Kekuatan Berpikir

Kekuatan berpikir atau kemampuan berpikir ya? Bedanya apa? Gak penting lah memperdebatkan istilah.

Dulu saya sempat membuat diskusi di kampus, temanya saya lupa. Diskusi ini dibuat oleh Sintesa, pers mahasiswa di Fisipol UGM. Salah satu pembicaranya adalah alumnus dari Sintesa juga, beliau saat itu bekerja di Jakarta namun ditodong menjadi pembicara di Jogja.

Singkat cerita, si moderator memuji pembicara dengan kalimat seperti ini “walaupun sudah bekerja dan sangat sibuk, namun beliau masih sempat membaca buku-buku (yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Buku-buku filsafat, politik, dan sosial ekonomi)”. Pada saat itu saya ‘mencomooh’, ah.. pujian itu berlebihan, karena siapapun pasti bisa melakukannya. Saya masih ingat sampai sekarang karena ini adalah momen di mana saya menyangkal pujian tersebut.

Pada saat itu, saya termasuk orang yang rajin membaca buku. Hehehehe… memuji diri sendiri yang sebenarnya tidak berguna :p. Dalam seminggu saya harus membaca satu buku sampai habis dan paham. Artinya setiap minggu saya harus membeli atau mengkopi buku baru untuk saya baca. Untunglah uang saku bulanan dari kakak saya sangat cukup untuk membeli dan mengkopi buku setiap minggu.

Intensitas membaca buku yang tinggi ternyata sangat berdampak pada saya secara pribadi. Tidak terbayangkan sewaktu SMA yang kerjaannya cuma nongkrong dengan prestasi yang pas-pasan bisa cukup melejit saat kuliah (heleh… berlebihan lagi :p). Membaca buku pada saat itu sangat menyenangkan dan ketagihan. Di dalam tas selalu ada buku yang saya bawa dan selalu dibaca setiap ada kesempatan. Kalo ketemu temen pasti pertanyaan pertamanya adalah “baca buku apa sekarang?”, setelah itu diskusi pun dimulai. Walaupun sebenarnya kegiatan nongkrong dan menghabiskan waktu dengan cuma-cuma juga sering dilakukan pada saat itu :p.

Namun saat ini saya harus bertekuk lutut, dan harus mengakui bahwa penyangkalan saya, atau arogansi saya, tentang pada masa bekerja susah untuk membaca buku adalah benar adanya. Buku bacaanya saya sekarang paling mentok yang berkaitan dengan pekerjaan, dan membaca buku menjadi sangat lama sekali. Oya.. sebagai contoh saya membaca novel Paulo Coelho ‘The Fifth Mountain’ selama berbulan-bulan. Wuih…. gila.

Untuk buku yang non fiksi, akan memakan waktu yang lebih lama. Bahkan seringkali saat membaca malah menjadi ngantuk dan tertidur. Ini salah satu indikasi bahwa otak mulai letih dan secara otomatis memerintahkan tubuh kita berhenti dan tidur.

Aktivitas pada masa bekerja ternyata memakan energi yang cukup besar. Pertama, membutuhkan konsentrasi tinggi sepanjang hari untuk mengerjakan tugas-tugas kantor. Kedua, secara fisik ternyata juga melelahkan duduk di depan komputer sepanjang hari, atau harus keliling saat terjun ke lapangan. Ketiga, kita butuh waktu untuk bersosialisasi atau mengerjakan hal lain selain tugas kantor dan ini membutuhkan waktu yang banyak sehingga waktu membaca pun terkurangi. Keempat, silakan cari alasan sendiri jika setuju dengan keadaan saat bekerja seperti ini.

Kemudian saya berpikir, apakah kekuatan dan atau kemampuan berpikir kita menurun pada masa bekerja? Atau sebenarnya tidak menurun namun berganti pada fokus yang lain. Atau mungkin juga faktor usia berpengaruh besar. Emh.. silakan renungkan sendiri🙂

4 thoughts on “Kekuatan Berpikir

  1. aku sudah menyelesaikan buku terakhirku, bahkan sudah kudongengkan ke kamu di pagi hari. Sekarang bersiap untuk buku dan pengetahuan baru lagi🙂

  2. aku sekarang sedang gemar membaca buku2 lawasku. Buku yang kubaca 5 – 8 tahun lalu. Membaca kembali semakin menajamkan ingatan🙂, dan semakin irit juga karena gak harus beli😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s