Jangan Pakai Amplop..! (bagian-1)

Apakah anda pernah mengambil uang di ATM? apapun jenis bank-nya, saya pikir kita akan mengalami hal yang sama.

Di beberapa lokasi ATM, khususnya yang lokasinya tidak menjadi satu dengan kantor bank, maka sering kita temui mas atau mbak yang berpakaian rapi dan siap menyodorkan amplop. Biasanya kalau pria akan menggunakan kemeja dan celana kain, dan sepatu, bahkan ada yang menggunakan baju koko. Kalau yang perempuan biasanya menggunakan jilbab. Intinya agar terlihat rapi dan ber-“iman”.

Dalam amplop yang diberikan, hampir sebagian besar amplop berukuran sedang yang digunakan, hampir selalu kita temui hal-hal berikut:
1. Nama panti asuhan atau nama yayasan sosial
2. Alamat panti asuhan atau nama yayasan sosial
3. Foto-foto kegiatan; biasanya foto anak-anak bermain dengan baju rapi dan seringkali menggunakan jilbab atau baju koko.
4. Profil singkat dari yayasan tersebut dan aktivitasnya
5. Dan yang selalu pasti adalah ayat-ayat suci yang membuat kita seolah menjadi orang baik jika sudah mengisi amplop ini🙂

Tapi dari pengamatan saya, minimal dari pengalaman saya, tidak ada satu orang pun yang memperhatikan dengan seksama informasi apa yang ada amplop itu. Biasanya dalam sekali lihat kemudian langsung menyimpulkan “oh.. ini sumbangan.”, dan kemudian kalau sedang bermurah maka uang pun dimasukan ke dalam amplop. Atau bagi yang membaca detail informasi dalam amplop biasanya sedang menunggu sesuatu atau sedang tidak ada kerjaan. hehehe

Bagi saya, bukan soal menyumbang atau tidak.. tetapi persoalan utamanya adalah cara atau metode. Hubungan antara penyumbang dan yang meminta sumbangan menjadi tidak enak. Malahan dengan cara amplop ini banyak yang curiga, apakah ini benar-benar untuk aktivitas sosial atau cara baru untuk mengemis? Saya sendiri belum pernah mengecek apakah yayasan sosial atau panti asuhan itu benar ada atau fiktif.

Terlepas soal benar atau tidaknya, mari kita bicarakan soal cara atau metode pengumpulan sumbangan.

Sumbangan terbesar biasanya mengalir pada isu keagamaan, kemudian terbesar kedua ada pada isu lingkungan. Ini khususnya untuk Indonesia. Para penyumbang dengan senang hati merelakan uangnya jika alasannya agama, lihat saja misalnya Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa. Orang juga rela menyumbang untuk isu lingkungan, lihat saja WWF, Green Peace, Walhi, dan lainnya. Sedangkan isu-isu lainnya seperti isu sosial dan budaya lainnya jarang orang rela ikut menyumbang.

Sebagian kecil dari strategi menggunakan baju koko dan jilbab serta berpenampilan rapi, kemudian ada tambahan ayat-ayat suci pada amplop adalah untuk mendampatkan empati dari banyak orang. Ini sejalan dengan logika bahwa isu keagamaan mampu menarik sumbangan besar.

Tapi pertanyaannya apakah harus amplop? Melalui amplop atau kardus biasanya lebih banyak mendapat cercaannya dibanding sumbangannya. Uang yang dikumpulkan juga uang receh yang tidak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan dan mulut-mulut yang menunggu untuk diberi makan.

Cara pengumpulan sumbangan dengan amplop hanya akan membawa kita pada segmen penyumpang yang berkantong “tipis” (bukan berarti miskin, tapi mereka malas ikut menyumbang).

*bersambung..

One thought on “Jangan Pakai Amplop..! (bagian-1)

  1. Kalau di Jogja ada himbauan memberikan sumbangan langsung ke departemen. lembaga atau organisasi terkait, misalnya Rumah Zakat, sehingga dana yang disalurkan diharapkan lebih tepat sasaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s