Tantangan dalam Bermasyarakat

Beberapa tahun punya pengalaman terjun di dunia LSM, ada fase-fase klimaks dan antiklimaks. Fase klimaks adalah fase di mana kepercayaan sedang tinggi dengan apa yang sedang dilakukan akan membawa perubahan yang besar dan baik di negeri ini. Tapi sebaliknya, di fase antiklimaks, kepercayaan 100% hilang. Hal ini membuat apatisme mencuat dalam hati. Menggugurkan semangat, dan langsung terasa lelah jauh di dalam hati. Berbicara pada fase klimaks ini saya pikir sudah cukup lah. Biarkan publik menguji sendiri tentang keberhasilan-keberhasilan yang diperoleh.

Saat ini saya sedang merasa berada pada fase antiklimaks. Pada umumnya, fase ini muncul mencuat ketika berkunjung dan beraktivitas bersama dengan masyarakat yang sudah biasa menjadi “partner” dari LSM-LSM. Contoh-contoh yang sering saya dengar adalah terjadi di Aceh pasca Tsunami. Bencana terjadi tiga kali di Aceh. Bencana pertama karena gerakan sparatis melawan tentara Indonesia. Perang yang sangat besar memakan korban jiwa, materi, dan modal-modal sosial di masyarakat. Bencana kedua adalah Tsunami di akhir tahun 2004. Ratusan ribu orang terenggut nyawanya akibat bencana ini. Bencana ketiga adalah bantuan-bantuan yang mengalir luar biasa deras dari dalam maupun masyarakat internasional malah “berbalik” memukul. Kata kuncinya adalah bantuan. Bagi saya, tidak semua bantuan bersifat baik. Bantuan bak pisau bermata dua, salah-salah malah melukai diri kita sendiri. (maaf bila ada yang tidak sepakat tentang Aceh sebagai contoh, memang tidak semuanya demikian. Ada juga yang relatif baik).

Berjelajah hampir di seluruh Indonesia ini, menemukan berbagai macam karakter masyarakatnya. Tapi yang selalu menusuk hati adalah soal “bantuan” ini. Semakin sering masyarakat tersebut mendapat “bantuan” maka semakin manja masyarakat tersebut. Pertemuan-pertemuan lebih sering berisi daftar-tuntutan dibanding mimpi dan karya untuk membangun Indonesia. Minta fasilitas ini-itu, tunjangan ini-itu, dan berbagai macam, namun tidak menunjukan karya apapun. Bagi saya, mereka adalah orang-orang pintar (karena sering mengikuti pelatihan) namun malas. Agak kasar memang menggunakan kata malas. Tapi itu yang saya rasakan.

Untuk itu, biasanya saya suka pelit sepelitnya kepada masyarakat. Jika dalam pertemuan dan mulai muncul daftar-tuntutan, maka saya akan mengelak sebisa-bisanya. Saya tidak akan segan-segan tidak memberikan apapun, namun malah menuntut mereka untuk berbuat banyak. Karya dulu baru bantuan. Tanpa karya, jangan pernah meminta bantuan pada siapapun. Memang, tidak selalu berhasil. Tapi ada kalanya, bertemu dengan komunitas-komunitas yang menyimpan mimpi dan semangat juang yang tinggi walaupun tanpa ada daftar-tuntutan. Bertemu mereka inilah merasa terhibur sehibur-sehiburnya.

Sepengalaman saya, LSM harus pelit sepelitnya namun loyal seloyal-loyalnya pada berbagi pengetahuan. Bangunlah mimpi, berilah kecakapan berpikir dan keahlian, dan biarkan mereka berusaha. Memang tidak semudah yang diucapkan. Apalagi ketika bertemu donor yang mengukur perkembangan program berdasarkan serapan dananya. Seberapa besar dana diserap maka sebesar itu pula keberhasilan program yang dijalankan. Laporan dan foto-foto dibuat apik, maka keberhasilan program diukur dari situ. Wuih… Beberapa teman saya sempat keluar dari pekerjaan karena logika ini. Untungnya saya belum bertemu kasus yang ekstrim ini.

Ini adalah pojok gelap dalam pergaulan LSM dengan masyarakat. Masih banyak memang LSM yang memegang idealismenya, namun tidak jarang juga mereka harus terjebak pada keadaan-keadaan yang menyebabkan terjerembab pada pojok gelap ini. Maka pantas kiranya jika saya ingin memutar haluan untuk bekerja di sektor swasta saja. Sering saya merasa sektor swasta lebih memiliki manfaat dibanding yang dikerjakan oleh LSM. Untuk itu, jangan pernah berbicara bantuan di hadapan masyarakat, bicaralah mengenai berbagi pengetahuan dan mari bersama membangun mimpi dan semangat.

(curhat karena sedang berada pada fase antiklimaks)

4 thoughts on “Tantangan dalam Bermasyarakat

  1. dulu aku juga berpikir begitu. apalagi setelah bertandang ke aceh dan nias, yang terlanda musibah tsunami ke-2 berupa bantuan material yang membunuh kemandirian masyarakat
    namun, setelah kemarin muter-muter di punggung sumatra untuk kegiatan evaluasi program sebuah lsm, yang memberikan bantuan material namun tidak memanjakan, justru sebaliknya, dapat menumbuhkan kembali nilai-nilai kebijaksanaan lokal dan solidaritas masyarakat melalui SHG-SHG, saat itulah harapanku pada kegiatan pemberdayaan masyarakat mulai berbinar kembali

  2. huahahahahaha…. untungnya kamu jadi evaluator jadi optimisme muncul dengan melihat keberhasilan-keberhasilan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s