Simulasi dengan Pikiran

Aku sering melakukan simulasi dengan pikiran, dan sepanjang ingatanku selalu terbukti manjur. Salah satu simulasi pikiran yang kulakukan dengan intensif akhir-akhir ini adalah kemampuan menyetir mobil. Sudah lama mengidam-idamkan bisa mengendalikan mobil dengan sempurna, tapi belum pernah ada kesempatan. Maklum tidak punya mobil untuk berlatih. Kere. hehehehe.

Bermimpilah, maka alam semesta akan menjawabnya. Yup, aku bermimpi bahwa suatu saat aku akan kerja di sebuah tempat yang memiliki mobil kantor. hehehehe.., walaupun terkesan mimpi yang minimalis, tapi sangat asik sekali punya mimpi semacam ini. Bekerja di sebuah kantor yang punya mobil sehingga bisa dipakai untuk belajar menyetir mobil. Wah… banget rasanya. Mimpi sederhana yang selalu membuat tersenyum dan bersemangat. Sejak awal kuliah sudah tertanam mimpi ini. Akhirnya tercapai, tentu dengan cara yang unik yang didesain oleh alam semesta🙂.

Sembari terus bermimpi, aku melakukan simulasi menyetir dalam pikiran. Dalam kultur Jawa ada metode belajar yang menarik yaitu Titen atau Niteni yang artinya Perhatikan dengan Teliti. Iya, sejak aku mencancapkan mimpiku dengan kuat, aku niteni setiap supir yang kujumpa, dalam angkot, rental mobil, teman, bis kota, atau orang yang lalu lalang di jalan. Perhatikan dengan detail dan mulailah melakukan simulasi. Dulu waktu SMA pernah juga menyetir mobil kecil produksi Mitsubhisi tahun 70-80an. Sejenis suzuki ST, kecil mungil. Tapi saat itu cuma belajar muter-muter di lapangan dan cuma 3 kali latihan. Niteni dan secuil pengalaman dulu memudahkanku melakukan simulasi.

Melakukan simulasi dalam pikiran kuncinya adalah Merasakan. Seperti kata Luh Ketut Suryani ketika mengajarkan meditasi, bahwa yang perlu diperhatikan adalah Merasakan kekuatan alam yang ada di sekitar kita dan merasakan diri kita. Bukan memikirkannya. Jadi, ketika melakukan simulasi menyetir aku merasakan bahwa sedang menyetir mobil sungguhan. Setiap otot secara otomatis bergerak, ketegangan hadir, desiran angin terasa membelai wajah, tangan dan kaki seolah sedang bekerja harmonis menguasai mobil-imajinerku. Rasakanlah, maka mobilmu akan hadir dalam pikiranmu.

Tentu tidak dilakukan sekali dua kali, tapi kulakukan setiap saat, khususnya jika sedang duduk di sebelah supir yang sedang asik mengendalikan kuda (baca: mobil). Saat mobil berbelok, meliuk-liuk di jalanan, tangan dan kakiku seolah yang sedang mengontrolnya. Keren deh rasanya. Semakin lama, terasa semakin mahir. Sampai titik aku yakin aku bisa menyetir mobil, benar-benar yakin.

Tibalah peran alam semesta untuk menghadirkan mobil yang sebenarnya di kantorku yang tercinta. Mobil dikirim dari proyek tsunami di Aceh. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja mobil ini bisa teronggok di kantorku di Jogja ketika aku sedang berkeliling setengah Pulau Jawa.

Minggu kedua mobil ini ada di kantor, saat dimana puncak kesibukan terjadi dalam persiapan workshop nasional untuk menyambut pemilu 2009. Tiba-tiba saja aku mengatakan ke Iwan, temen kantorku, bahwa aku ingin menyetir mobil. Kami saat itu sedang muter sana-sini untuk persiapan workshop sampai larut malam. Si Iwan pun mengiyakan keinginanku. Tibalah aku dengan mobil sebenarnya. Weeeessss…. mobil berjalan. Tidak ada kesulitan yang berarti, bahkan aku langsung bisa masuk ke jalan-jalan kecil menuju rumahku. Latihan ini cuma 5 menit. Di hari selanjutnya, 5 menit lagi.

Rabu, 6 Mei 2009, aku dan tim berangkat ke Salatiga untuk diskusi dengan serikat petani, SPPQT. Kami berdiskusi sampai malam, 21.00. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Gedongsongo, Ungaran. Sekali lagi, aku dengan yakin meminta untuk menggantikan peran pada pak Supir, Ali. Aku berkonsentrasi pada semua yang sudah aku pelajari melalui simulasi pikiran. Hasilnya, weeesssssss… mobil melaju dalam liuk-liuk jalan pedesaan sepanjang Salatiga menuju Ambarawa. Dan lancar mendaki jalan menanjak dari Ambarawa ke Gedong Songo.

Terakhir, saat waktu-waktu istirahat dalam pertemuan dengan paguyuban kelompok tani di Gedong Songo, aku memandang mobil kantor yang terparkir rapi dalam ruang yang relatif sempit. Aku berkonsentrasi untuk melakukan simulasi pikiran lagi untuk memutar mobil agar berbalik arah. Kuperhatikan sudut-sudutnya. Kurasakan otot-otot kakiku menginjak dan melepas kopling, rem, dan gas. Otot-otot tanganku bergerak-gerak kecil seolah sedang bergelut dengan stir mobil. Setelah pertemuan selesai, aku meminta kunci dan bertekad untuk memutar balik mobil. Tepat sesuai dengan simulasi, tangan dan kaki bergerak lincah. Akhirnya, mobil berhasil kukendalikan dengan sempurna.

One thought on “Simulasi dengan Pikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s