangi kita semua. Dan di saat itu, hidup kita akan menjadi lebih terang🙂.

Metode ini bisa diterapkan di pelatihan atau pertemuan lho. Agar kita tidak terjebak dalam permasalahan terus, yang membuat kita tidak pernah maju. Ajak semua peserta untuk berpikir positif saja, lupakan hal-hal yan negatif. Maka kekuatan pikiran dan otak kita akan menghampiri kita. Kalo dalam pelatihan atau workshop, kita memulai memetakan masalah maka akan banyak sekali yang kita dapatkan. Ini, itu, ini, itu, ini, itu. Banyaklah. Terus mau ngapain? Gak produktif, karena kita membebankan masalah pada diri kita yang sebenarnya diri kita tidak kuat untuk menyelesaikannya. Sudahlah, peserta lebih baik diajak untuk melihat dirinya kembali. Apa potensi yang kita punya, dan apa yang kita bisa kerjakan. Hal kecil namun dilakukan dan berhasil jauh lebih baik ketimbang punya banyak peta masalah dan ketika ingin menyelesaikannya malah bingung harus ngapain. Ajak semua peserta untuk melupakan masalah, dan bangkitlah dari potensi yang kita punya, sekecil apapun itu.

5 thoughts on “Memilih Hidup Menjadi Terang :)

  1. eh di malang juga ada loh. satu kampung yang sebagian besar perempuan dewasanya eksods ke timur tengah untuk menjadi pekerja domestik disana. dan kampung ini menjadi terkenal karena rumah2 disana gedongan semua alias gede dan megah. dan anak2 keci2 disana sangat multi ras. ada yg arab, cina, dll.
    tapi yg menarik, anak2 ber-ras campuran ini dibiayai oleh “ayah”-nya yang ada di nun jauh sana. dan ketika mereka menginjak usia dewasa, mereka diminta untuk “pulang” ke negara sang “ayah” untuk menjadi warga negara disana karena kehidupan disana lebih menjanjikan.
    menarik?

  2. moga didepan ada gelas lagi, kan lumayan klo smp 1/2 lusin ga sah beli:p
    *ini memilih hidup menjadi terang ga ya??

  3. hahahahahahaha…. itu gak kepikiran untuk nulis “moga didepan ada gelas lagi, kan lumayan klo smp 1/2 lusin ga sah beli:p”, ini bagian dari cara memilih hidup menjadi terang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s