Bercacing

Bertani organik dan subsisten bukanlah hal yang sulit dilakukan. Siapapun bisa melakukannya. Berikut ini saya mau 01berbagi pengetahuan tentang mengembangbiakan cacing. Cacing dalam siklus rantai makanan dalam sebuah ekosistem berada pada urutan terbawah. Dia adalah mahluk pengurai. Nah, karena cacing adalah makhluk yang berada pada urutan terbawah dalam jaring makanan, maka keberadaannya sangat penting dan  merupakan keharusan. Apalagi bagi orang-orang yang sudah memulai menanam dengan cara organik, silakan memikirkan tentang peranan cacing lagi. Artikel ini dibuat dari pengalaman sendiri dan hasil berguru pada Empu Baning.

Cacing adalah salah satu kunci yang menentukan kesuburan tanah. Semakin banyak cacing di sebuah area, maka semakin subur pula area tersebut. Cacing adalah salah satu indikator untuk melihat kesuburan tanah. Tidak itu saja, cacing adalah sumber protein tinggi bagi makhluk hidup lainnya, termasuk manusia. Cacing juga bisa menguraikan sampah menjadi bahan-bahan organis yang sudah terurai dan tidak berbahaya lagi. Oleh karena itu, cacing sangat penting berperan dalam pertanian terpadu (integrated farming). Mari kita membuat simulasi sederhana tentang pertanian terpadu khususnya yang berkaitan pengembangan dan peranan cacing.

1Buatlah rumah cacing seperti ditunjukan dalam foto ini. Buat kotak-kotak persegi yang berjumlah total 6 kotak. Masing-masing kotak bersisi 1 meter. Susunslah kotak-kotak tersebut menjadi persegi panjang dengan ukuran 2 meter kali 3 meter. Sehingga total luas 6 kotak ini adalah 2mX3m= 6 M2.Tinggi dinding untuk masing-maisng kotak adalah 20 cm, atau setinggi dua tumpuk batako/bata/ dll. Dinding di masing-masing kotak dilubangi. Lubang ini akan menjadi pintu gerbang bagi cacing untuk berpindah-pindah ke kotak-kotak lainnya. Lapisi bagian bawah dari masing-masing kotak dengan semen atau plastik, atau apapun yang membuat cacing tidak mudah lari. Walaupun biasanya cacing tidak akan lari ke tanah terbuka, karena cacing akan memilih tempat yang jumlah makanannya banyak dan lembab. Setelah kotak-kotak ini selesai, maka mulailah menanam cacing. Pada kotak pertama, masukkanlah teletong (kotoran sapi) atau kotoran kambing. Atau kotoran apapun pada intinya bisa. Kotoran yang dimasukan sebaiknya sudah setengah “matang”. artinya tidak “fresh from the oven”, hehehehe.

Teletong ini kemudian dicampur dengan debog (batang pisang) yang dicacah kecil-kecil. Debog ini berfungsi untuk 3mengontrol kelembaban dan sebagai makanan favorit cacing juga. Masukan juga bahan-bahan organik yang mudah busuk. Daun-daunan klereside misalnya. Cacah daun-daun atau bahan-bahan organik tersebut sampai terpotong kecil-kecil. Kemudian, campur semua bahan dan masukan ke kotak satu. Isi kotak sampai ketinggian 10 cm. Jumlah adonan tadi tidak ada takaran pasti, gunakanlah “feeling” anda ketika membuat adonan tersebut. Bahan yang terbanyak adalah teletong, kemudian debog, dan daun-daunan. Jika menggunakan kotoran kambing (intil), rendamlah telebih dahulu selama 3 hari. Ini agar intil menjadi lunak dan mudah dimakan atau diurai oleh cacing.

Idealnya, dengan jumlah makanan dalam kotak satu ini, mampu menampung cacing sebanyak 10 Kg. Cacing yang digunakandi sini adalah cacing sampah, lumbrecus numeulus (kalo gak salah mengeja ya,hehehe). Kita akan pergunakan perhitungan ideal ini. 10 Kg cacing tersebut dimasukan ke dalam kotak satu. Dalam waktu 20 hari, makanan ini akan habis termakan oleh cacing tersebut dan sudah menjadi pupuk cacing yang baik, Kascing. Tapi hentikan pikiran anda tentang ini. Kita kembali ke siklus hidup.

Cacing dimasukan ke kotak pertama. 15 hari kemudian, masukanlah adonan yang sama seperti dalam kotak satu ke kotak kedua, dan biarkanlah selama 2-3 hari. Setelah itu, buka pembatas pintu agar kotak satu dengan kotak dua terhubung. Makanan di kotak satu sudah mulai habis pada saat ini, dan secara naluriah, cacing akan bergerak menuju tempat yang banyak makanannya yaitu kotak kedua. Cacing secara berbondong-bondong menuju kotak kedua. Pada kotak pertama, jangan diambil adonan yang sudah ditinggalkan oleh cacing walaupun sudah menjadi pupuk yang baik karena di situ banyak terdapat telur-telur dan anak-anak cacing.

15 hari setelah cacing bertempat tinggal di kotak kedua, mulailah mengisi kotak ketiga dengan adonan yang sama. Pada 2saat ini pula, anak-anak cacing pada kotak pertama sudah besar dan pindah ke kotak kedua (anak cacing pindah dari kotak satu ke kotak kedua). Di kotak kedua yang ditinggalkan oleh induk cacing itu, juga banyak berisi telur dan  anak. 20 hari kemudian setelah induk cacing  pindah dari kotak ketiga menuju keempat. Anak-anak cacing yang berada di kotak-kotak kedua juga akan pindah ke kotak ketiga atau kotak keempat juga. Perputaran cacing ini dari kotak ke kotak akan berakhir pada kotak kelima. Pada hari ke-20 di kotak kelima ini, ambilah cacing-cacing tersebut dan lakukan penyortiran. Jumlah cacing yang diambil di kotak kelima ini biasanya berjumlah dua kali lipat dari jumlah awal yang dimasukan, berarti akan ada kurang lebih 20 Kg cacing di kotak kelima ini. Pada saat ini pula, adonan di kotak pertama sudah boleh diambil dan digunakan sebagai pupuk. Pada pupuk ini akan ada sedikit anak dan telur yang tertinggal, sehingga ketika disebar ke lahan kita, cacing-cacing tersebut juga akan berkembang biak.

Tentukanlah pilihan kita saat ini, cacing yang berada di siklus ini harus berjumlah stabil yaitu 10 Kg. Berarti kita memiliki 10 Kg cacing lebih. Cacing ini bisa digunakan untuk sumber makanan bagi bebek, ayam, dan lele. Cacing adalah sumber protein yang tinggi dan alami, sehingga pasti akan digemari oleh ternak. Atau bisa juga, 10 Kg cacing tersebut digunakan untuk membuat perkembangbiakan cacing yang lainnya. Pemberian cacing pada ternak, sedikit demi sedikit menghilangkan ketergantungan pada pakan ternak dari pabrik. Selain itu, pupuk yang dihasilkan untuk lahan kita akan sangat menyuburkan lahan tersebut. Siklus pertanian terpadu setahap demi tahap mulai dibangun.

Cacing-cacing induk akan tumbuh besar sebesar tiga perempat dari pulpen/balpoin. Cacing-cacing ini cukup rakus memakan adonan sehingga proses menjadi pupuk lebih cepat. Selain itu, bertelur lebih banyak. Cacing induk ini bisa diambil untuk manjadi bahan makanan ternak lain atau dikembangbiakkan lagi.Baiknya, biarkan induk cacing ini sampai satu putaran lagi baru kemudian dipanen dan diberikan pada ternak.

Hal penting yang perlu diingat adalah, cacing memiliki musuh alami yaitu semut dan tikus. Semut bisa memakan habis cacing-cacing anda dalam waktu yang amat singkat. Ada tips untuk menghindari ini, jagalah agar adonan tetap lembab. Selain cacing memang membutuhkan kelembaban, juga membuat semut tidak nyaman. Siram 2-3 hari sekali media ini, dan bolak-balik adonan yang ada agar semua adonan termakan sempurna oleh cacing. Semut juga tidak suka kalo adonan dibolak-balik secara teratur karena akan merusak rumah dan jalan semut menjadi rusak. Kalau tikus, berilah penutup di atas kotak-kotak ini. Tapi jangan rapat-rapat, cacingnya gak bisa napas.

Harga cacing memang relatif mahal. Tapi ingat, jika alur ekosistem di lahan berjalan mendekati sempurna maka harga cacing tidak sebanding dengan hasil yang didapat dari pertanian terpadu ini.

3 thoughts on “Bercacing

  1. hehe, ini kok jadi nyaingi bu kartini si ratu cacing. haha..

    btw, katanya mau mudik. kapan? ketemuan dong. biar aku berguru soal combine sama kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s