Rujak Ragunan

Menurut pengamatan terakhir, terjadi relokasi besar-besaran pedagang di dalam Kebun Binatang Ragunan. Dulunya, kebun binatang penuh sesak dengan pedagang dan pengunjung, yang menyebabkan sampah ada di mana-mana. Kumuh. Tapi saat ini, mulai tertata. Pedagang-pedagang direlokasi ke bagian luar kebun binatang. Memang, kebijakan relokasi ini pasti tidak populis di mata para pedagang, tapi semua pilihan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung. Sebaliknya, ini menjadi populis di mata pecinta lingkungan, pemerhati fauna, dan pengunjung kebun binatang karena tidak risih dengan tawaran-tawaran pedagang. Kebersihan lebih mudah dikontrol juga. Bersepeda tandem pun menjadi lebih nyaman dan romantis. Mengayuh di bawah pohon-pohon rindang, di sela-sela kandang binatang, dan dalam trek yang agak naik-turun. Eh… tapi bukan ini ide ceritanya.

Ceritanya, relokasi ini tidak kemudian membawa 100% peningkatan layanan pedagang asongan di dalam kebun binatang. Kurang lebih ada 4 jenis pedagang asongan yang masih tersisa dalam kebun binatang yaitu, penjual minuman botol dan kaleng, pedagang es krim, penjual pecel dan gorengan, terakhir adalah penjual rujak. Muter-muter selama dua jam di dalam kebun binatang Ragunan ini cuma sekali melihat pedagang rujak. Dan rujak tersebut langsung dibeli oleh kekasih tercinta.

Aku adalah penggemar berat buah-buahan. Jika tidak dihentikan dengan paksa, aku bisa menghabiskan 2 kg buah-buahan dalam sekali kesempatan. Tapi rujak yang satu ini, ampun deh. Dilihat dari sisi jumlah, tidak seberapa, cuma sebungkus plastik kecil yang berbentuk kotak yang biasanya digunakan untuk membungkus nasi kuning. Beberapa jenis buah-buahan murah seperti timun, kedondong, bengkoang, jambu, pepaya, dan mangga-asem. Setelah melahap rujak ini sendirian dengan rakus, 5 menit kemudian aku tidak bisa berjalan. Perut terasa penuh sesak. Jalan kaki terasa berat dan sesekali harus berhenti karena perut terasa berat sekali. Keanehan pun dimulai.

Keanehan kedua adalah ketika berkunjung ke salah satu tempat makanan favorit, perut sama sekali tidak bisa memuat makanan tersebut. Dalam pikiran terasa lapar, tapi ketika makanan dimasukan ke dalam perut, wuiih… ada yang salah tampaknya. Perut kenyang sekali. Padahal sarapan pagi tidak terlalu banyak, cuma lontong dan pecel, ditambah dua gorengan.

Keanehan ketiga adalah, sesaat setelah makan siang, badan mulai “gregesi”. Hampir semua persedian terasa ngilu, dan kulit terasa nyeri apabila disentuh. Gejala masuk angin. Otot-otot di punggung juga mulai terasa pegel sekaligus nyeri. Aku pikir paling cuma masuk angin biasa. Tapi tampaknya bukan masuk angin, karena aku tidak demam samasekali. Cuma nyeri-nyeri begitu saja. Dan aku mencret.

keanehan-keanehan ini harus kunikmati dalam deruan kereta yang melaju pelan dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Tugu. Di dalam kereta, kuteguk hampir satu setengah liter air mineral, dan kupaksakan makan nasi goreng yang tidak berasa — tidak berasa karena lidahku sudah tidak peka atau memang karena nasi gorengnya yang tidak enak. Minum yang banyak, makan dan tidur yang cukup adalah kunci agar tidak sakit, begitu pikirku saat berada dalam kereta. Sedang mensugesti diri sendiri agar tidak sakit.

Sesampai di rumah jogja, siksaan berlanjut. Tapi kali ini sudah spesifik yaitu mencret saja. Tidak ada lagi gejala-gejalan lain. Dalam sehari, aku harus 14 kali membuang air besar yang cuma terdiri dari cairan dan makanan yang tidak sempurna terolah oleh lambung dan diserap oleh usus. Takut dehidrasi, aku harus selalu menenggak air terus menerus. Total, aku sudah meminum 30 butir norit, 1 butir vitamin C, dan 3 kaleng susu murni yang katanya ampuh untuk menetralkan racun.

Saat menulis blog ini, yang terbayang cuma “sialan, aku sekarang menjadi korban pemalsuan makanan di Jakarta yang sering kulihat di TV”.

5 thoughts on “Rujak Ragunan

  1. aduh, kasian kamu. akhirnya jd korban juga. banyak2 minum air putih. biar sehat kembali. juga jangan lupa dipijit bini. biar greng kembali.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s