Jaringan, Berkelanjutan, dll: Mantra Sakti?

Sudah lama tidak naik bis ekonomi jurusan jogja-solo. Sudah lebih dari 4 tahun sepertinya. Tapi kemaren,akhirnya naik bis ini lagi. Bis yang khas, ngebut, penuh dengan pengamen, pedagang, dan seringkali penuh sesak penumpang. Setelah menaiki bis ini, maka liatlah baju anda, akan tampak arsiran tipis debu berwarno coklat gelap. Dari Jogja menuju terminal Klaten dan menunggu bis kecil menuju Crocodile Forget (Boyolali). Perjalanan mulai pukul 09.00 sampai 12.00. Di kota kecil Boyolali ketemu dengan empat radio komunitas yang sudah memulai obralan sejak pukul 11.00 tadi.

Aku tidak terlalu tahu tentang agenda apa yang dibicarakan dalam pertemuan ini. Pelan-pelan kucatat dan kudengarkan baik-baik arah pembicaraannya. Tiba-tiba saja, para pegiat radio komunitas ini menyandangkan status narasumber pada kami berdua. Weleh.. apa ini. Setelah beberapa menit, aku mulai mengerti. Salah satu agenda penting mereka adalah ingin membentuk Jaringan Radio Komunitas di Boyolali. Mereka bilang di Boyolali ada sekitar sepuluh radio komunitas, dengan beragam latar belakang tentunya. Aku juga dengar, dengan jaringan radio komunitas ini akan memperkuat posisi radio komunitas sehingga punya posisi tawar dalam mendesakkan agenda ke pemerintah daerah. Contohnya adalah soal kedaulatan pangan di Boyolali. Wah.. mulia sekaliūüôā.

Eiits.. tunggu dulu. Coba perhatikan alur logika yang dibangun, para pegiat radio dikumpulkan dalam sebuah rapat. Kemudian langsung berbicara jaringan dan menaruh harapan besar terhadapnya. Seolah ketika sudah ada jaringan semua masalah bisa selesai. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Dengan jaringan apa saja bisa dilakukan, sampai mendesakan agenda ke pemerintah daerah. Wow… logika linier banget.

Perlu diingat, Jaringan bukanlah kata sakti. Ketika menggunakan “membangun jaringan” seolah semua masalah bisa teratasi. Kata jaringan bukan sebagai kata sakti dapat kita temui pada kata-kata lain, misalnya Partisipatif, Berkelanjutan, Berkeadilan, Keadilan Gender, dll. Menggunakan kata-kata ini seolah setengah dari persoalan sudah selesai. Hehehehe… kata-kata ini sangat meninabobokan.

Kata-kata tersebut adalah kata-kata yang merujuk pada sebuah Keadaan atau Situasi yang abstrak dan multiinterpretatif. Seringkali kata-kata ini hanya¬† berakhir sebagai mantra dan tidak ada bentuk kongkret yang lahir. Hal ini sering ditemui di dunia NGO dan pemerintah. ketika melihat sebuah masalah di masyarakat, si aktivis NGO atau aparat pemerintah dengan enteng mengatakan “oh.. yang kita butuhkan adalah pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu, kita perlu membangun jaringan yang kuat. Semuanya akan kita libatkan dengan partisipatif dan berkeadilan. Peran-peran perempuan juga ada karena kita harus menegakkan keadilan gender!” Nah lho…?? hehehehe.. Sakti gak mantra ini? Sudah selesai separuh dari masalah yang ada di¬† masyarakat. hehehehe

Hati-hati dalam menggunakan kata-kata ini. Pilihlah kata-kata yang lebih kongkret dan bisa diukur. Jangan terlalu percaya pada logika linier seperti yang kita temui dalam kutipan kalimat di atas. Bila perlu kurangi penggunaan kata-kata itu, karena seringkali menjebak dan meninabobokan kita. Namun yang lebih penting adalah mengerti substansi untuk masing-masing mantra tersebut.

Jaringan misalnya. Oke, tidak apa-apa kalo membuat jaringan karena kerja secara kolektif biasanya lebih menguntungkan. Yang perlu dipikirkan adalah mekanisme jaringannya. Seringkali saya lihat orang terjebak pada logika jaringan dalam bentuk fisik; Pertemuan fisik, dan organisasi fisik ada struktur pengurus dan ada sekretariatnya. Kalo menurutku, dari pengalaman juga, jaringan yang terlalu memperhatikan persoalan fisik ini akan cenderung gagal. Jika pun bertahan, tidaklah lama. Kurangilah hal-hal yang berbau fisik karena hal ini bersifat melelahkan. Contohnya adalah pertemuan empat radio di Boyolali ini. Berapa biaya, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan. aku tidak menolak pertemuan fisik, cuma kuragi intensitasnya. Pertemuan fisik biasanya lebih kental dengan gesekan-gesekan kepentingan yang menimbulkan konflik yang bersifat merusak.

Hal yang lebih penting adalah pengorganisiran ide dan pikiran. Pengorganisiran ini tidak harus melalui pertemuan-pertemuan fisik. Menulis, membuat produk audio, menyelenggarakan workshop, seminar, dan lainnya, adalah bentuk-bentuk  pengorganisiran ide atau pikiran. Yang penting adalah berkarya. Jaringan tidak selesai dengan rapat dan pertemuan yang membahas detail tentang jobdes masing-masing lembaga yang terlibat dalam jaringan tersebut. Cukup membangun soliditas melalui karya-karya kita yang mempengaruhi opini dan cara pandang orang lain atau lembaga lain. Pertemuan fisik dilakukan pada momen-momen krusial saja. Bisa saja membuat portal dimana masing-masing lembaga bisa bersuara dengan bebas. Contoh jaringan virtual melalui web ini bisa ditemui di suarakomunitas.com, balebengong.net, dll.

4 thoughts on “Jaringan, Berkelanjutan, dll: Mantra Sakti?

  1. kapan2 bikin buat petani di boyolali juga dong. di sana banyak petani bagus yg peduli pada pertanian organik..

    ken2 carane biar bisa dapat fasilitasi dari kamu, bli bagus?

  2. kalo yang petani sedang dibangun juga, mas Anton. ada di pasar-tani.com. Masih coba-coba juga, karena belum punya pengalaman yang bagus dalam isu-isu ekonomi. Biasanya di isu-isu sosial dan politik.
    fasilitasi gimana mas? heheehehe, sloka institute dan bale bengong dah keren gitu.. isinya juga para jurnalis senior.

  3. bos….., aku ada stasiun radio pemancar di boyolali sektor timur….., cuma aku belum tau untuk dibawa ke arah mana?, dalam hal ini kami bergerak dalam hiburan saja……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s