Pendidikan melalui Wayang

wayang damenTerlihat ‘nyeleneh’, tapi di balik itu ada pemikiran yang cerdas dan kreatif. Selain itu, ada keberanian yang tersurat untuk mendobrak ‘pakem’ (aturan yang sudah baku). Itulah yang ditampilkan oleh Alif yang hangat disapa Gendut dengan inovasinya dalam dunia pewayangan.

Wayang yang dimainkan oleh Gendut berasal dari ‘damen’ (Jerami), tidak seperti wayang biasanya yang dibuat oleh kulit hewan. Wayang Damen yang dibuat ini hampir berkebalikan total dengan Wayang-Purwa, wayang yang dari dulu sudah kita kenal.

Dobrakan yang dilakukan pemuda bertampang sangar namun penuh senyum ini bertujuan untuk mengembalikan wayang pada fungsi dasarnya yaitu media pendidikan dan media hiburan bagi masyarakat. Wayang Damen ini adalah salah satu upaya melakukan penguatan kembali terhadap budaya wayang di kehidupan kita, khususnya masyarakat Jawa dan Bali.

Pemilihan damen berdasarkan pertimbangan yang matang. Pertimbangan pertama karena masyarakat kita memiliki karakter pertanian yang kuat. Kedua, damen sering dianggap limbah yang fungsinya cuma untuk makan sapi di musim kemarau. Terakhir, masyarakat diharapkan ingat terus dengan alam di sekitarnya, oleh sebab itu Wayang Damen ini oleh beberapa pihak disebut juga Wayang Alam.

Setiap orang dengan mudah meniru Wayang Damen ini, “Di situlah kuncinya, semakin banyak orang meniru model wayang ini berarti budaya wayang akan semakin membumi”, ungkap Alif. Di samping mudah dibuat, wayang ini juga mudah dimainkan sesuai dengan skenario yang kita buat sendiri dan penokohan yang kita bangun sendiri juga.

Wayang Damen ini sangat cocok untuk media pendidikan bagi anak-anak dan pemuda-pemudi. Selain karena dalam setiap cerita yang dimainkan sarat dengan unsur-unsur ajaran moral, kemudahan Wayang Damen memikat hati untuk ikut terlibat dan mencoba membuatnya.

Ketika anak-anak, siswa sekolah dasar sampai sekolah menengah umum terlibat dalam proses Wayang Damen, maka mereka akan belajar beberapa hal. Pertama, anak-anak atau para siswa akan belajar dengan kreatif untuk belajar karakter-karakter orang dan memvisualisasikannya dalam bentuk wayang. Karakter ibu rumah tangga tentu berbeda dengan gadis remaja. Setiap orang diminta teliti mengamati karakter-karakter semacam ini.

Kedua, anak-anak dan para siswa akan terlatih mentalnya untuk tampil di depan publik dan menyatakan apa yang dipikirkannya. Setiap orang harus menjadi dalang atas wayang yang telah dibuatnya.

Ketiga, kemampuan membangun dialog sangat teruji melalui media ini. Semua anak dan siswa harus belajar membangun dialog agar orang lain dapat menerima dan mengerti apa yang dimaksudkan.

Terakhir, membuat cerita dari kehidupan sehari-hari merupakan proses refleksi yang sangat berharga. Anak-anak dan para siswa yang membuat cerita dan kehidupannya akan berefleksi dan mengetahui yang mana baik dan benar. Sehingga, proses refleksi ini adalah proses pendewasaan yang luar biasa.

Semua hal ini dilakukan dengan senang dan merupakan kegiatan bermain. Tidak ada beban belajar dalam cara pendidikan ini. Hal ini adalah pendidikan alternatif bagi anak dan para siswa.

Atas dasar inilah, Alif membuka workshop bagi siapa saja untuk belajar lebih lanjut mengenai Wayang Damen. Serta, melalui Radio Komunitas Balai Budaya Minomartani (BBM) mendukung workshop dengan fasilitas kesenian lainnya, siap menerima kunjungan dari siapa saja yang tertarik di dunia seni untuk pendidikan.

3 thoughts on “Pendidikan melalui Wayang

  1. Di tengah-tengah kegiatan/hobi para remaja dan pemuda saat ini, ternyata masih ada orang/komunitas yang peduli terhadap kebudayaan Jawa. Tidak menyangka, kalau dari untaian batang padi bisa tercipta sebuah permainan (dolanan, jawa red), ide dan sebuah konsep dalam memvisualisakan sebuah cerita/lakon kehidupan sehari-hari yang bertujuan untuk hiburan sekaligus pendidikan moral bagi anak-anak maupun orang dewasa. Cara ini juga bisa digunakan untuk memancing/memotivasi anak-anak untuk tetap mencintai budayanya sendiri (Jawa, red). -Tetap konsisten dalam melangkah-.

  2. Saya salut dan ajungi jempol buat Alif,munkin proses kreativitasnya berupa wayang damen[jermi] menambah kekasanahan budaya indonesia .semoga para pumuda-pemudi indonesia mencintai seni wayang ini.sehingga mendatang Alif-Alif lain akan bermunculkan Dan menemukaqn ide-ide baru lagi bagi perkembangan budaya indonesia yang mendunia.

  3. Saya waktu masih kecil di desa (Temanggung) sering membuat wayang semacam ini, saya kira wayang semacam ini perlu dilestarikan agar tidak punah. Saya salut sama mas Alif yang masih mau nguri-nguri budaya ini…saya ucapkan selamat berjuang dengan “Wayang Damen”nya..jangan patah semangat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s