Menghabiskan Waktu di Ambon

Keadaan yang tidak memungkinkan untuk pulang dengan pesawat, menyebabkan harus menghabiskan waktu di Kota Ambon selama 3 hari 2 malam. Saya membayangkan akan mendapatkan waktu yang menyenangkan di kota ini sembari saya sembuh total. Tapi ternyata tidak seperti yang dibayangkan.

Setelah pergi dari hotel berbintang empat dari sebuah grup hotel internasional, dengan kolam renang dan taman yang luas mencium bibir pantai, kuputuskan untuk mencari hotel murahan yang bisa dijangkau kantong pribadi. Maklum, hotel berbintang hanya bisa ditempati kalau ada yang membayari saja.

Setelah sampai di hotel yang cukup murah, Guest House Mulia, saya disambut dengan tayangan di Metro TV tentang Indonesia Vs Malaysia. Emh… ada apa nih dengan Metro TV? Cuma stasiun TV ini saja yang secara intensif membicarakan persoalaan ini. Bahasannya pun cukup provokatif. Selama 3 hari 2 malam saya di hotel ini saya selalu melihat tayangan ini. Judul-judul Headline-nya pun cukup provokatif (atau persuasif?) misalnya INDONESIA DILECEHKAN. Waooww.. pemilihan judul ini cukup menghentak di dada.

Narasumber yang diundang pun sangat berapi-api untuk menyerukan GANYANG MALAYSIA, yaitu Permadi. Tayangan ini diselipi dengan video-video dokumenter pada masa Soekarno ketika bersikap kepada Malaysia. Selain itu, ditayangkan juga Video Penyiksaan TKI di kantor imigrasi atau polisi (saya kurang tahu jelas) di Malaysia. TKI tersebut ditendang dan diinjak-injak puluhan kali oleh 3 orang petugas. Penyiksaan TKI judul video ini.

Bagi saya, penayangan video ini tidak etis disiarkan melalui TV yang dikonsumsi oleh publik pada waktu TV dikonsumsi dari berbagai usia. Kekerasan yang ditampilkan terlalu vulgar dan tidak memberikan pendidikan namun memberikan provokasi yang hebat. Saya cuma heran, kenapa stasiun TV-TV yang lain tidak menyoroti persoalan Indonesia Vs Malaysia tidak seheboh Metro TV? Ada apa gerangan?

Tapi saya sepakat, sudah cukup Indonesia diinjak-injak. Kalau mau menunjukan pemerintahan punya integritas terhadap bangsa Indonesia, pemerintahan haruslah TEGAS BERSIKAP. Jangan mbalelo gini. Apapun sikap yang diambil haruslah melindungi segenap Bangsa dan Negara Indonesia. Cukup itu koq, tidaklah susah dan tidak perlu analisis politik susah untuk bersikap. Cukup Keberanian saja. Tapi tampaknya pemerintahan tidak punya political will untuk merespon isu ini. Terus political will-nya ke isu apa dong?! :p.

Hehehehehe… koq jadi membicarakan soal perseteruan ini. Padahal rencananya mau membicarakan tentang perjalanan di Ambon. Bergaul dengan masyarakat di sini, cukup terasa gesekan sisa-sisa konflik agama yang terjadi beberapa tahun lalu. Yang ada sekarang adalah gambut kering yang siap menyala dan merambat membakar habis sendi-sendi sosial-ekonomi di daerah ini. Setidaknya ini yang saya rasakan. Tapi mudah-mudahan gambut itu luluh menjadi humus yang menyuburkan ibu pertiwi ini. Merdeka!

3 thoughts on “Menghabiskan Waktu di Ambon

  1. pas taun 2004 aku ke sana, kondisinya terlihat tenang. adem banget. eh, begitu aku sampe bali, kerusuhan kembali terjadi. hotel tempatku menginap, amans, jadi salah satu korban.

    sayang, kota secantik itu harus jd korban kerusuhan tidak jelas atas nama apa itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s