Kapitalisme!!

Teringat masa kecil dulu, bebas dan lepas kalo mau bermain bola. Tidak ada yang melarang, kapanpun, dimanapun, dan jam berapapun. Teringat juga kalo masa itu banyak lahan-lahan kosong yang bisa dengan bebas digunakan untuk bermain bola dan bermain permainan yang lain.

Saya cukup tersentak ketika tahun lalu diajak main futsal bersama teman. Apa yang ada dalam imaji saya dalam permainan sepakbola, kandas sudah. Yang dulu merasa bebas dan lepas, sekarang terasa mekanis. Waktu kedatangan harus on-time dan selesainya juga dibatasi. Dengan waktu 1 atau 2 jam seolah kita dikejar-kejar untuk bermain padat selama jam yang sudah ditentukan itu. Rasanya ada kalimat yang menghantui, “hayo… hayo… cepat main, sebentar lagi waktunya habis!”.

Di awal kuliah dulu, ketika belajar sejarah dari mbah marx, dia bilang salah satu ciri dari kapitalisme adalah komodifikasi. Kata ini pernah menjadi kata kunci dalam semua diskusi, dan terasa begitu bergelora dan membara ketika mengatakan “komodifikasi telah terjadi pada semua lini kehidupan! kapitalisme telah membuat hidup kita bla… bla…”. Secara kognitif saya cukup paham dengan alur logika ini. Namun secara emosional baru saya rasakan setelah bertahun-tahun kemudian.

Secara emosional karena apa yang terjadi pada lapangan bermain saya waktu kecil telah direnggut dan menjadi komoditas yang sangat menjajikan saat ini. Imaji yang indah itu, mengenai kebebasan dan tanpa perasaan yang dikepung-kepung telah lenyap. Lapangan yang berasal dari kata “Lapang”, tempat dimana mata bisa menyapu luas ke segala arah, tempat bisa menarik napas panjang dan segar, dan tempat dimana kita bisa berteriak-teriak sepuasnya tampaknya tidak bisa digantikan oleh lapangan futsal yang tersekat-sekat seperti kandang ayam🙂.

Di lapangan bola yang bebas itu biasanya tempat mendapat teman-teman baru. Orang-orang bisa dengan santai bergabung dalam permainan yang ada, dan berkenalan dengan nyaman. Tapi saat ini saya kurang merasakannya, karena semua yang datang ke lapangan futsal telah terblok-blok sesuai dengan kelompok masing-masing. Masing-masing kelompok jarang bisa berinteraksi, kecuali saat pertandingan antar kelompok. Interaksinya pun lebih bersifat basa-basi.

Tapi memang, harus diakui juga bahwa futsal menjadi solusi bagi orang-orang perkotaan yang sudah tidak memiliki tanah lapang lagi. Futsal telah menjadi alternatif untuk orang-orang kota yang sedikit memiliki waktu luang dan tidak ada tanah lapang untuk bermain bola. Dan saya harus akui juga, bahwa saya juga harus menikmati apa yang ada ini.

Anehnya, di beberapa perdesaan yang masih memiliki banyak sekali tanah lapang dan tidak terlibat banyak dalam kehidupan industri juga tidak luput dari gelombang futsal. Weh..? *_*

2 thoughts on “Kapitalisme!!

  1. mmm… aku gak bisa maen bola sepak, dan kayaknya juga gak pengen maen bola sepak. tapi aku suka lapangan yang luaaaaaaaaaaaasss…. karena biasanya deket sawah, jadi udaranya sejuk silir silir terus kalo pas matahari terbenam bagus banget langitnya.
    masak sekarang kalo mau cari tempat lapang dan udara silir-silir harus mempertaruhkan nyawa ke ujung runway bandara? hehehehe…. udah kangen liat pecawat lagi, di blora gak ada sih :p

  2. iya… satu-satunya tempat lapang di jogja adalah bandara!😀.
    kalo GSP itu adalah pilihan terakhir :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s