Nama Daerah Transmigrasi

Menyenangkan bisa berkunjung ke sebuah wilayah yang dari dulu ingin dikunjungi. Kalimantan. Entah kenapa saya dari dulu tertarik berkunjung ke Kalimantan. Sekedar melihat secara langsung yang disebut dengan gambut, kebakaran, hutan, dan orang utan juga—untuk yang terakhir ini saya belum sempat temukan.

Akhirnya saya menginjakan kaki juga di Kalimantan, Banjarbaru tepatnya. Dari sini langsung meluncur ke Kuala Kapuas, salah satu kota tua di Kalimantan Tengah. Naik Ford Ranger, rasanya memang benar kata orang Jawa, “ono hergo ono rupo”. Di jalan yang berlubang, bergelombang, berpasir, berlumpur, dengan kata lain di segala medan, dapat dilibas dengan enteng dalam kecepatan tinggi di atas 100Km/jam. Tanpa terasa gonjangan yang berarti. Weleh… koq malah promosi :p. Berhenti sejenak di Kuala Kapuas ini di kantor bersama 3 lembaga yaitu Care, Cakrawala Indonesia, dan Cakrawala Hijau Indonesia, kemudian meluncur ke Desa Lamunti. Sebuah kawasan yang penuh dengan trasmigran.

Masing-masing daerah dinamai dengan tidak manusiawi, menimal menurut saya. Dengan enak saja menyebut daerah A1, A2, B3, D4, G6, dst. Tidak ada alasan filosofis dan dasar sejarah yang biasanya melekat pada nama daerah. Dulu waktu SMP dan SMA saya sering dengan model penamaan seperti ini, tapi waktu itu terasa biasa saja. Dengan alasan yang logis, bahwa kawasan tersebut daerah baru sehingga tidak menjadi masalah jika diberi nama dengan penomeran seperti ini.

Namun ketika saya berada di lokasi untuk sehari semalam, saya mendapatkan kesan yang berbeda. Penamaan dengan penomeran ini tidaklah manusiawi, layaknya robot atau mesin. Saya sebagai orang baru merasa risih dengan penamaan ini. Kesan yang saya tangkap adalah bidang-bidang tanah yang terkotak-kotak dengan kehidupan sosial budaya yang minimalis sekali.

Sebagian dari kesan saya ini, saya yakini benar adanya. Misalnya, penduduk yang ditransmigrasikan ke daerah ini dipaksa untuk menanam padi, khususnya pada era Soeharto. Beberapa pertanian lainnya juga dikembangkan. Setahu saya, pertanian adalah produk peradaban manusia atau sebaliknya, pertanian juga memberpengaruh terhadap perkembangan peradaban manusia. Daerah agraris memiliki karakter yang berbeda dengan daerah industri dan maritim. Masing-masing punya karakter sosial budaya yang berbeda. Artinya pertanian tidak semata kegiatan menghasilkan produk saja, namun pertanian memiliki nilai-nilai sosial budaya juga. Contoh saja di Jawa dan di daerah-daerah lainnya, berbagai alat-alat pertanian dan berbagai teknik bertani selalu ada nilai dan landasan filosofinya. Mulai dari alat-alat seperti cangkul, arit, dll, kemudian teknik seperti ngeluku, sampai pada syukuran sebelum menanam dan sesudah panen, semuanya ada kandungan filosofinya. Tidak semata kegiatan ekonomi.

Nama daerah juga seperti itu, selalu ada sejarah, filosofi, dan kandungan sosial budaya di dalamnya. Sehingga saat sebuah daerah diberi nama dengan penomeran, saya merasa ada banyak hal yang cantik yang hilang, tereduksi pada aktivitas ekonomi semata. Tidak ada “greget” yang dirasakan.

Apa susahnya sih memberi nama, contohnya saja nama-nama daerah lainnya. Jawa misalnya saya gunakan sebagai contoh lagi, ketika suatu daerah memiliki hutan yang asri cukup berikan nama daerah tersebut sebagai Wonosari. Atau jika hutan daerah tersebut telah jadi berikan saja nama pada daerah itu Purwodadi, atau jika ada sejarahnya bisa berikan nama sesuai dengan konteks ceritanya misalnya Tulungagung, Salatiga, dll. Atau seperti nama Majapahit berawal dari cerita sederhana juga dimana saat membuka hutan terdapat banyak pohon Maja. Banyak banget deh, dan semua nama ini diperoleh dengan logika dan cara yang sederhana.

Bagi saya, nama dengan penomeran dibanding dengan nama yang berlatar belakang sejarah dan nilai sosial budaya memiliki implikasi yang jauh berbeda. Sejauh saya berinteraksi dengan masyarakat di daerah transmigrasi ini, tidak ada satu identitas yang bisa membuat mereka bersatu. Aneh sekali rasanya melihat individualisme di daerah perdesaan. Gotong royong saja susah. Menurut saya salah satu penyebabnya adalah tidak ada satu identitas yang menyatukan mereka. Perasaan senasib dan sepenanggungan tidak terjadi.

Memang terlalu dini, tanpa riset yang mendalam, menyimpulkan seperti ini. Namun itulah kesan atau impresi yang saya dapat setelah berinteraksi di daerah transmigrasi ini. Nama adalah indentitas yang penting sebagai kekuatan yang bisa mengintegrasikan masyarakat karena memiliki akar sosial dan budaya yang kuat.

Bagi saya, tidaklah susah memberi nama yang lebih kreatif bagi daerah-daerah tersebut. Jika pemerintah ketika melakukan pemetaan awal pada sebuah wilayah dan menemui sesuatu yang berbeda atau ciri khas, maka lebih baik berilah nama sesuai dengan ciri khas tersebut. Misalnya saya ketika pertama kali datang ke daerah transmigrasi ini disambut dengan kebakaran hutan dengan api yang menjulang tinggi ke langit dan kepulan asap yang tebal maka saya akan memberi nama pada daerah ini yaitu “Kobongan” (bahasa Jawa yang artinya kebakaran).

Nama Kobongan ini yang akan menjadi monumen abadi bagi masyarakat bahwa daerah ini memang rawan kebakaran hutan. Setiap orang yang menyebut nama Kobongan maka dia akan teringat bahwa sejarahnya daerah ini rawan kebakaran sehingga kita semua harus hati-hati menjaga lingkungan. Sekali lagi, nama adalah identitas dan monumen yang penting bagi peradaban manusia.

Coba bandingkan dengan nama berdasarkan penomeran, A1, A2, A3, A4, B1, B2, B3, B4, dst. Apa artinya coba??

3 thoughts on “Nama Daerah Transmigrasi

  1. kalo di papua, ada camp/mess buruh harian lepas untuk karyawan perkebunan kelapa sawit yg penamaannya alpha, beta, charlie, delta dan echo. kalo itu lebih manusiawi gak? aku sempet tinggal di camp delta selama 2 hari… rasanya…. panas dan tidak manusiawi. fiuh…

  2. bagiku itu tidak manusiawi samasekali. Kita bukan robot, melainkan mahkluk yang punya cita dan rasa. Harusnya lebih kreatif dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s