Penyuluhan

“Saya sengat senang mengikuti penyuluhan ini, karena bisa menambah pengetahuan baru dan cara belajarnya berbeda dengan yang lain”. Hah… Penyuluhan?? Jadul banget kata ini. Sudah terasa asing di telinga. Tetapi, dalam beberapa kali kesempatan aku sering mendengar kalimat yang ada kata Penyuluhan-nya dari para peserta pelatihan (baca: pendidikan). Terasa aneh di telinga, tapi itu fakta yang gampang kita temui di pedesaan saat membuat sebuah forum pendidikan.

Setahuku, penyuluhan berasal dari kata Suluh, bahasa Jawa. Suluh berarti lentera, lampu, penerang. Sehingga ketika ada awalan Pe- dan aakhiran -an menjadi kata benda yang kurang lebih berarti Penerangan. Penerangan…, berarti ada sesuatu yang sebelumnya gelap sehingga membutuhkan sesuatu yang terang untuk lepas dari jaman jahiliyah. hehehehe. Pendek kata, ketika ada sebuah penyuluhan di sebuah desa ini berarti desa tersebut sebelumnya berada dalam jaman kegelapan.

Saat ini, kata penyuluhan bagi banyak kalangan, khususnya dari pegiat organisasi sosial non pemerintah, telah kehilangan pamornya. Pertama, diakibatkan karena makna inti dari kata ini kurang tepat, masyarakat ditempatkan sedang berada pada jaman kegelapan itu. Kedua, kata ini kehilangan pamornya karena ada proses peyorasi. Pada jaman Orba, kata ini begitu digandrungi seolah menjadi obat mujarab untuk pembangunan masyarakat. Namun sekarang, saat dimana Orba telah kehilangan citranya, kata ini pun juga mengalami nasib yang serupa. Kata yang dulunya berarti “baik” sekarang berubah menjadi kata yang berkonotasi “buruk”.

Terakhir, kata penyuluhan juga sudah tergantikan dengan istilah lain yang dianggap lebih manusiawi yaitu pendidikan, fasilitasi forum, peningkatan kapasitas (training/pelatihan), dll. Penggantian kata penyuluhan ini dengan istilah-istilah baru ini tidak kurang dari peran simbah Paulo Freire ketika mengungkapkan teori sosial tentang pendidikan yang dialogis. Masyarakat ditempatkan sebagai aktor, bukan sebagai objek, di mana masyarakat memiliki pengetahuannya sendiri. Pengetahuan-pengetahuan lokal dihargai, dan dialog diutamakan sebagai proses belajar bersama. Tidak ada lagi istilah menggurui atau memberi bimbingan, namun proses belajar bersama.

Sedikit demi sedikit kata ini menghilang, dari kalangan akademisi, pegiat organisasi-organisasi sosial, pemerintah, sampai aktivis warga. Namun harus diakui, setelah 11 tahun reformasi kata ini tetap mengakar di kalangan masyarakat pedesaan, atau mungkin di daerah perkotaan juga. Jika sebelum-sebelumnya saya menemui bahwa yang menyatakan kata ini berasal dari generasi tua, kelahiran tahun 60-70an, maka aku tidaklah heran. Mereka dibesarkan dalam masa Orba. Tapi kemaren saya di Gedong Songo, saya menemui anak-anak kelahiran sesaat sebelum Orba tumbang masih dengan fasih menggunakan kata Penyuluhan dan saat itu pula saya shock berat, cuma bisa tersenyum beku.

One thought on “Penyuluhan

  1. oh…. begitu ya…
    istilah memang penting, namun yang lebih penting prakteknya. begitu kata pekak di karangasem. nice blog bli tut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s