Telingaku

Jika anda pengidap sinusitis, maka anda perlu khawatir jika menggunakan jasa pesawat terbang. Saya adalah pengidap sinusitis selama hampir 20 tahun. Lama sekali. Saya selalu ketar-ketir kalo naik pesawat, karena rasa sakit yang luar biasa menghantui ketika pesawat mulai menurun dari ketinggian maksimal sampai pesawat landing.

Jangan pernah coba-coba, karena sakitnya hampir tidak tertahankan. Efek dari rasa sakit ini adalah kuping anda tidak akan berfungsi maksimal. Kuping akan berdengung dan ada suara mendesis yang kencang. Setiap berbicara akan terasa menggema di dalam kepala, sehingga daya dengar kita menurun karena yang kita dengar adalah suara kita sendiri. Rasanya tidak nyaman.

Menurut perkiraan saya sebagai orang awam, hal ini terjadi karena adanya tekanan yang tidak seimbang di dalam telinga. Pada umumnya semua mahluk hidup memiliki kemampuan dalam menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Di dalam diri kita ada saluran eustasius yang menghubungkan telinga dengan  hidung atau rongga pernapasan. Sehingga ketika terjadi perubahan tekanan udara, misalnya saat pesawat mulai landing, maka saluran eustasius ini yang akan menstabilkan tekanan udara dalam telinga. Ya.. begitulah kira-kira pendapat dari orang awam. Jika salah, mohon masukannya.

Tapi keseimbangan tekanan udara ini tidak akan terjadi jika saluran eustasius anda tersumbat oleh lendir akibat sinusitis yang anda derita. Yang terjadi hanya anda akan kesakitan di telinga dan kepala anda. Dan juga, dampaknya dari rasa sakit ini akan terasa kurang lebih 1 minggu sampai pendengaran anda menjadi normal lagi.

Intinya saya mau bilang, saya sedang tersiksa akibat perjalanan dari Jogja – Banjarmasin – Surabaya – Makasar – Ambon – Sorong (Sorong rencananya, tapi tidak jadi). Sehingga saya harus terdampar selama beberapa hari di Ambon untuk menunggu saya sembuh dengan sempurna sehingga berani untuk naik pesawat lagi :p.

———–

Akhirnya saya harus singgah ke RSUD di daerah Natsepa di Ambon. Rumah sakitnya tidak terlalu besar, kalau dilihat sekilas tidak punya peralatan medis yang memadai. Suster yang sibuk pun bertanya ada apa gerangan ke rumah sakit. Saya yang diantar dua warga lokal menjelaskan keadaannya. Namun suster bertanya dan mendenagrkan jawaban sambil mengerjakan pekekerjaannya yaitu memindahkan tempat tidur untuk pemeriksaan pasien.

Entah apa yang mereka bicarakan karena mereka berbicara dalam bahasa lokal. Yang pasti saya tangkap adalah raut wajah tidak senang pada dua belah pihak, pada suster dan dua orang teman saya. Kalau tidak salah dengar sih tidak ada dokter jaga di rumah sakit ini. Lalu kami ke Mantri Kesehatan atas dasar rekomendasi dari salah satu teman saya ini. Katanya di Mantri Kesehatan ini bagus dan murah. Suaminya selalu berobat di mantri ini karena manjur. Oke, saya coba.

Di teras rumah mantri ini, untuk pertama kalinya saya membaca majalah Hi******lah. Hehehehe.., rada merinding bacanya. Kurang lebih isinya seruan untuk menegakan aturan Islam dan menghancurkan orang kafir. Sebagai orang kafir tentu bergidik membacanya🙂. Terlebih ketika saya berobat ke mantri yang punya lusinan majalah ini, jangan-jangan saya dirajam atau diracuni. Hehehehehe.. maaf. Bukan maksud saya berpikiran seperti itu. Entah karena paranoid atau semacamnya sehingga pikiran itu menjadi muncul. Maklum saja, menjadi minoritas seringkali dihantui pikiran semacam itu. Maaf.

Saya diberi 4 jenis obat. 1 obat tetes dan selebihnya antibiotik dan multivitamin. Bukannya saya tidak percaya ya.., tapi kata mantri ini di telinga saya banyak kotoran dan jamurnya yang menjadi penyebabnya. Saya iyakan saja, tapi saya kurang puas dengan jawabannya.

Tentu saja, dengan alasan kuping kotor saya tidak mau meminum antibiotik. Sehingga saya putuskan untuk menggunakan obat tetesnya saja, dengan pertimbangan obat tetes ini bisa membersihkan kotoran atau apapun itu yang ada dalam telinga saya. setelah beberapa kali penggunaan, hasilnya adalah…. tidak terjadi apa-apa :p.

Kemudian, saya memang berencana ke kota Ambon untuk mencari dokter spesialis hidung, telinga, dan tenggorakan (THT). Akhirnya saya menemukannya di praktek bersama di Apotik Valentine. Hehehehehe.. nama yang katanya romantis. Setelah diperiksa dengan alat yang lebih lengkap, yaitu corong kecil puanjang untuk mengintip ke dalam telinga, corong pendek untuk melihat ke dalam rongga hidung, corong ke tenggorakan, beberapa alat untuk mengorek-ngorek kotoran di telinga, dan alat-alat lainnya. Dokter itu kemudian berkata, “saluran hidung ke telinga anda sudah bengkak”. Dia kemudian menjelaskan biasanya disebabkan karena lendir yang menyumbat saluran itu. Jawaban dengan dokter ini cukup melegakan karena sama dengan asumsi saya sendiri.

Kali ini, saya meminum antibiotik boleh lah. Tapi merk obat-obat yang saya beli kali ini cukup familiar. Berbeda dengan obat-obatan sebelumnya, saya kurang tahu dengan jenis dan merknya. Mungkin obat generic atau apa, saya tidak terlalu paham. Tapi perlu diingat, perbandingan total harga yang harus dibayarkan antara dokter dan mantri ini adalah 8 : 1. Hehehehehe.. kebayangkan mahalnya? :p. Tapi yang penting sembuh🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s