Konflik Etnis dan Radio Komunitas

Rama, sekilas ketika mendengar nama ini pikiran kita langsung tertuju pada seorang tokoh pewayangan di kisah Ramayana. Seorang pangeran yang berjuang untuk merebut kembali istri tercintanya yang diculik oleh Raja Alengka, Rahwana. Tapi tunggu dulu, ini bukan akan menceritakan cerita wayang atau semacamnya.

Rama juga merupakan radio komunitas yang ada di Pontianak. Lokasinya hanya lima menit dari Tugu Khatuliswa atau sekitar tujuh menit dari pusat kota Pontianak. Nama Rama merupakan kependekan dari Radio Masyarakat Adat. Dalam bahasa Dayak Kanayant, Rama artinya rindang atau teduh. Radio Komunitas Rama berharap bisa menjadi peneduh bagi banyak orang dari berbagai etnis.

Kalimantan Barat memiliki sejarah konflik antar etnis yang berkepanjangan, bahkan sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Konflik etnis ini terjadi berulang-ulang, dan terakhir meledak sekitar tahun 2002-2003. “Konflik yang terjadi di Kalimantan Barat seringkali berdampak ke daerah dimana Radio Komunitas Rama berdiri. Ini dikarenakan di wilayah sekitar Radio Komunitas Rama terdapat suku Dayak, Madura, Tionghoa, dan Melayu” Kata Penanggungjawab Harian atau Kepala Studio Radio Komunitas Rama, Eva Caroline.

Radio Komunitas Rama launching pertama kali bulan Desember 2004. Ide pembangunan radio komunitas ini sudah dimulai jauh sebelum tahun 2004, yang diawali dengan membentuk perkumpulan media untuk komunitas masyarakat adat. Namun proses pendirian tidak semudah yang diharapkan. Dari proses diskusi dan negosiasi panjang dengan banyak pihak, ahirnya Radio Komunitas Rama berdiri. Dimana sebelumnya, media yang bertujuan untuk rekonsiliasi konflik ini sempat dicurigai sebagai radio provokator, sehingga sempat didemonstrasi pada tahun 2003 dan sempat pula diserbu oleh suku Dayak yang berhaluan keras yang datang menggunaka truk-truk dan bus. Selain itu, masih banyak rangkain teror untuk menggagalkan berdirinya media, khususnya dari kelompok-kelompok yang tidak mau terbuka dengan etnis-etnis lainnya yang berbeda.

Radio Komunitas Rama sejak berdiri sampai sekarang secara konsisten memelihara perdamaian dan kerukunan antar etnis dengan aktivitas yang dilakukan baik onair atau offair. Program onair yang dilakukan oleh Radio Komunitas Rama, pertama, menyiarkan lagu-lagu daerah seperti lagu daerah Dayak, Madura, Melayu, Batak, dan Jawa. Terkesan sederhana memang, namun terdapat tujuan dalam di balik penyiaran lagu-lagu ini yaitu membuka budaya-budaya daerah yang tercermin dalam lagu untuk diapresiasi antar etnis. Ruang terbuka ini memberikan akses pada para pendengar untuk saling memahami dan mengenali budaya daerah-daerah lainnya. “Saat ini banyak orang Madura yang meminta lagu daerah Dayak untuk diputarkan, begitu pula sebaliknya. Mereka bisa mulai memahami budaya etnis lain  melalui lagu dan menjadi lebih bersikap terbuka terhadap perbedaan” ungkap Eva, nama panggilan akrab dari ketua/koodinator/direktur Radio Komunitas Rama.

Program onair kedua adalah Pisara (Pinta Aktivis Rama) adalah program berkirim-kiriman salam antar pendengar. Selain konsisten dengan menyiarkan lagu-lagu daerah dan tidak menyiarkan lagu-lagu pop, Radio Komunitas Rama juga membuka ruang dialog sederhana antar etnis melalui kirim-kiriman salam atau request lagu. “Program kirim-kiriman salam ini ternyata efektif untuk lebih membuka diri pada semua etnis, semua orang bisa lebih saling kenal. Bahkan dua orang pendengar setia kami yang berasal dari etnis Madura dan Dayak memutuskan untuk menikah setelah berkenalan dari program ini” tambah Eva sambil tertawa lepas mengingat kejadian itu.

Program onair lainnya adalah, pertama, Gong Masyarakat Adat adalah program untuk menyampaikan informasi seperti pengalaman, opini, kasus, cerita masyarakat adat, dan lainnya. Kedua, Kerabat Rama adalah program untuk menginformasikan keragaman dan keunikan dari semua etnik yang ada. Ketiga, Suara Perempuan, sebuah program khusus membicarakan tentan perempuan. Keempat, Damain Alam adalah program untuk membicarakan alam dan manajemen yang dilakukan oleh masyarakat adat. Terakhir adalah Kerabat CU yang merupakan program pengembangan sosial ekonomi melalui credit union.

Program offair yang dilakukan oleh Radio Komunitas Rama adalah Jumara (Jumpa Akrab Aktivis Rama) yang merupakan temu akrab pendengar. Dalam temu pendengar ini tentu tidak dihadiri oleh satu etnis saja, tapi multietnis. “Melalui temu pendengar kita sebenarnya menguatkan ruang dialog yang sudah terbangun melalui radio. Setiap pertemuan kita membicarakan hal-hal keseharian para pendengar. Seringkali dari pertemuan ini mengubah atau menyempurnakan program atau kegiatan yang kita lakukan di Rama” kata Kenedytian, wakil penanggungjawab harian Radio Komunitas Rama.

Radio Komunitas Rama memiliki impian besar bahwa masyarakat bisa hidup dengan damai dan tidak ada permusuhan atau dendam yang tertinggal, dan masyarakat adat punya ruang untuk bersuara.

(disarikan dari obrolan saat kunjungan ke Radio Rama)

2 thoughts on “Konflik Etnis dan Radio Komunitas

  1. Saya rasa yang seperti inilah yang diperlukan di tanah yang panas, sebuah peneduh, karena sedikit panas berlebih, api bisa memercik dan menghanguskan semuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s