Surat Untukmu, Kawan!

Akhirnya akhir tahun terlewatkan juga. Bukannya tidak mau meng-update blog tercinta ini, namun cercaan dari aktivitas yang sangat menyita waktu dan energi. Tapi sekarang sudah longgar, bahkan terlewat “longgar” membuat malas untuk bersibuk ria lagi, uuiiihhh..

Sudah sejak lama aku ingin menulis surat untuk teman yang ada jauh di sana, karena ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan. Maunya sih disampaikan langsung, namun tampaknya itu tidak mungkin.

Berawal dari diskusi tentang media-media di Indonesia, seorang anggota dewan pers datang sebagai pembicara. Di sela-sela istirahat kami berdiskusi tentang berbagai hal dan ada dua hal yang mengganjal di hati namun belum sempat tersampaikan karena waktu yang sangat terbatas dan posisi dia sebagai narasumber yang berarti diposisikan sebagai ahli di bidangnya. Sehingga pada waktu itu sulit untuk mengungkapkan bantahan.

Hal pertama tentang pertanyaan saya “apakah infotainment dapat dikategorikan sebagai berita?”. Beliau menjawab dengan tegas “jelas iya!”. Alasan disampaikan dengan menggunakan analogi motor. Begini katanya, “jika ada sebuah motor, kemudian roda-rodanya dipreteli dan diganti dengan roda kecil atau besar, atau bagian-bagian lain yang diganti, itu tetap saja disebut dengan motor”. “Begitu pula dengan berita. Infotainment adalah berita yang dimodifikasi sedemikian rupa. Namun tetap saja itu namanya berita!”.

Saat itu, saya ingin membantah tidak setuju namun karena berbagai hal itu tidak bisa saya lakukan. Saya tidak sependapat dengan analogi itu. Begini, masih menggunakan analogi motor. Jika roda-roda motor dimodifikasi dan pada kasus ini, modifikasinya berlebihan sampai memiliki tiga roda maka tidak bisa disebut dengan motor lagi. Tapi itu adalah Bemo! hehehehe…

Lupakan dulu analogi itu, karena akan memancing perdebatan yang tidak berkesudahan🙂. Mending soal substansi saja. Saya tidak setuju jika infotainment dikategorikan sebagai berita. Dalam pembuatan berita ada beberapa prinsip dasar yang harus dipenuhi. Infotainment tidak bisa memenuhi prinsip pembuatan berita yaitu Keseimbangan.

Dalam prinsip keseimbangan ada 6 hal yang harus diperhatikan (saya ambil rujukan dari massofa.wordpress.com), yaitu: tampilkan fakta dari masalah pokok, jangan memuat informasi yang tidak relevan, jangan menyesatkan atau menipu khalayak, jangan memasukkan emosi atau pendapat ke dalam berita tetapi ditulis seakan-akan sebagai fakta, tampilkan semua sudut pandang yang relevan dari masalah yang diberitakan, dan jangan gunakan pendapat editorial.

Coba kita bandingkan satu persatu prinsip-prinsip tersebut dengan infotainment. Misalnya ada dua orang artis sedang keluar ke mall untuk belanja kemudian tertangkap kamera. Sontak saja itu menjadi berita di infotainment dengan menyampaikan pada khalayak bahwa dua artis tersebut telah berpacaran. Kemudian si pembawa acara pada umumnya mengatakan atau dengan sengaja menggiring opini yang menyatakan bahwa dua artis tersebut berpacaran.

Selain itu, coba perhatikan dengan baik-baik. Si pembawa acara maupun pembaca berita seringkali memasukan pendapat editorial dan membuat opini yang sensasional untuk semakin memanaskan suasana. Apalagi kalo si artis tidak mau diwawancarai, maka si pembawa acara, pembaca berita, dan wartawan akan condong menggunakan emosi. Coba perhatikan saja. Seringkali kita jumpai kalimat dari pembawa acara seperti ini “iihhh… artis ini koq gitu sih..”, “denger-denger dia itu anu lho booo'”, “emang si artis ini sukanya …”, dst. Ada jutaan kalimat lainnya yang menunjukan bahwa infotainment tidak bisa memegang prinsip keseimbangan.

Oleh sebab itu, saya dengan tegas menyatakan bahwa infotainment bukanlah bagian dari berita!

Soal kedua adalah soal Poligami. Nah, sambil bercanda beliau mengatakan bahwa pria memang bisa untuk poligami. Dia mengatakan bahwa hampir semua makhluk hidup di bumi ini diciptakan tidak seimbang antara jumlah pria dan perempuannya atau jantan dan betina. Perempuan dan betina selalu lebih banyak dibanding pria atau pejantan. Maka tidak salah jika poligami itu dilakukan. Entah ini cuma becanda atau serius. Tapi bagi saya hal ini perlu diluruskan.

Saya tidak sepakat poligami atas dasar kenyataan yang ada, dimana jumlah perempuan atau betina lebih banyak di dunia ini. Jika setiap pria mengklaim dirinya berhak melakukan poligami maka lingkaran setan tidak akan terputus. Seorang pria akan menikahi 4 perempuan maka dia akan berpeluang melahirkan lebih banyak anak. Yang artinya, jumlah perempuan yang lahir lebih banyak lagi. Ini artinya, poligami akan terus mencetak perempuan-perempuan dengan jumlah yang semakin banyak dalam setiap perkawinan sehingga tidak akan pernah putus lingkaran setan tersebut, dengan kata lain semakin banyak ada wanita yang harus dikawini. Ini gila! Seharusnya cukup satu perempuan dengan jumlah anak yang sudah direncakan, sehingga lingkaran setan yang saya maksud di sini bisa terkikis sedikit demi sedikit.

Hal mendasar kedua yang membuat saya tidak setuju dengan poligami adalah Overpopulasi. Jumlah penduduk dunia sudah saanggattt banyak! Jumlahnya sudah melebihi daya tampung dari ibu pertiwi kita ini. Buktinya sangat jelas, eksploitasi terhadap bumi dilakukan semakin besar seiring bertambahnya jumlah manusia yang menghuni bumi ini. Kerusakan alam semakin menjadi-jadi hanya untuk memberi makan mulut-mulut yang setiap detik lahir di bumi ini. Hal ini sangat berpotensi lebih parah jika poligami terjadi. Bumi dan lingkungan akan semakin rusak dan ini berarti kita sedang menggali kuburan kita sendiri.

Hal ketiga adalah poligami hanya semakin membuat perempuan menjadi makhluk nomer dua atau hanya menjadi obyek saja. Omong kosong jika dikatakan bahwa dalam poligami perempuan punya suara untuk memilih. Itu semu! Dan masih banyak alasan lain, namun 3 alasan ini yang saya pikir relevan untuk balasan argumen pada kawan yang jauh di sana.

Suatu saat, semoga kau membaca tulisan yang kutujukan padamu ini, kawan..

4 thoughts on “Surat Untukmu, Kawan!

  1. tidak emosi, tapi meledak-ledak dan membara😀😀. hehehhe
    emang kamu setuju poligami? koq pertanyaannya seperti itu.. :p

  2. hahahahaha…. mimpi kali ya, poligami disetujui.
    tapi itu kan pilihan juga, kalau ada orang (baca: perempuan) yang setuju dan memilih dengan sadar untuk bersedia hidup berpoligami dengan meyadari 100% segala resikonya secara material dan spiritual, ya monggo. toh kalau aku sendiri punya pilihan yang kuambil dengan sadar, juga gak mau orang lain ikut2an rewel… ya tho..?

    kembali kalimat yang dikutip dari mbak wati prima:
    “perempuan boleh hancur hatinya, tapi jangan sampai hancur dompetnya alias miskin” hehehehe… money is power :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s