Bali di Mata Wisatawan

Kali ini saya melihat Pulau Bali jauh berbeda dari apa yang telah saya jalani selama ini. Saya orang yang tumbuh besar di Bali, sampai akhirnya saya memilih hijrah ke kota gudeg. Bali adalah rumah utama bagi saya. Namun saya pikir hal ini telah kandas karena kunjungan terakhir saya ke Bali.

Kali ini saya datang ke Bali bukan sebagai orang bali yang pulang kampung, melainkan sebagai turis domestik. Iya, saya benar-benar menjadi turis. Saya lebih sering mengaku dari Jogja, dan saya tidak mengaku dari Bali. Alasannya karena memang benar-benar ingin menikamti sebagai turis seutuhnya, walaupun dengan kegiatan wisata yang sama sewaktu saya masih di Bali dulu. Ketika saya berkunjung ke sebuah tempat maka saya memperkenalkan diri sebagai orang Jogja, dan semua orang di Bali memercayai itu.

Logat Bali saya sudah hampir punah, setidaknya orang-orang bilang begitu. Saya lebih sering menggunakan bahasa jawa, dan kata sebagaian orang juga logat saya sudah medok jogja banget. Selan itu, saat ini saya sering sulit membedakan bahasa halus bali dengan bahasa halus jawa, sehingga saya sering belepotan kalo ngomong bahasa bali halus. Alhasil semua orang percaya kalo saya adalah wisatawan dari Jogja.

Hari pertama keliling di Bali Selatan, dari Sanur, Kuta, GWK, sampai ke Uluwatu. Dari satu lokasi ke lokasi lainnya selalu saja soal uang. Emh.. saya agak kaget, karena seingat saya dulu, kemana-mana tidak pernah membutuhkan uang selain untuk bensin dan makan. emh… kesan pertama jadi wisatawan di Bali.

Hari kedua, mencari penginapan murah di sekitar kuta. Maka menurut banyak orang ada di popies lane. Bujur buneng.., untuk pertama kalinya aku masuk daerah ini setelah belasan tahun hidup di Bali. Bagiku daerah ini mengerikan. Ini bukan Bali!!! Tapi ini adalah daerah antah berantah. Isinya bule thok! dengan berbagai aktivitas wisata yang mereka lakukan. Saat itu aku berpikir bahwa bali juga menjajakan wisata minuman dan wisata seks. Hehehehehe.. aku gak tau yang sebenarnya sih, ini cuma pendapat dari pengamatan mata saja. Mudah-mudahan saya salah.

Hari ketiga kami meluncur ke arah Bali Timur dengan harapan tidak bertemu hiruk pikuk seperti daerah bali selatan lagi. Iya benar, saya lebih senang di bali timur karena saya merasa seperti rumah di Tabanan. Sepi dan tertata. Tapi bujur buneng lagi…, sepanjang jalan kami hanya mendapati orang yang mengenakan baju adat dan sajian-sajian untuk yadnya pada Tuhan. Sampai-sampai terlontar pertanyaan dari kami, orang bali gak punya kerjaan lain ya selain ke pura dan ke pura. Benar, pendapat ini muncul karena sepanjang jalan, ingat: sepanjang jalan, penuh dengan upacara agama.

Saya merasa aneh dengan hal ini, walapun mungkin saya dulu pernah melakukan hal serupa. Tapi dengan peran saya sebagai orang luar, saya merasa kegiatan ini pasti menyibukan atau menyesakkan sekali, karena yang saya liat hanya upacara agama saja. Sampai-sampai terlontar pertanyaan “orang bali ini kerjanya apa ya? kalo setiap saat harus ada upacara agama”. Tapi bener gak orang-orang luar bali berpikir seperti itu? emh.. aku belum sempat nanya-nanya tentang hal ini. Tapi aku baru inget kalo ini adalah rentetan hari setelah galungan.

Terus main-main ke beberapa pura. Dan saat itu saya baru sadar bahwa wisata di Bali adalah wisata pura. hahahahaahha… Seketika itu aku merasa aneh. Bayangan saya adalah wisata ke Bali akan menemukan sesuatu yang eksotik. Iya benar, eksotik dengan budaya dan agamanya. Wisata ke pura-pura! Tidak terbayangkan bagi saya sebelumnya. Sontak saja kata eksotik di dalam pikiran saya langsung hilang. Pergi entah kemana. Bagi saya ini kan tidak eksotik. Ini tempat sembahyang. Weleh…

Dalam perjalanan kami dari Pura Besakih ke Danau Batur, mobil kami dicegat oleh ibu-ibu yang menggunakan pakaian adat bali genap dengan sesajen yang dibawa. Ibu itu bertanya-tanya soal darimana asal kami. Dan tanpa basa-basi, ibu itu menaruh banten di dalam mobil dan langsung berdoa meminta ijin pada Bhatara yang ada di situ untuk memohon keselamatan. Hah… saya kaget saja. Setelah itu, ibu itu menaruh dua banten dalam mobil.

Dan saya sadar, ini bagian dari wisata bung! Jadi saya harus bertanya “berapa semuanya, bu?”, “seiklasnya saja” kata ibu itu. Saya ambil uang 10 ribu di laci mmobil. Udah, saya tidak peduli itu cukup atau tidak. Tapi saya pikir itu cukup, 3 canang paling mahal harganya 3 ribu. Terus Listya bertanya, itu cara nodong yang halus ya? hehehehe… susah untuk dijawab. Nodong beneran atau emang iklas untuk berdoa.

Menuju ke Danau Batur tujuannya adalah Trunyan untuk melihat kuburannya. Ketika mobil parkir ada yang menanyakan mau kemana dan langsung menawarkan harga. 500 ribu, pak! hah??? 500 ribu?? buanyak banget itu. Terus kami tawar menjadi 300 ribu. Melalui negosiasi yang alot, akhirnya 300 ribu deal dengan syarat kami harus menunggu barengan dengan tamu yang lain.

Menaiki kapal memotong danau batur selama 15 menit dan sampailah di tujuan. Di situ sudah bersiap-siap bapak-bapak yang menggunakan pakaian adat bali. Hahahaha.. saya harus sadar, ini pasti soal uang lagi. Dengan ramah mereka mengantarkan kami. Tidak ada alasan untuk menolak, karena mereka juga tidak menawarkan diri. diantar begitu saja.

Dengan alasan untuk sumbangan ke desa, di sebelah mayat-mayat itu disiapkan besek yang sudah berisi 100 ribuan 3 lembar. Dan mereka bilang silakan nyumbang. Saya taruh 50 ribu saja karena saya pikir itu strategi mereka agar wisatawan yang berkunjung juga menaruh selembar 100 ribu juga. Eh.. setelah saya menaruh uang itu, si listya dimintain juga. Loh.. nyumbang koq maksa. Kemudian, si guide meminta secara tidak langsung honornya ke saya. Ya saya kasi 50 ribu lagi. Kami menuju perahu, di perahu sudah ada bapak-bapak yang menyiapkan bangku agar kami mudah naik ke atas perahu dan dia minta tips juga. Untungnya ada selembar 20 ribu.

Sesampainya kami di dermaga awal, si co-pilot perahu juga minta tips. hahahaha…, oya.. sebelum naik perahu kami dipepet terus oleh pedagang asongan yang secara terang-terangan memaksa kami membeli barangnya. Tidak ada yang bagus dan harganya mahal, tapi dipaksa membeli. Akhirnya listya meminta agar rambutnya dipilin kecil-kecil seperti yang banyak ada di Kuta. Hasilnya, jelek banget!!😀. Terus, ada pedagang asongan lagi yang memaksa untuk membeli. Kami sudah ngotot tidak, tapi dia tetap memaksa. Karena saya jengkel saya bilang gini “saya akan berikan ibu 5 ribu, tapi ibu pergi dari sini dan saya tidak beli apapun!!”.

Saya berikan 10 ribu, eh.. ibu itu gak bilang terimakasih malah bilang gak usah dikembalikan sisanya. Oh… kurang ajar benar! Tapi saya bilang gak mau, ini bukan soal uang, tapi soal ketegasan. Akhirnya dia memberikan segepok uang seribuan, dan saya yakin itu tidak berjumlah 5 ribu. Saya ambil tanpa harus menoleh ke wajahnya. Dia pergi tanpa dosa. kgkgkgkgkgkg😀

oya.., sebelumnya saat di Pura Besakih setelah membeli tiket masuk, kami harus melapor ke bagian “receptionist”. Dia membriefing kami seperti ini sambil menunjukan peta pura besakih: “kalo mau masuk ke besakih harus menggunakan jasa dari guide kami, dan kalo tidak menggunakan guide kami maka tidak boleh masuk ke dalam saja. Hanya sampai halaman depan pura saja. Harga guide biasaya 100 ribu!”. Sambil senyum aku bilang asuuu dalam hati.

Kami bilang ke orang itu bahwa kami tidak masalah jika hanya sampai depan pura saja. Dan kami jalan kaki ke arah pura. Tapi langsung saja sekelompok orang mengeroyok kami dan sedikit memaksa untuk menggunakan jasa motor mereka. Saya tidak mau karena saya lebih suka jalan kaki. Tapi mereka tetap memaksa dan membuntuti kami. Saya tetap mengatakan tidak mau. Saya tidak suka dipaksa. Jika mereka tidak memaksa, mungkin saya akan menggunakan jasa mereka.

ternyata di belakang kami ada yang membuntuti. Bukan tukang ojek kali ini, tapi guide. Dengan tersenyum dia mengatakan “30 ribu saja mas, nanti saya antar keliling pura”. Saya pikir ini lebih manusiawi dibanding harga tadi yaitu 100 ribu. Saya mengiyakan, karena kalo saya tidak ambil dia maka di pura nanti pasti saya dikeroyok lagi dengan guide-guide lainnya. dan ini luar biasa menyebalkan. Setelah berkeliling, tugas guide itu selesai. Yang ada di dompet hanya lembaran 50 ribu. Maka saya berikan selembar, dan guide itu bilang makasi dan pergi. Eh.. bukannya tadi 30 ribu. kgkgkgkgkgkg.. yo wis!🙂

Kami sempat tenang dengan urusan pungli-pungli itu di Candidasa. Sempat rileks, dan saya tidak bermasalah membayar lebih mahal untuk hotel dan lainnya asal tidak ada yang menguntit-nguntit yang membuat risih. Langsung saja kami putuskan untuk berlibur di Tabanan saja, karena saya yakin di Tabanan tidak seperti wilayah yang kami kunjungi sebelumnya. Lebih nyaman dan tenang.

Ingat, yang ditakutkan wisatawan adalah bukan harga yang mahal tapi penipuan! Wisatawan butuh ketenangan dan tidak diusik oleh hal-hal seperti di atas. Harga yang mahal tetapi nyaman dan aman tentu akan dipilih oleh para wisatawan.

20 thoughts on “Bali di Mata Wisatawan

  1. fiuhhh…. iya, capek buka dompet, bukan capek keliling balinya.
    gak ada rasa tenang sama sekali, malah sumpek karena ngerasa diincar sebagai karung uang, kgkgkg

  2. hehehehehe… milih bali karena tiketnya dibayarin kantor :p. terus, biar pernah aja main-main di bali sebagai wisatawan (dan kayanya gak akan diulangi lagi. mending daerah lain).
    belum paspor untuk ke ho chi minh :p

  3. Ndak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri. Anda sudah berapa tahun tinggal di jogja? Apa anda menyadari bagaimana berubahnya Jogja kalau dibandingkan antara tahun 1990 dengan tahun 2000? Ndak ada yang abadi. Di belahan dunia mana pun itu..

  4. Eh, tapi jangan salah sangka ya, bli ketut. Komentar saya di atas sama sekali ndak mencari alasan pembenar untuk perubahan bali yang seperti sekarang ini. Saya pun kecewa kalau saya ingat masa kecil saya di tahun 1980an dulu dan membandingkannya dengan masa sekarang. Keramahan khas orang bali juga sudah berkurang drastis. Mungkin karena yang anda bilang, hampir segala sesuatu diukur dengan uang.

    Tapi saya sejujurnya, ndak peduli lagi dengan tanggapan wisatawan. Saya justru berharap, bali akan semakin ditinggalkan oleh wisatawannya. Sekarang ini bali cuma diperbudak oleh orang-orang yang mengaku wisatawan. Mereka minta begini, harus dipenuhi. Mereka minta begitu, jangan ditolak. Saya sih berharap, para wisatawan lebih mengenal Indonesia daripada bali saja. Bali sudah terlalu sumpek dengan kehadiran para wisatawan. Bali ndak akan mati tanpa mereka. Malah, bali akan semakin rusak dengan kehadiran para wisatawan yang banyak maunya itu.

    Hehe, kepanjangan komentar..

  5. kalo saya sangat berharap kalo dunia pendidikan di bali di genjot habis!! Saya merasa kalo tempat wisata yang tidak dibarengi dengan kemajuan pendidikan, lama-kelamaan kita cuma menjadi buruh. eh.. ini gak cuma dunia wisata, di sektor-sektor lain juga begitu. hehehehehe…
    lha.. ngomong apa sih..😀. hehehehe.., saya cuma sayang aja kalo orang-orang yang di bali yang cerdas-cerdas hanya berakhir jadi kuli pembersih kamar di hotel-hotel. Harusnya bisa melakukan jauh yang lebih baik. gak cuma jadi buruh di industri wisata yang berkembang pesat saat ini.

  6. Kalau pendidikan sih bukan cuma masalah bali semata bli. Budaya nguli juga ndak cuma ada di bali. Tapi kalau dari tulisan anda ini, saya pun harus mengkritik wisatawan yang datang ke bali termasuk anda.

    Wisatawan ndak pernah kenal “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Seperti anda yang memandang aneh melihat orang bali yang selalu berupacara. Kerja mereka apa kok ke pura terus? Pertanyaan itu sudah bentuk ndak menjunjung langit di bumi yang anda pijak.

    Turis selalu berprinsip “saya sudah bayar, maka saya harus dapatkan apa yang saya mau”. Maka jadilah semua diukur dengan uang. Jadilah semua mengikuti kemauan turis. Sementara seorang wisatawan saja punya banyak mau. Bayangkan kemauan jutaan turis.

    Maka itu saya bilang, saya ndak peduli lagi pandangan turis tentang bali. Hmmm, saya berharap bali bisa mengalihkan wisatawan ke daerah lain. Biar bali ndak tambah jauh terjerembab ke dalam keterpurukan.

    Kalau boleh saya kasih judul komentar ini, maka judulnya adalah “Turis di mata saya”. Hehe!

    Damai bli ketut.

  7. kgkgkgkgkgkg… benar itu😀😀.
    Entar deh, kalo saya ke bali lagi akan buat tulisan “Wisatawan di Mata Saya”, seperti usulnya pushandaka🙂

  8. tulisanmu membuat miris. soale selama ini sih aku gak segitunya kalo jalan2 di bali. mungkin jg karena aku ngaku orang bali. wahaha…

    btw, aku colong buat balebengong yak.🙂

  9. wah dilema ketut nih. orang bali yang gak bali lagi.

    emang sayang banget bali yang tenteram itu jadi rusuh gara-gara wisatawan. mungkin wisatawan terganggu dengan adanya pedagang acung yang maksa nawarin dagangannys, tapi mereka ada juga karena ada wisatawan to. ada demand maka ada supply.

    tapi industri wisata yang sudah over dosis di bali membuat sebagian masyarakat bali di sekitar tempat wisata terlalu tergantung dengan wisatawan, sehingga sampai terjadi kasus “maksa beli” begitu.

    apa lebih baik jadi petani, trus macul di sawah aja, cuekin aja wisatawan yg datang, toh wisatawan juga ingin melihat yang asli-asli dari bali tanpa dipermak-permak.

    “biarlah wisatawan menggongong, orang bali tetap ke pura”. hehehe maksa.

  10. Pingback: Bali di Mata Wisatawan « Bale Bengong

  11. ‘…itu oknum…’
    Begitu kira-kira kalo para pejabat yang kerap nongkrongin teras itu bilang…
    ‘…ga’semua kok kaya’gitu….’
    Kata satunya lagi.

    ‘laen kali jangan main ke bali th.2009 deh Bli… cari bantuan mesin waktu, nyari yang taun 1945. hehehe.. dijamin ndak ada pungli…’
    ini baru kata saya. :p

  12. Saya amati tidak separah itu, karena saya sendiri seorang yang sering menjadi guide. Dan kadang saya juga menempatkan diri sebagai wisatwan, untuk mencari interaksi dan reaksi yang berbeda dari masyarakat Bali sendiri. Dan memang di beberapa tempat terjadi hal2 spt di atas. Cuma, sepintas tulisan di atas sepertinya koq terasa berlebihan ya…lebay gitu loh…

    Pungli terjadi karena wisatwan juga ingin serba instan. Sama halnya ketika kna tilang, kita lebih milih ngasi duit oknum polisi yg nilang drpd ngikut sidang…

    Tidak dipungkiri Bali memang telah berubah. Tp perubahan itu pasti terjadi….Jadi jangan terlalu dilebihkan. Lebih enak dibaca, apabila bli masih merasa orang Bali memberi solusi, bukan keluhan dan cemooh…

    Ampura bli…Saya hanya sedih ketika melihat Bali dijelekkan oleh warganya sendiri. “Makecuh marep menek kone”. Kalo semua mengeluh, lantas siapa yg mikir solusi? Yg ada Bali bukan mejadi lebih baik, tp makin cepat terpuruk. Apalagi tulisan bli posting di internet yg notabene semua orang bisa ngakses

    Salam

  13. Maaf, jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekan bali. Saya memaparkan apa yang saya rasakan. Jika tulisan ini yang saya rasakan, berarti saya menuliskan sejujur-jujurnya.

    Tulisan ini, sekali lagi, tidak bermaksud menjelek-jelekan. Tapi tulisan ini adalah otokritik untuk kita semua. Harusnya, tulisan ini bisa dijadikan bahan kita untuk berbenah. Tidak ada yang sempurna, tapi kita diberi kesempatan untuk berbenah untuk selalu mendekati kesempurnaan.

    Nah, jika tulisan ini dipublish di internet dan memancing banyak perdebatan, saya pikir itu hal yang bagus sekali. Karena kita bisa memetik pelajaran dari perdebatan tersebut. Dan pelajaran itu, bisa kita jadikan bahan untuk berbenah.

    Jangan khawatir Bli Didi, jika Bali emang benar-benar bagus maka tidak ada yang akan meninggalkannya. Buka semua sejujurnya dan kejelekan tidak perlu ditutupi.

  14. Saya merasa aneh dengan hal ini, walapun mungkin saya dulu pernah melakukan hal serupa. Tapi dengan peran saya sebagai orang luar, saya merasa kegiatan ini pasti menyibukan atau menyesakkan sekali, karena yang saya liat hanya upacara agama saja. Sampai-sampai terlontar pertanyaan “orang bali ini kerjanya apa ya? kalo setiap saat harus ada upacara agama”

    -hanya orang bali yang sudah lupa dengan kawitannya yang bisa nulis begini…

  15. ups… tampaknya tulisan saya ini selalu memancing emosi, khususnya dari orang bali. (btw, saya dan keluarga besar saya juga orang bali. walaupun kami semua berada di beberapa daerah yang tersebar di seluruh nusantara ini, tidak di bali saja).

    Tujuan tulisan ini adalah untuk OTOKRITIK. dan otokritik selalu didasarkan atas pikiran dan kepala yang dingin, bukan emosi.

    Iya memang benar, saya mengkritik tentang kebiasaan orang bali. tapi bukan dalam konteks benar dan salah lho. tapi dalam konteks penyempurnaan kebudayaan. Dan jangan salah juga, saya dan keluarga besar saya masih melakukan hal yang serupa, seperti orang bali kebayanyak lakukan. Namun bedanya kami berusaha lebih simple dan to the point aja.

    Tapi jika ada orang bali yang tidak senang dikritik dan merasa tersinggung atas kebaliannya, silakan saja. Namun saya lebih suka jika kita merenung atas pikiran dan kepala dingin. tidak hanya sekedar emosi semata.

  16. Kalau gk punya uang jangan ke Bali, bali tempat yg pling aman dan nyaman…penodongan wisatawan secara halus lebih baguss dari pada penodongan bersenjata seperttii di wilayyaah-wilayyah di luar Bali

  17. tulisan anda ini bukan mengkritik , tapi lebih menjelek2.kan bali .. bayangkan aja kalau ada orang yg ingin kebali lalu mereka mmbaca blog anda ? mereka pasti langsng akan berpikir kalau bali seburuk itu. lagian menurut pengalaman saya , dagang2 yang maksa2 tu bukan cuma orang bali kok. orang luar bali mlah lebih banyak yang melakukan sprti itu dibali. anda orng bali tapi membuat blog sperti ini. mending jadi orang luar aja bli, jgn jadi orang bali

  18. buat yang bikin tulisan di atas tolong kalau bicara sesuai konteks yang tidak memancing emosi.apa anda lama di jogja jadi brubah agama.kalau kita lupa upacara agama dan pura lihat aja nanti .kaya aceh kena tsunami dan jogja kena gempa itu semua pecaruan massal untuk alam .mkasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s