Antara Kemiskinan dan Pandemi Flu

Beberapa bulan ini saya disibukan dengan soal ekonomi masyarakat dan soal pandemi flu. Dua hal yang sangat berbeda, tapi bagi saya dua hal ini merupakan hal yang fundamental bagi peradaban manusia. Cieh.. peradaban gitu loh🙂.

Pertama, menyangkut soal pengembangan ekonomi masyarakat kecil. Kemiskinan adalah kejahatan utama yang ada dalam hidup manusia. Kemiskinan adalah momok bahkan bisa dibilang penyakit kronis yang harus segera diobati sampai akar-akarnya. Yup, peradaban manusia rawan lebih terjerembab ke lembah yang berdasar jika persoalan ekonomi ini tidak kunjung tuntas.

Persoalan ekonomi masyarakat kecil ini susah-susah gampang. Terkesan gampang, tapi sebenarnya amatlah rumit. Perlu ketelitian dan keuletan yang luar biasa. Tidak semua orang punya jiwa wirausahawan. Pikiran pragmatis untuk memilih menjadi buruh ketimbang membuka lapangan pekerjaan sendiri adalah salah satu contoh tantangannya.

Selain itu, dalam dunia bisnis (yang baru saya sadari sekarang) merupakan dunia yang sangat kejam. Benar-benar kejam. Jika tidak membunuh maka kita akan dibunuh. Tidak ada persaudaraan yang berlaku dalam dunia bisnis ini. Mungkin saja ada, tapi itu lebih merupakan sempalan kecil saja. Selebihnya amat kejam. Saya sudah merasakan ditipu dan dikhianati para pelaku bisnis ini. Walaupun saya berniat membantu, tapi tetap saja ditilep juga. Misalnya ketika saya mencoba mengembangkan perikanan lele beberapa waktu lalu.

Oleh sebab itu, kadang saya mengamini orang-orang marxist yang mengatakan ada sistem ekonomi yang salah dalam dunia ini. Walaupun secara sadar saya (baca: banyak orang) telah menyaksikan kelemahan pemikiran ini. Tapi saking gonduknya, secara emosional, kapitalisme harus diberangus!😀😀. hehehehe.. jadi inget awal kuliah dulu, ketika sering mengatakan “kita harus melawan kapitalisme!”🙂. Yang perlu digarisbawahi, kemiskinan harus dituntaskan. Jika tidak, miskin atau kaya akan kena batunya suatu saat nanti.

Persoalan kedua menyangkut soal pandemi flu. April 2009 kita dikagetkan dengan wabah flu A (H1N1) yang mulai melanda dunia. Virus ini terdeteksi masuk ke Indonesia bulan Juni 2009. Dan saat ini, jumlah penderita yang teridentifikasi semakin besar dan semakin besar, dengan jumlah presentase kematian semakin membesar pula.

Sebagian kalangan mengkhawatirkan virus H1N1 ini berkolaborasi dengan virus H5N1. H5N1 atau flu burung memiliki tingkat mematikan yang sangat tinggi, 80%. Sedangkan Flu H1N1 memiliki daya peneluaran yang luar biasa sekali. Maka, jika dua virus ini bersatu akan lahir virus yang memiliki daya menular antar manusia dengan kecepatan tinggi dan tinkat kematian yang tinggi juga.

Beberapa ahli mengatakan akan menyebabkan kematian 30% dari total populasi dunia, ada juga yang memprediksikan lebih daripada itu, atau ada juga yang santai-santai saja yang memprediksikan tidak akan terjadi apa-apa.

Bagi saya, yang perlu dipertimbangkan adalah Jas Merah! (jangan sekali-sekali melupakan sejarah!), seperti kata bung Karno. Kita lihat sejarah pandemi flu di dunia.

Pandemi flu yang pertama kali terjadi tahun 1729, dan yang terakhir 1968. Setiap terjadi pandemi, memakan korban ratusan ribu jiwa sampai jutaan jiwa. Tercatat pula, dunia pernah mengalami 10 kali pandemi flu. Tercatat juga, pada abad kedua puluh, ada 3 kali masa pandemi di dunia. Pertama, tahun 1918 disebabkan oleh spanish flu (H1N1) yang kira-kira memakan korban 20 – 100 Juta jiwa! Kedua, 1957 disebabkan oleh asian flu (H2N2) yang memakan korban 2 – 3 juta! yang ketiga, 1968 disebabkan oleh Hongkong Flu (H3N2) yang membunuh 2 -3 juta jiwa! (untuk data lengkapnya, nanti saya usahakan upload)

Gila.. angkanya jutaan semua! Pandemi berbeda dengan bencana alam. Pandemi akan terjadi dalam waktu yang lama, sehingga juah lebih mengerikan dibandingkan dengan bencana alam yang terjadi sesaat kemudian bisa dipulihkan kembali. Selain itu, pandemi skalanya global. Sehingga, jika terjadi pandemi maka tidak ada pertolongan dari orang atau daerah lain. Masing-masing orang atau  masing-masing daerah harus mandiri untuk bertahan hidup.

Di Indonesia, pandemi flu terakhir terjadi pada tahun 1911 – 1939 yang telah menewaskan 1,5 Juta orang! Bayangkan saja, jika terjadi kembali pandemi di Indonesia yang penuh sesak dengan orang ini, khususnya Jawa, maka dapat dipastikan lebih dari 60% (ini perkiraan saya saja) penduduk yang ada akan terinfeksi dan kemungkinan besar meninggal karena kita tidak punya cukup sumberdaya untuk pengobatan.

Intinya, saya mau bilang bahwa antara keterpurukan ekonomi dan ancaman pandemi flu adalah dua hal yang sama berbahayanya. Dua-duanya bisa menjadi penyebab sekaligus menjadi akibat. Ini layaknya spiral yang tak berujung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s