Digital Gap

Ada satu kalimat yang mengatakan kurang lebih seperti ini “Kemajuan sebuah bangsa dapat diukur salah satunya dari penggunaan teknologi, khususnya di bidang komunikasi dan informasi”. Kalimat ini ingin menyatakan bahwa semakin besar serapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dari sebuah bangsa maka berpengaruh besar terhadap kemajuannya. Banyak orang mempercayai logika kalimat ini, terlepas dari hal ini bisa diperdebatkan dengan panjang.

Kalimat ini juga didukung oleh satu faktor penentu bahwa pemilik informasi pada masa ini ialah sang raja. Semakin banyak informasi yang dimilikinya maka bisa diartikan semakin besar pengetahuan yang dimilikinya, kurang lebih begitu kata filsuf botak yang selalu tersenyum dalam setiap fotonya, Michael Foucault. Pengetahuan adalah Kuasa.

Berdasarkan premis ini, setiap orang di bangsa ini, Indonesia, harus memiliki akses yang mudah terhadap informasi dan pengetahuan. Tidak ada pengecualian, setiap orang punya hak dan wajib memiliki dan menggunakan akses informasi dan komunikasi untuk kemajuan bangsa ini. Dari sini pulalah, banyak lembaga-lembaga baik dari pemerintah maupun bukan memperkenalkan TIK sampai ke pelosok-pelosok desa.

Namun seringkali ada kritikan pedas yang menyatakan bahwa kegiatan pengenalan TIK pada semua lapis masyarakat adalah sesuatu yang konyol. Tidak mungkin mengenalkan komputer dan internet pada seorang petani kecil atau ibu pedagang di sudut pasar desa. Memang betul, pengenalan TIK pada lapis masyarakat bawah susahnya minta ampun, ada segudang hambatan. Akan tetapi, bukan berarti kemudian upaya ini dihentikan karena alasan bahwa petani dan pedagang kecil tidak mungkin mengenal TIK lebih dalam.

Tunggu dulu, kritikan itu tidak sepenuhnya benar. Ingat fenomena HP (hand phone/mobile phone) di akhir dekade 90an? Di akhir 90an, HP dan layanan komunikasinya sangatlah mahal. harga nomer perdana mencapai jutaan rupiah, harga pulsa yang melangit, dan jaringan sinyal juga terbatas. Tidak terbayangkan saat itu kalau keadaannya seperti sekarang ini, hampir setiap orang punya HP bahkan lebih dari satu. Orang yang tidak membawa HP saat ini adalah “alien” di lingkungannya, terasa aneh.

Logika perkembangan HP ini juga bisa ditemui pada pertumbuhan komputer dan internet–cari sendiri datanya ya.., ada banyak koq yang menyebutkan pertumbuhan pesat perkembangan penggunaan TIK di masyarakat Indonesia. Atau kalau punya blog di wordpress bisa dilihat di header-nya ketika sudah login tentang pertumbuhan blog per detiknya di dunia. Luar biasa deh.

Logika pertumbuhan ini seharusnya bisa menggugurkan kritik pesimis bahwa pengenalan TIK di pedesaan adalah kegiatan cuma-cuma. Pertumbuhan TIK ini adalah suatu kepastian di waktu mendatang, tidak lama lagi. Untuk itu, perlu disiapkan dari sekarang agar jangan sampai kita ketinggalan kereta. Saat negara-negara lain sudah mencapai pertumbuhan TIK sampai level 6, misalnya, maka kita seharusnya sudah mencapai pertumbuhan sampai level 7.

Namun yang harus diingat adalah TIK ini harus diorganisir untuk tujuan positif. Literasi TIK dan pengorgansiran harus terus dilakukan agar TIK dapat digunakan dengan tepat. Pengorganisiran di dunia TIK misalnya dapat dilakukan dengan pengembangan web yang berbasis jurnalisme warga, pembangunan webstore untuk masyarakat kecil, dan pengembangan teknologi tepat guna dan terjangkau seperti wajanbolic dan open source.

2 thoughts on “Digital Gap

  1. susahnya mmg kita lebih suka menunggu jadi korban daripada mengantisipasinya. jadi sebelum jadi korban, kita tidak akan bergerak memulainya.

    yowis. yuk kita mulai dari bali. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s