… Yang Ada Hanya Kepentingan Abadi!

Seperti biasanya, ketika ada materi pertemuan tentang analisis sosial dan atau pemetaan siapa lawan dan kawan, saya biasanya menggunakan metode yang biasa saya lakukan. Metode yang biasa ini mengkur kekuatan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing pihak. Pengukuran ini menggunakan grafik dan diagram Venn. Dari metode ini bisa dilihat siapa kawan strategis, siapa lawan strategis, lawan taktis, teman taktis, kekuatan masing-masing kawan dan lawan, dimana medan pertempurannya, dan apa yang diperebutkan.

Metode yang biasa saya gunakan ini memiliki kelebihan yaitu dengan mudah kita memfokuskan diri pada apa yang diperebutkan, siapa lawan dan kawan, dan dimana medan pertempurannya. Namun saat pertemuan di Cirebon kemaren saya belajar menggunakan metode yang lain, yang kali ini saya pikir lebih akurat namun lebih ribet dalam pengerjaannya.

Metode yang baru saya pelajari dari seorang kawan baik adalah metode analisis sosial CLIP. CLIP kependekan dari Collaboration, Conflict, Legitimacy, Interest, and Power. Saya secara pribadi lebih menyukai metode ini karena lebih kuat memetakan kenyataan yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Mungkin bagi banyak kalangan, metode ini sudah biasa. Namun dalam mesin pencari, saya belum menemukan yang membahas secara khusus metode ini. Banyak diulas dalam bahasa inggris saja.

Bagi saya, yang menarik adalah soal basis analisisnya yang mendasarkan pada Interest/Kepentingan. Semua pihak yang ada dalam analisis diukur dari kepentingan apa yang dia miliki, dan seberapa besar kepentingan tersebut. Hal ini menyadarkan saya bahwa metode ini realistis dalam mengakomodir prinsip Tidak Ada Kawan Sejati, Yang Ada Hanya Kepentingan Abadi.

Setelah kepentingannya dilihat dan diukur, kemudian baru dilihat kekuatan apa yang dimiliki dan seberapa besar. Setelah itu dilihat apakah dia memiliki Legitimasi atau tidak.

Bagi saya, kekuatan kedua yang dimiliki oleh metode ini adalah cara pandang terhadap penyelesaian masalah. Konflik bisa diciptakan atau diredakan melalui pemetaan aktor sosial ini. Koloborasi juga bisa diciptakan atau dihancurkan. Ini tergantung dari sudut pandang kita sebagai pemakai dalam menyelesaikan masalah. Jika dianggap memunculkan konflik bisa menyelesaikan masalah, maka siapa yang kita dekati dan perlakuan apa yang diberikan bisa didasarkan pada metode ini.

Sudut pandang dalam menyelesaikan masalah ini bisa memanfaatkan Power, Legitimacy, dan Interest yang dimiliki masing-masing pihak. Jika salah satu pihak adalah memiliki kategori dominan dimana memiliki power, interest, legitimacy, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah pihak ini penghambat atau tidak? Jika penghambat, kita harus memetakan siapa calon ‘lawan tanding’ dari pihak dominan ini.

Misalnya kita bisa gunakan untuk pihak yang baru memiliki power dan interest saja. Pihak ini kita suntikan legitimacy padanya untuk menjadi dominan dan menjadi lawan tanding dari pihak dominan pertama. Tentunya dengan agenda setting yang sudah kita rancang sebelumnya untuk peta konflik yang akan terjadi.

Sekali lagi, analisis ini mengingatkan saya tentang tulisan Effendi Gazali dengan judul ‘Permainan Macam Apa Ini?’ yang dimuat di kompas.com. Ternyata orang-orang besar dibalik layar bisa jadi menggunakan metode semacam ini untuk mengaduk-aduk kita semua, Bangsa Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s