Bergosip

Berkunjung ke salah satu radio komunitas di daerah transmigrasi ternyata membuat hidup semakin terasa ngilu. Sudah menjadi pengetahuan umum tentang perilaku birokrasi dan korupsi yang terjadi di pemerintahan yang seharusnya tidak membuat saya terheran-heran lagi. Tapi entah mengapa jika melihat dengan mata kepala sendiri maka kengiluan seolah hadir menjadi nyata.

Hehehehehe… terkesan melankolis gak ya? Gak segitunya deh. Ceritanya adalah satu hari satu malam di daerah transmigrasi telah mendapatkan banyak cerita. Misalnya tentang kepanikan di musim kemarau karena rawan terjadi kebakaran. Para transmigran yang memiliki lahan perkebunan tentunya ketar-ketir jika lahannya dilahap habis, maka habislah perjuangan hidupnya yang dipupuk bertahun-tahun. Ada lagi soal penamaan yang saya tulis di bagian sebelumnya. Kemudian kurangnya pasokan air bersih di daerah yang dilimpahi sungai-sungai raksasa dan hutan-hutan lebat (walaupun sudah gundul). Dan, bukan yang terakhir, adalah persoalan korupsi.

Radio Komunitas CIB (Creative, Innovative, dan be Better) adalah radio komunitas yang terletak di daerah transmigrasi di Desa Lamunti, Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah. Sebelumnya, ada hal yang aneh dalam penamaan tersebut. Kenapa menggunakan Bahasa Inggris? Gaya sekali dan terkesan ganjen. Pada awalnya Radio Komunitas CIB memiliki kepanjangan tidak seperti di atas, melainkan dulu kepanjangannya adalah Cuek Is the Best. Masih ada Inggris-inggrisnya sih, tapi minimal frase ini sudah sangat umum diketahui masyarakat. Penamaan ini dilatarbelakangi oleh keadaan masyarakat yang sangat apatis terhadap kegiatan-kegiatan sosial bahkan mencomooh dan menuding bahwa kegiatan sosial yang dilakukan melalui radio komunitas tersebut telah mendapat bantuan berjuta-juta dari berbagai pihak.

Berdasarkan tudingan pahit ini, pengelola tetap menjaga semangat dan melanjutkan aktivitasnya. Mereka mencoba cuek terhadap cemoohan dan tudingan tersebut, dan mereka memegang prinsip Cues Is the Best. Jadilah prinsip tersebut menjadi nama radio komunitas. Namun dalam perkembangannya, tidak seharusnya radio bersikap cuek, justru harus bersikap kritis dan perhatian terhadap masalah-masalah sosial yang. Di satu sisi, nama CIB sudah menjadi merk dagang yang sudah dikenal banyak orang. Mau tidak mau, kepanjangannya saja yang diganti maka jadilah Creative, Innovative, dan be Better. Hihihihihihi🙂

Berkeliling dan mendengarkan banyak cerita dari para pengelola radio khususnya tentang tindak tanduk pemerintah dalam lokasi transmigrasi. Awalnya proyek satu juta lahan gambut yang amat ambisius pada tahun 1997 telah membuat berjuta pohon pula yang ditebang. Sekarang tersisa hanya lahan-lahan gundul yang rawan kebakaran.

Setelah lahan habis ditebang, mulailah program ambisius yaitu menanam padi di lahan-lahan yang awalnya hutan. Tantangan terbesar ada pada tanah yang dilapisi gambut amat tebal dan suplai air yang amat tidak layak untuk padi. Akhirnya, proyek ini tinggallah nama dan potensi bencana yang menghantui.

Tidak berhenti di situ, beberapa proyek dilakukan pemerintah yang katanya untuk memerkuat perekonomian masyarakat. Tapi dari sekian proyek yang bergulir, saya belum melihat yang benar-benar berhasil. Tragisnya, salah satu pegiat radio bercerita bahwa dia pernah mengobrol dengan salah satu aparat pemerintah yang secara terus terang mengakui bahwa oknum-oknum pemerintah tersebut dengan sengaja menggagalkan proyek yang dirancang dan dilaksanakan sendiri. Misalnya saja proyek pengembangan pertanian kedelai. Bibit kedelai “sengaja” dikirim pada saat musim tidak mendukung. Setelah itu, pestisida dan pupuk juga sengaja didatangkan dengan terlambat. Alhasil panen dipastikan gagal. Keterlambatan dengan berbagai alasan dijadikan momok kesalahan.

Dasarnya adalah jika proyek gagal, uang masih tetap mengalir, dan ada kesempatan untuk membuat proyek baru yang artinya dapat uang lagi. Semakin banyak proyek gagal semakin banyak kesempatan membuat proyek baru dengan alasan sebagai revisi dari proyek sebelumnya.

Tulisan ini sebenarnya tidak terlalu kuat. Tulisan ini lebih bersifat gosip karena tidak memaparkan fakta-fakta yang kuat untuk menunjang keakuratan informasi yang diberikan. Mungkin saja hal ini dilakukan oleh segelintir oknum saja. Namun apapun itu, keterangan yang saya dapatkan dari beberapa pengurus radio yang sekaligus transmigran ini patut menjadi perhatian untuk Indonesia lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s