Lebaran

Lebaran dari tahun ke tahun selalu sama untuk saya, tidak ada berubah bahkan tidak ada yang spesial. Walaupun sering saya merencanakan kegiatan-kegiatan yang saya pikir awalnya seru, tapi selalu berakhir tidak seseru yang dibayangkan. Tulisan ini mengingkari pemahaman tentang berpikiran positif yang saya anut. Tapi ya sudah, anggap saja sebagai bumbu.

Saya adalah orang yang selalu “merengut” kalo menjelang bulan puasa dan lebaran. Bukan saya rasis atau apapun itu. Tidak ada hubungannya dengan itu semua. Saya “merengut” karena pada waktu-waktu itu saya akan merasa sepi, tidak ada teman, saudara, dan siapapun. Tinggalah saya di kota yang asing karena tidak ada yang saya kenal atau tidak ada orang yang bisa saya ajak bermain.

Semuanya mudik kalau berasal dari luar jogja. Atau akan mejadi sangat sibuk kalo memang asli berasal dari jogja, sehingga saya akan menjadi rikuh untuk bertandang. Kisah lainnya, kantor libur yang membuat saya kehilangan aktivitas utama. Menjadi pengangguran selama seminggu. Terus, kalo mau mencari makan juga sangat susah karena warung-warung banyak yang tutup. Kalau ada ide untuk jalan-jalan maka secepat kilat pula akan terpuruk karena membayangkan kondisi jalanan yang padat karena arus mudik dan alat transportasi umum juga pasti akan penuh. Lengkap sudah kesepian yang berselimut.

Tapi ada kalanya saya merasa nyaman (atau mensugesti untuk merasa nyaman) bahwa sangat enak tinggal di jogja pada saat lebaran karena jalanan di siang hari menjadi sepi, tidak padat atau tidak macet. Udara juga menjadi lebih bersih dan sejuk. Sehingga bisa kuterabas dengan melenggang dengan sepeda bututku atau dengan sima.

Tapi kesepian jalanan ini cuma sementara, cuma pas hari lebaran saja. Setelah itu, jalanan membludak sejadi-jadinya dipenuhi dengan mobil atau motor yang berplat nomer dari daerah luar, plat nomer jakarta paling banyak. Jalanan menjadi macet dan semua spot-spot strategis penuh sesak.

Iya, aku tidak mempunyai rumah lagi, seperti yang pernah kurasakan selama 22 tahun. Saat ini, secara fisik aku mempunyai rumah di jogja, secara fisik pula lumayan nyaman. Tapi di luar persoalan rumah secara fisik itu, aku sebenarnya tidak mempunyai rumah seperti yang pernah kualami 22 tahun itu. Rumah tempat aku tumbuh besar selama 22 tahun itu telah lenyap, hilang bersama memori manis di dalamnya.

Artinya, kurang lebih 4 kali lebaran ini aku merasa sangat kesepian. Tidak ada rumah. Sampai-sampai aku terus memikirkan membangun rumah di tengah sawah sepanjang kukayuh sepedaku menembus sawah-sawah di daerah Bantul tepat di hari lebaran ini, 1430 H.

5 thoughts on “Lebaran

  1. hehehe…. kan bisa numpang lebaran di rumah daniek yg sama2 ndak merayakan lebaran…😀
    btw, postingannya ndak kreatif ah, masak idenya sama dengan postinganku :p
    salam ya buat sima, diajak maen ke bengkel gih… hehe

  2. bengkelnya tutup. semuanya tutup. danik juga sibuk menerima tamu yang banyak berdatangan ke rumahnya.

  3. Halo bli ketut!!

    Yah, begitulah hidup. Semua hal itu ibarat sekeping uang dengan 2 sisinya. Positif dan nagatif, enak dan ndak enak, bagus dan jelek, baik dan buruk, dsb.

    Kadang yang enak buat kita, blum tentu enak buat orang lain. Walaupun kadang-kadang saya berpikir, yang enak buat saya seharusnya enak juga buat orang lain. Hehe!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s