Menanam Pohon

Iseng membuka-buka kompas.com yang akhirnya menemukan ini http://rafflesia.wwf.or.id/cfootprint/?l=en. Software semacam ini sudah banyak dikembangkan oleh berbagai pihak, tujuannya sama yaitu untuk mengukur berapa jumlah karbon yang digunakan dan berapa jumlah kompensasi yang harus diberikan untuk mengurangi karbon tersebut.

Dalam pengkuran itu, saya menghasilkan karbon 3,95 ton pertahun!!! Waawwww… banyak sekali!!! Software ini juga menyarankan untuk menanam setidaknya 12 pohon sebagai kompensasi terhadap karbon yang saya hasilkan. Ada beberapa hal yang ingin saya ungkapkan.

Pertama soal tampilan. Dari sekian software serupa yang pernah saya jumpai, yang tampak menyenangkan adalah yang ini (http://rafflesia.wwf.or.id/cfootprint/?l=en). Pilihan warna dan kemudahan penggunaan membuat orang seperti saya merasa cukup nyaman untuk mencoba. Biasanya sih, tampilan tidak terlalu diperhatikan di software yang lainnya. Tapi sekarang saya baru sadar kalo tampilannya menyenangkan membuat kita juga senang mencoba menggunakan software tersebut. (PS: saya Tahu soal ini dari dulu, tapi baru sekarang saya Paham akan hal ini🙂 hehehehehe).

Kedua soal bahasa. Tidak begitu rumit untuk mengisi kolom-kolom ini. Selain ada bahasa Indonesia dan Inggris yang memudahkan juga. Terus, setiap fiturnya juga berfungsi maksimal.

Terakhir soal berapa pohon yang harus ditanam untuk melakukan kompensasi. Rumah saya tidak memiliki halaman yang luas. Sangat kecil sekali, totalnya hanya sekitar 8 meter persegi. Selebihnya adalah bangunan. Saya sudah putus asa dengan hal ini. Memutar otak untuk mempertimbangkan mau menanam pohon apa.

Akhirnya saya nekat dan memilih pohon mangga untuk ditanam di belakang rumah, tepat diantara jemuran, tembok rumah, dan tembok tetangga. Maksa banget. Banyak orang juga berpendapat serupa. Banyak yang menanyakan, nanti kalo akarnya merusak rumah bagaimana? Saya jawab gampang saja, “kalo nanti merusak rumah ya ditebang saja. Terus tanam yang baru. Yang penting sekarang adalah Menanam!” hehehehehe🙂. Selain itu, saya langsung beli pohon mangga yang sudah besar yang tinggi kurang lebih 2 meter.

Nah, Halaman belakang sudah habis. Apalagi sekarang? Untungnya ada keponakan yang kuliah di pertanian. Langsung saja saya todong untuk praktek di rumah sendiri. Setalah semalaman melakukan provokasi dengan “mempresentasikan” tentang perumahan permaculture, maka diputuskan untuk menanam apa saja di dalam halaman yang tersisa.

Tidak mungkin lagi menanam pohon besar dalam rumah, jadi dipraktekanlah menanam tanaman dalam pot, atau sering disebut dengan Tabulampot (tanaman buah dalam pot). Ada 3 jenis klengkeng, 1 jeruk nipis dan 1 jeruk siam, 1 pohon srikaya, dan 1 pohon kedondong (tapi ini punyanya tia :p). Terus di lahan yang sempit itu pula, kami menanam sayur-sayuran; sawi, tomat, cabe, seledri, dll.

Tapi ini belum sebanding dengan kompensasi yang harus saya bayarkan yaitu sebanyak 12 pohon!😦
*harus putar otak lagi*

3 thoughts on “Menanam Pohon

  1. aku 9.26 ton!!!!
    dan harus menanam 28 pohon. ya ampun, kan aku baru punya 1 pohon mangga, 1 pohon kedondong, beberapa rumput gajah mini, 8 batang tanaman rambat yang masih berjuang untuk hidup, beberapa rumpun pisang bali, dan beberapa tanaman pot.
    trus… yang lain ditanam dimana dong??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s