Sibuk dan Gempa

Saya selalu percaya dengan apa yang pernah saya tuliskan pada postingan yang dulu, bahwa pikiranlah yang mengatur apa yang akan terjadi pada anda. Pikiran adalah dunia liar🙂. Intinya, apapun yang anda pikirkan, buruk atau baik, jika terus dipikirkan dengan dalam maka apa yang ada di pikiran anda itu lah yang akan terjadi pada anda. Maka berpikirlah tentang segala sesuatu yang baik sehingga semua hal yang baik pula yang akan mengampiri anda. Setidaknya itu inti pada tulisan saya dulu.

Sekali lagi, hal itu terbukti. Saya tidak terlalu menyukai kota ini. Entah kenapa tapi ada rasa ketidaknyamanan dengan kota ini. Oleh sebab itulah saya selalu memikirkannya, dan sering bercerita tentang sisi buruk dari kota ini. Tapi ada juga sisi baik yang saya ceritakan, hehehehe. Intinya saya selalu memikirkan kota ini. Alhasil saya, termasuk sering, berada di kota ini. Padang, Sumbar.

Kali ini untuk urusan tanggap darurat gempa dan bisnis kecil-kecilan :p. Untuk urusan tanggap darurat, saya pernah mengalami kondisi yang lebih buruk pada tahun 2007 di mentawai. Kalo di Padang sekarang, dengan fasilitas yang lengkap, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar. Cuma yang tidak lancar adalah saya tinggal di Padang Sago yang miskin sinyal. Sehingga tips sederhana saya yang banyak dicomooh orang untuk mencari sinyal HP sangat efektif. Caranya mudah balikan saja HP anda, tunggu beberapa saat, maka satu atau bar sinyal akan muncul. Ulasan tips mencari sinyal ini bisa dilihat pada tulisan ini.

Setelah hampir 3 minggu gempa, para penduduk sudah kembali ke aktivitas normal. “Gegap gempita” gempa berangsur-angsur memudar, semua aktivitas sudah kembali normal. Tapi memang tidak untuk semua orang. Bagi penduduk yang rumahnya roboh atau kehilangan sanak saudaranya tentu gempa masih menjadi hal melekat dalam dirinya.

Entah kenapa greget gempa sumbar ini tidak seluar biasa gempa jogja dan tsunami aceh.. Ya betul jika dihitung dari korban jiwa, gempa sumbar masih tergolong kecil. Tapi dari pengamatan mata, kerugian material tidak kalah besarnya dibanding dengan gempa jogja. Karena rumah-rumah yang konstruksinya dari beton juga ikut ambruk atau minimal retak-retak dan kemungkinan besar tidak layak pakai.

Satu-satunya kehebohan yang saya temukan cuma di Gubernuran atau di posko bersama. Di posko bersama ini hampir semua LSM lokal dan internasional, relawan, pemerintah, dll, numplek jadi satu. Semua raut wajah tampak sibuk dan genting. Sampai suatu saat saya tanya ke teman-teman yang terlibat dalam posko bersama ini ketika melihat para bule berkumpul dan tampak serius, “mereka itu sedang membicarakan apa sih? koq kayanya penting banget?” kulayangkan pertanyaanku sambil menunjuk para bule itu. Kata temenku, “ya jelas pentinglah…”. Tapi apa? tidak ada yang bisa menjawab.

Akhirnya kami pikir mereka sibuk karena mereka punya banyak uang yang harus didistribusikan dalam bentuk bantuan kepada penduduk yang menjadi korban bencana. Oh… masuk akal. Nah kalo kami ini, yang dari LSM lokal dengan modal pas-pasan, tentu tidak “sesibuk” para bule yang di posko bersama itu karena yang dikerjakan hal yang kecil di wilayah yang kecil saja. Tapi aku yakin pada bidangku, informasi dan komunikasi, aku bisa menggungguli mereka walaupun dengan modal pas-pasan. Aku optimis!🙂

2 thoughts on “Sibuk dan Gempa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s