Perubahan Sosial yang Tidak Berubah

Saya bukan orang lama di dunia LSM. Ketika post ini saya tulis, saya baru menapak 7 tahun bergelut dengan aktif di dunia LSM. Emh.. mungkin saya tidak akan menggunakan kata LSM, tapi akan saya ganti dengan dunia Perubahan Sosial. Nah ini lebih tepat🙂. Karena perhatiannya bukan pada institusi LSM, melainkan sebagai sebuah gerakan perubahan sosial, sehingga aktornya menjadi beragam misalnya ormas, pemerintah, gerakan mahasiswa, perusahaan melalui CSR-nya, akademisi, dan yang lainnya.

Ada dua hal yang merisaukan saya dalam dunian perubahan sosial ini — sebenarnya ada lebih tapi kita fokus pada dua hal ini dulu saja. Dua hal ini mencuat dan ingin saya tuliskan di sini setelah berdiskusi tanpa henti selama dua hari bersama 7 orang teman. Btw, disksusi lebih melelahkan dibanding menyangkul. Serius lho.. Kalo menyangkul di sawah 2 hari, paling dibawa tidur akan segar lagi atau hanya pegal-pegal otot saja :p.

Langsung ke poin pertama. Dunia perubahan sosial khususnya di Indonesia terbiasa dengan logika berpikir “menegakkan benang basah”. Kebayang kan betapa mustahilnya menegakkan benang yang basah? Yup, ini fakta yang terjadi di dunia perubahan sosial, walaupun tidak semuanya demikian. Tapi sejauh yang saya temui beginilah adanya.

Masyarakat yang disasar kadang adalah benang basah. Mari kita cek logika ini dengan cara sederhana, yaitu melihat kembali kosakata yang sering digunakan dalam dunia perubahan sosial. Kosakata ini misalnya: mendorong perubahan sosial, mengorganisir masyarakat, membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan masih banyak yang lainnya.

Kata-kata (kalimat) itu adalah bersifat aktif, di mana para pegiat perubahan sosial berada di belakang masyarakat dan memberikan sokongan. Tapi apa yang terjadi? Emh.. susah untuk dinilai. Tapi bagi saya ukurannya gampang, berapa uang dan waktu yang sudah dihabiskan dan apa hasilnya. Hasilnya minim, walaupun ada yang berhasil tapi tetap saja jumlahnya minim jika diambil secara umum. Ini logika menegakkan benang basah dimana kita bersusah payah menyokong dan mendorong benang basah tersebut agar bisa mandiri.

Masyarakat dianalogikan benang basah karena sering kita jumpai bahwa masyarakat juga bebal. Malas dan enggan untuk berubah dan berusaha. Ya.. walaupun sekali lagi tidak bisa digeneralisasi, tapi secara motivasi dan perilaku untuk menciptakan perubahan sosial masih minim dimiliki oleh masyarakat. Ini yang saya sebut sebagai bebal.

Jika benar masyarakat merupakan benang basah, kenapa harus didorong atau disokong? Logika yang keliru. Seharusnya benang basah itu ditarik, bukan didorong. Bandingkan saja pembangunan perubahan sosial dengan pembagunan bisnis, dan masing-masing memiliki jumlah modal yang sama dan sumberdaya yang sama. Yang berbeda selain soal bidangnya adalah Cara kerjanya. Saya yakin pembangunan bisnis yang lebih cepat dan mendapatkan hasil (terlepas soal kapitalisme dan tetek bengeknya ya..). Bagi para pegiat perubahan sosial, hayo ngaku… (jangan menggunakan pendekatan proses ya.. karena diskusinya akan menjadi berhenti dan jangan-jangan itu cuma apologi saja atas kegagalan yang diperoleh. “yang penting kan prosesnya”, hah?! terlalu sederhana jika ditutup dengan kalimat ini).

Bagaimana kalau logikanya yang diganti saja? Bukan menegakkan benang basah, tapi Menarik Benang Basah. Jika menggunakan logika menarik benang basah, maka konsekuensinya kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan berubah total. Para pegiat perubahan sosial tidak lagi melayani masyarakat, tapi menciptakan kondisi dimana masyarakat akan “ketarik” dalam kondisi tersebut. Pada situasi inilah perubahan sosial itu terjadi dengan maksimal.

Contoh yang bisa dipakai untuk ilustrasi logika menarik benang basah ini misalnya dalam usaha ekonomi kecil di sektor pertanian singkong. Jika mengunakan logika meneggakan benang basah, maka aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan adalah memberikan peningkatan keterampilan bagi petani singkong, memberikan bantuan modal-bibit-pupuk-dll, mempromosikan makanan hasil olahan singkong, mempertemukan petani dengan pabrik pengolah singkong, dan masih banyak serupa lainnya.

Sekarang coba kita bandingkan dengan logika menarik benang basah. Kegiatan yang akan dilakukan dalam logika kedua ini yaitu menciptakan pasar yang membutuhkan singkong dalam jumlah yang banyak dan kualitas yang bagus. Jika kita berhasil menciptakan pasar yang memiliki kebutuhan tinggi, maka para petani singkong tanpa didorong pun akan bergeliat dengan sendirinya. Berusaha semaksimal mungkin. Para petani akan belajar mati-matian tentang cara tanam singkong, tanpa harus disuruh-suruh dan dikumpulkan di balai desa seperti yang dilakukan penyuluh lapangan seperti biasanya.

Nah yang perlu dilakukan oleh para pegiat perubahan sosial adalah FOKUS pada penciptaan pasar itu. Yang perlu diatur secara hati-hati adalah pasar yang tercipta bisa berlaku adil bagi semua pihak. Tidak ada yang dirugikan.

Pada konteks ini masyarakat tidak lagi bebal atau tidak lagi menjadi benang basah. Melainkan, masyarakat adalah bentuk organik yang berkembang dengan sendirinya dengan cepat pada kondisi yang nyaman untuk tumbuh.

Hal kedua yang meresahkan dalam dunia perubahan sosial adalah soal pendekatannya. Para pegiat perubahan sosial terbiasa dengan istilah “demokrasi dan partisipatif” di mana setiap orang berhak dan berkwewajiban menyatakan pendapatnya. Di sinilah titik kritisnya. Tidak semua orang bisa menyatakan pendapat dengan baik.

Ilustrasinya, dalam sebuah kampung yang terdiri dari 500 jiwa hanya ada 3 orang yang “mahir” berbicara di depan umum. Pertama kepala kampung, kedua tokoh masyarakat, dan ketiga agamawan. Pada suatu hari datanglah 2 orang pendamping lapangan dari sebuah institusi perubahan sosial. Mereka berniat memajukan perekonomian masyarakat lokal melalui potensi yang sudah mereka miliki.

Apa yang dilakukan 2 orang pendamping lapangan tersebut? Mereka membuat pertemuan di balai kampung dengan mengundang semua penduduk kampung. Pada pertemuan tersebut semua orang dimintai pendapatnya oleh 2 orang pendamping lapangan ini. Macam-macam metode yang digunakan untuk memancing semua orang berbicara, misalnya dengan metode menulis di metaplan, diskusi kelompok, manajemen forum, permainan, dan lainnya.

Secara fisik memang semuanya bersuara, baik dengan media atau berbicara langsung. Tapi apakah substansi pembicaraan berjalan seirama dengan jumlah orang yang berbicara? Biasanya forum akan dikuasai oleh orang-orang yang memiliki keahlian berbicara di depan publik. Arah pembicaraan, sengaja maupun tidak, akan diarahkan oleh para jago ngomong ini.

Selain itu, ada pendekatan yang tidak tepat. Mau memberdayakan ekonomi kecil koq melalui diskusi.. ya jelas tidak tepat. Ketika kita mengundang orang untuk berdiskusi, yang datang pasti orang-orang yang gemar berdiskusi, dan belum tentu orang-orang yang giat bekerja juga ikut datang. Artinya undangan diskusi merupakan filter yang kita buat dimana mengundang orang yang pandai berbicara untuk datang namun tidak mengundang orang yang giat bekerja untuk datang. Sehingga orang-orang kunci yang kita peroleh adalah orang-orang yang pintar berbicara, bukan yang pegiat usaha langsung.

Sekali lagi kesimpulan ini diperoleh dari diskusi selama 2 hari itu, sekaligus hasil refleksi atas apa yang sudah kita lakukan selama bertahun-tahun.

Kalau kita mau memberdayakan ekonomi riil maka undanglah orang-orang dengan pendekatan aktivitas ekonomi riil. Bukan melalui diskusi. Misalnya kita membuat demplot atau percontohan di kampung tersebut, sehingga orang-orang yang berkunjung adalah orang-orang yang benar-benar ingin belajar dan bekerja, atau bukan orang yang pintar ngomong saja.

Kelemahannya memang, waktu yang dibutuhkan cukup lama untuk membangun demplot atau percontohan. Namun jika ini jadi, dan kita mampu menularkan pada orang-orang yang ingin belajar dan bekerja maka hasil pemberdayaan yang kita peroleh juga maksimal. Selain itu, demplot atau percontohan juga menguji kemampuan kita. Apakah kita benar-benar mampu mengusung ide dan teori yang kita bawa ke dunia nyata, atau para pegiat perubahan sosial hanya bisa berteori dan beride saja? hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s