Masih tentang FB

Kalau ada yang mencari-cari bahan tentang Peraturan Gubernur No 4 tahun 2007 tentang Pengendalian Pemeliharaan Unggas, yang salah satu isinya adalah melakukan relokasi pada semua tempat yang berhubungan unggas ke wilayah-wilayah yang sudah ditentukan oleh pemerintah DKI Jakarta, maka tulisan ini mungkin bisa sedikit membantu.

Tulisan ini diperoleh dari beberapa wawancara yang dilakukan pada para pengusaha penampungan ayam, para pemotong yang biasanya menjadi penjual di pasar, dan masyarakat yang ada di sekitar tempat-tempat ayam tersebut, khususnya yang berada di Jakarta. Tulisan ini juga hasil dari kerjasama dengan FAO untuk project Flu Burung. Tapi, tidak terlalu baru temuan-temuan yang diperoleh karena dari dulu persoalannya sama, namun saya pikir bisa cukup membantu untuk bahan diskusi, karena flu burung selalu menjadi polemik di masyarakat kecil di Indonesia. Berikut ini tulisannya:

 

A. Penampung Ayam

Pada umumnya para penampung setuju dengan rencana pemerintah tentang relokasi ini. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar relokasi ini berjalan maksimal dan mampu menimalisir kerugian, yaitu:

  1. Harga Tempat

Hampir semua pengusaha penampungan ayam memiki tempat usahanya sendiri. Kandang dan semua infrasturktur pendukung pun sudah dibuat dengan permanen. Relokasi yang akan dilakukan oleh pemerintah cukup memberatkan para pengusaha karena mereka harus memulai usahanya dari nol, karena apa yang sudah diinvestasikan pada lahan, kandang, dan infrastruktur hampir tidak bisa dipakai lagi. Selain itu, bagi sebagian besar pengusaha soal harga sewa atau beli tempat adalah yang utama. Harga sewa dan beli dianggap mahal. Terlebih dengan adanya perubahan pola distribusi unggas menyebabkan banyak modal yang akan keluar selain untuk sewa atau beli tempat penampungan baru.

 

  1. Pemotongan Ayam

Selama ini usaha pemotongan ayam dilakukan dengan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan tenaga manusia. Pemotongan dilakukan dalam skala kecil atau lebih tepatnya berdasarkan kebutuhan yang ada. Tenaga manusia dianggap lebih murah karena mampu mengerjakan banyak hal, mulai dari membersihkan kandang, menjaga, berjualan, dan tugas-tugas yang lainnya. Hal penting lainnya, dengan cara tradisional para pengusaha ini mampu memenuhi kebutuhan dari para pengecer atau konsumen lainnya yang membeli ayam dalam jumlah yang sangat kecil. Pemotongan dengan cara mesin dianggap akan menambah beban mereka, khususnya yang berkaitan dengan modal.

 

Hal penting lainnya yang menjadi perhatian para pengusaha adalah kapasitas mesin pemotong yang ada, apakah mampu memenuhi jumlah permintaan ayam dalam waktu sehari. Jika mampu memenuhi jumlah permintaan, bagaimana dengan pengaturan penggunaan mesin potong. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana cara melayani pembeli pengecer yang notabene adalah konsumen yang paling strategis. Jika ayam dipotong dalam jumlah yang besar, bukan berdsaarkan kebutuhan, maka memerlukan mesin pendingin dalam kapasitas yang besar, yang artinya memerlukan modal tambahan. Dan jika tidak laku dalam waktu lebih dari sehari, maka ayam yang sudah dipotong cenderung semakin tidak laku, sehingga resiko kerugian bagi pengusaha semakin besar.

 

  1. Transportasi/Distribusi

Pemindahan tempat penampungan tentu memerlukan alat transportasi untuk tetap menjaga distribusi daging ayam ke para pelanggan yang ada. Perubahan pola distribusi ini berimplikasi lagi pada persoalan modal. Selain itu, berimplikasi juga pada pendekatan pemasaran pada calon-calon konsumen yang awalnya telah terbiasa dengan pola perdagangan ayam yang lama. Sehingga, selain soal harga yang perlu diperhatikan adalah soal marketing yang juga mengalami perubahan.

 

  1. Tempat Pendingin (cool storage)

Konsumen yang paling berpotensi bagi semua para pengusaha penampungan ayam adalah pembeli pengecer yang berada di sekitar tempat usaha mereka. Para pengecer ini adalah pelanggan yang setia. Untuk itu, relokasi ini membuat para pengusaha menjadi berjarak dengan para konsumennya. Hal ini bisa diatasi dengan menyediakan tempat pendingin pada tempat usaha mereka sekarang, sehingga para pengecer bisa tetap datang ke tempat biasanya dan tetap bisa memperoleh daging ayam. Namun, tempat pendingin seperti ini tidaklah murah. Hanya sebagaian kecil pengusaha yang mampu melakukan cara ini.

 

  1. Luas Tempat dan Infrastruktur Pendukung yang tidak sesuai; parkir, tempat gudang, jumlah ayam, tempat tinggal tenaga kerja

Semua pengusaha mengeluhkan soal luas tempat yang disediakan, disamping soal harga. Bagi para pengusaha, luas tempat yang disediakan tidak cukup untuk menampung jumlah ayam yang mereka miliki atau usahakan. Jika para pengusaha ini membeli lebih dari satu tempat/kapling maka sangat sulit terjadi karena pertama soal harga dan kedua soal jumlah tempat yang disediakan dibanding degan jumlah unit usaha yang akan direlokasi. Selain tempat untuk menampung ayam, hal yang harus diperhatikan adalah infrastruktur pendukung misalnya tempat parkir untuk truk-truk yang membawa ayam, gudang untuk menyimpan peralatan, tempat menginap bagi para pekerja yang sekaligus bertugas untuk menjaga dan melakukan penjualan, sanitasi, dan lainnya.

 

  1. Pemindahan Serentak dan Merata untuk Semua Kalangan di Jakarta

Permintaan untuk pemindahan serentak ini diajukan oleh semua pengusaha yang ada di Jakarta. Pemindahan serentak ini bukan didasarkan pada persoalan solidaritas atau hal-hal yang berkaitan dengan emosi. Pemindahan serentak didasarkan pada kalkulasi ekonomi dari para pengusaha, soal untung rugi dan persaingan. Ilustrasi sederhana bisa menggambarkan mengapa permintaan ini diajukan oleh semua pengusaha, yaitu; semua konsumen akan memilih berbelanja ke tempat yang lebih dekat. Begitu pula pada sektor usaha ayam, semua konsumen berasal dari lingkungan sekitar tempat usaha. Jika tempat usaha mereka dipindahkan maka sudah pasti konsumen mereka juga hilang. Konsumen ini akan mencari penjual lainnya yang berada dekat.

Misalnya saja, para pengusaha di Jakarta Pusat dipindahkan terlebih dahulu, maka semua konsumen akan beralih ke para penjual di Pulo Gadung. Ini artinya, para pengusaha dari Jakarta Pusat yang telah pindah ke tempat yang baru akan merugi dua kali. Pertama karena telah mengeluarkan modal untuk relokasi. Rugi kedua karena kehilangan konsumen. Kalaupun penampungan ayam di Pulo Gadung dipindah juga, namun jeda yang ada tentu akan sangat berdampak besar. Disamping itu, jika tidak diterapkan pada semua kalangan maka akan menimbulkan kecemburuan dan persaingan yang tidak sehat.

 

B. Pemotong Ayam

Sedikit berbeda dengan penampung, kelompok pemotong berpotensi memiliki kerugian lebih besar. Pemotong biasanya merangkap sebagai penjual di pasar, atau pengecer yang memotong sendiri untuk diolah menjadi makanan produk unggas. Contoh pengecer misalnya padagang mie ayam, soto, pemilik warung makan, dan pedangang-pedagang kecil lainnya. Seperti yang sudah disinggung dalam bagian sebelumnya bahwa pemotong berpotensi rugi pada beberapa poin berikut ini:

  1. Para pemotong atau pengecer ini akan memprotes karena harga ayam akan semakin mahal. Ini artinya mereka harus mengeluarkan modal tambahan. Namun perlu diingat bahwa sebagain besar kelompok ini adalah kelompok usaha kecil yang tidak memiliki modal besar dan rentan terhadap perubahan-perubahan.
  2. Kebiasaan menggunakan ayam hidup. Butuh penyesuaian untuk mengubah kebiasaan ini menjadi kebiasaan menggunakan ayam yang sudah dalam keadaan bersih/terpotong. Hal ini tentu membutuhkan waktu yang sulit untuk diprediksi, dan tentu akan menimbulkan resistensi.
  3. Hal penting lainnya adalah pengurangan jumlah tenaga kerja atau dengan kata lain kemungkinan besar terjadi pemecatan. Rata-rata satu pemotong yang ada di pasar memperkerjakan 10 buruh pada hari biasa, dan mencapai 20 buruh pada hari-hari tertentu. Jika ayam yang diterima sudah dalam keadaan bersih maka 10 buruh tersebut akan kehilangan pekerjaan. Hal ini akan terjadi pada ribuan pemotong yang tersebar di Jakarta yang berdampak pada 10 kali lipat dari jumlah pemotong tersebut.
  4. Terakhir menyangkut menajamen persediaan daging. Ayam akan dipotong sesuai dengan kebutuhan, dan jika belum butuh maka ayam akan dibiarkan tetap hidup. Namun jika para pengecer ini membeli ayam yang sudah terpotong dan ada sebagian yang tidak laku, maka para pengecer akan menanggung kerugian. Kalaupun bisa disimpan dalam lemari pendingin, ini membutuhkan modal tambahan.

 

C. Masyarakat Sekitar

Berkaitan dengan masyarakat sekitar kelompok penampung maupun sekitar kelompok pemotong adalah memiliki tidak memiliki hubungan positif. Tidak terjadi interaksi intesif antara masyarakat sekitar dengan kelompok penampung dan pemotong. Hal ini juga ditunjukan pada data bahwa masyarakat tidak memiliki pengalaman, baik pengalaman baik dan buruk.

Dari sisi ekonomi, masyarakat sekitar tidak mendapat keuntungan yang signifikan dari usaha penampungan atau pemotongan ayam yang ada di lingkungan mereka. Oleh karena itu, masyarakat sekitar tidak akan mendapatkan dampak yang besar ketika tempat usaha penampungan dan pemotongan ayam dipindahkan.

Kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit dari penampungan dan pemotongan ayam di lingkungan mereka cukup besar. Namun mereka tidak terlalu peduli juga akan hal ini, walaupun mereka tahu bahwa ada potensi penyakit yang terkandung dalam usaha ayam tersebut. Belum lagi menyangkut flu burung atau potensi pandemi flu lainnya, mereka mengganggap sebagai bukan sesuatu yang genting.

 

3 thoughts on “Masih tentang FB

  1. Kok disingkat dengan fb sih? Tapi ndak apa-apa, itu strategi menarik minat orang untuk membacanya. Hehe!

    Tentang flu burungnya sendiri, memang harus dibutuhkan rasa saling percaya dan pengertian antara ketiga pihak, yaitu pemerintah, pengusaha dan konsumen sendiri, bahwa flu burung adalah musuh bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s